Pekerjaan yang Paling Ideal: Ibu Rumah Tangga

Info

pekerjaan-yang-paling-ideal-ibu-rumah-tangga

Oleh Christine E.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Most Ideal Job: Stay-At-Home Mom

Aku ingat saat aku mengobrol dengan temanku ketika aku duduk di bangku SMA tentang apa yang menjadi cita-cita kita saat kita dewasa kelak. Aku tidak ingat apa yang aku katakan saat itu, tapi kemungkinan aku menyebutkan ingin menjadi seorang pengacara yang membela hak asasi manusia atau seorang misionaris.

Kemudian dalam sebuah kelompok diskusi pemuda, pemimpin kelompok kami meminta kami menuliskan apa yang menurut kami adalah pekerjaan yang paling ideal. “Bagaimana mungkin ada sebuah pekerjaan yang sempurna?” pikirku. Jadi aku menuliskan “ibu rumah tangga”. Temanku yang mengobrol denganku sebelumnya menatapku dengan terkejut. “Ibu rumah tangga? Aku pikir kamu punya ambisi yang besar tadi! Mengapa sekarang kamu mau menjadi seorang ibu rumah tangga?”

Di satu sisi, reaksinya tidaklah mengejutkan. Kebanyakan orang takkan memikirkan menjadi seorang ibu rumah tangga sebagai sebuah pilihan karir yang “berambisi” atau “berpotensi sukses”.

Beberapa tahun kemudian, ketika aku mengandung anak laki-lakiku, ibuku memberiku sebuah buku tentang seorang wanita bernama Sarah Edwards yang membesarkan 11 anak. Karena penasaran, aku memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang wanita ini.

Sarah adalah istri dari seorang pengkhotbah asal Amerika, Jonathan Edwards, di abad ke-18.

Pastur Edwards adalah seorang pria yang sibuk, jadi Sarah yang dibebani tanggung jawab untuk membesarkan 11 anaknya. Dia mengatur rumah tangganya dengan cakap, mendisiplinkan anak-anaknya dengan cara yang baik untuk menanamkan kepatuhan di dalam diri mereka—bukan saja kepada suaminya dan dirinya, tapi terlebih lagi kepada Tuhan.

Doa adalah bagian yang penting dalam hidupnya. Sebelum anak-anaknya lahir, Sarah mendoakan mereka dengan tekun. Dia juga berdoa secara rutin dengan mereka sejak mereka masih kecil. Selain itu, dia juga mengambil waktu doa pribadi untuk meminta kekuatan dalam menghadapi hari di hadapannya, karena dia tahu betapa besar tanggung jawabnya dalam membesarkan jiwa-jiwa kekal dalam diri anak-anaknya.

Ketika Pastur Edwards secara tiba-tiba dikeluarkan dari gerejanya, Sarah terpaksa bekerja beberapa waktu untuk menghidupi keluarganya. Kemudian, Pastur Edwards membawa keluarganya untuk melayani sebagai misionaris di sebuah desa penduduk Amerika asli. Di sanalah Pastur Edwards dan Sarah wafat dengan tiba-tiba setelah 8 tahun melayani di ladang misi, meninggalkan anak-anaknya menjadi yatim-piatu. Anaknya yang terkecil masih berusia 8 tahun.

Bagi dunia, Sarah wafat dengan sedikit pencapaian. Umurnya tidak panjang, tidak banyak pengalaman bekerja yang dimilikinya, dan dia juga hidup di sebuah desa. Dia bukanlah seorang yang sukses atau kaya. Dia hanyalah seorang ibu rumah tangga.

Namun, di antara keturunan Sarah terdapat 13 presiden universitas, 65 profesor, 100 pengacara (termasuk seorang dekan di sebuah sekolah hukum), 30 hakim, 66 dokter (termasuk seorang dekan di sebuah sekolah kedokteran), 3 senator Amerika Serikat, 3 mayor (gubernur kota), 3 gubernur negara bagian, 1 orang bendahara negara Amerika Serikat, 1 wakil presiden, dan ratusan pendeta, misionaris, dan pelayan Tuhan.

Sebagian dari warisan ini adalah buah dari kesetiaan Sarah dalam membesarkan anak-anaknya di dalam Tuhan. Mengapa kita tidak melihat itu sebagai sebuah pencapaian yang berharga?

Ketika kita mengukur kesuksesan orang lain, mudah bagi kita untuk melihat hal-hal eksternal dan yang kelihatan: Apakah mereka mempunyai sebuah rumah yang besar dan sebuah mobil yang bagus? Apa pekerjaan mereka? Berapa gaji mereka? Kadang, kita juga melihat kontribusi mereka bagi masyarakat. Dengan sengaja atau tidak sengaja, kita menilai kesuksesan mereka berdasarkan pencapaian materi yang mereka raih.

Namun Alkitab mengingatkan kita untuk tidak mengumpulkan harta di bumi. “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:20-21). Tentunya, tidak salah menjadi kaya atau memiliki harta materi; kita dipanggil untuk bekerja keras untuk menghidupi diri kita dan keluarga kita (1 Timotius 5:8).

Namun dalam segala hal yang kita lakukan, Tuhan menanyakan kita pertanyaan ini: Di manakah hati kita berada? Apakah kita lebih mengutamakan harta materi kita lebih daripada Dia?

Hidup yang nyaman di bumi atau pengakuan atas pencapaian-pencapaian kita seharusnya bukanlah hal yang kita kejar. Kita seharusnya mengumpulkan harta di surga, dengan hidup yang melayani Yesus. Tuhan menginginkan kesetiaan kita. Seperti Sarah Edwards, jika kita setia dalam mencari Dia dan setia dalam hal-hal yang dipercayakan-Nya kepada kita, Tuhan dapat memakai kita untuk melakukan hal-hal besar bagi kerajaan-Nya.

Dalam hidup ini, Tuhan telah mengizinkanku untuk tinggal di rumah dengan bayi laki-lakiku. Setiap hari aku diberikan begitu banyak kesempatan untuk menyaksikan kebaikan Tuhan untuk anakku, dan aku pun mulai berdoa dengan tekun dan setia seperti yang telah dicontohkan Sarah Edwards dalam hidupnya. Kiranya interaksiku dengan anakku (dan juga dengan suamiku) menunjukkan dengan jelas anugerah yang daripada Tuhan.

Marilah kita bekerja bukan untuk pengakuan orang lain, tapi untuk memperoleh hadiah yang daripada Tuhan (Filipi 3:14).

Baca Juga:

Ulasan Buku: Just Do Something! (Lakukanlah Sesuatu!)

Buku ini ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan “kehendak Allah” dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, namun tetap bersifat Alkitabiah.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 08 - Agustus 2016: Mendefinisikan Ulang Kesuksesan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

12 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!