Karena Penyakit Ini, Wajahku Membeku!

Info

karena-penyakit-ini-wajahku-membeku

Oleh Joey Choo, Malaysia

Beberapa waktu setelah Natal tahun lalu, wajahku membeku. Beneran. Aku tidak bisa mengendalikan gerakan otot wajahku. Aku kehilangan kemampuan berkedip dan mengerutkan kening. Tersenyum juga menjadi sebuah hal yang tak dapat kulakukan.

Saat aku memeriksakan diriku ke dokter, dokter mendiagnosis aku menderita Sindrom Ramsay Hunt, sebuah gangguan saraf yang langka yang disebabkan oleh infeksi, yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh sedang lemah. Hal ini melumpuhkan saraf yang berhubungan dengan otot wajah, yang menyebabkan wajahku menjadi lumpuh.

Pada saat itu, aku bisa merasakan sisi kanan otot wajahku telah menegang. Aku hampir tidak bisa menggerakkan setengah wajahku. Bicaraku menjadi terganggu dan air akan tumpah melalui sisi mulutku ketika aku minum. Hal yang paling menakutkan adalah aku tidak dapat menutup mataku dengan rapat, dan itu menyebabkan mataku menjadi sangat kering dan pandanganku menjadi kabur. Dokter memberitahuku untuk menutup mataku dengan plester ketika aku tidur sehingga mataku bisa menutup. Jika mataku menjadi terlampau kering, itu mungkin dapat menyebabkan peradangan selaput mata, katanya. Dalam kasus-kasus yang parah, itu bahkan dapat merusak kornea dan dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen.

Hasil yang Tidak Pasti

Aku bertanya kepada dokter apakah aku dapat sembuh total dari kelumpuhan wajah yang aku derita jika virus yang menyerangku berhasil dibasmi dari dalam tubuhku. Dengan wajah yang bersimpati, sang dokter menjawab bahwa dia sulit untuk mengatakannya, karena itu tergantung dari kemampuan pemulihan masing-masing orang. Tidak ada satu dokter pun dapat menjanjikan hasil yang pasti ketika itu berhubungan dengan sistem saraf. Beberapa pasien mungkin hanya akan menjadi sedikit lebih baik, di saat beberapa pasien lainnya mungkin dapat pulih 80%—itu sudah dianggap sebagai sebuah kemajuan yang sangat baik. Dengan kata lain, ada kemungkinan yang besar bahwa aku tidak bisa menggerakkan wajahku dengan sempurna lagi dan wajahku akan tetap kaku dan terlihat aneh. Sang dokter bahkan berkata: “Pulang dan berdoalah; Allah adalah dokter yang terbaik.”

Sejujurnya, aku tidak merasa terlalu khawatir di saat-saat awal setelah aku menerima diagnosis tersebut, karena aku percaya Allah dapat menyembuhkanku dari “masalah kecilku” ini, mengingat kemampuan-Nya untuk mencelikkan orang buta, menyembuhkan orang lumpuh, dan bahkan membangkitkan orang mati. Namun, seiring kondisiku yang semakin parah dan ketika aku menyadari betapa wajahku menjadi terlihat sangat aneh, aku menjadi semakin takut. “Bagaimana jika wajahku akan terlihat buruk seperti ini selamanya? Bagaimana jika kehendak Allah bagiku adalah untukku menjalani hidup dengan wajah ini secara permanen? Bagaimana aku dapat berhadapan dengan orang lain?”

Pikiran-pikiran itu membuatku mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang Sindrom Ramsay Hunt. Aku memutuskan untuk mencoba segala pengobatan—selama ada kemungkinan bagiku untuk sembuh. Itu termasuk mengunyah permen karet, menggunakan pemijat wajah untuk “menstimulasi” otot-otot wajahku, dan lain-lain. Namun, banyak jurnal riset yang aku temukan tidak memberikan harapan yang baik untuk kondisiku ini. Banyak pasien yang tidak berhasil sembuh total. Aku berseru kepada Allah untuk mengambil segala kelumpuhan wajah yang aku alami dan menyembuhkanku sepenuhnya, dan aku akan memuliakan Dia.

Sebuah Masa yang Menjengkelkan

Selain dari ketidaknyamanan secara fisik, aku juga mengalami siksaan psikologis dan kepercayaanku kepada Allah menjadi tergoncang. Apakah aku harus percaya pada kuasa Allah atau percaya kepada jurnal-jurnal yang kutemukan? Namun di balik itu, aku bersyukur karena melalui kondisiku itu, aku mengalami kasih Allah dan kehadiran-Nya. Dalam momen terlemahku, firman Tuhan memberikanku penghiburan dan kekuatan. Dalam masa tergelapku, Allah memberikan ayat ini kepadaku: “Sebab Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas” (Yeremia 31:25).

Namun bahkan setelah mengonsumsi obat dengan dosis tinggi, kondisiku tidak kunjung membaik. Dalam masa-masa ini, seseorang memberitahuku jika aku tidak mendengarkan nasihatnya dan pergi menjalani sebuah pengobatan khusus ini, aku takkan pernah sembuh total. Hatiku langsung ciut. Tapi Allah menuntunku menemukan ayat lain dari Matius 9:22 yang berkata, “Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: ‘Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.’ Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.” Ini mengingatkanku bahwa aku harus hidup karena percaya, bukan karena melihat. Aku tidak seharusnya terlalu terganggu oleh apa yang orang lain katakan—hanya firman Tuhan yang dapat dipercaya.

Seperti yang mungkin kamu sudah duga, aku akhirnya sembuh total setelah satu setengah bulan. Puji Tuhan! Aku sangat berterima kasih karena banyak teman-teman Kristen dan rekan-rekan kerjaku yang mendoakanku dengan setia selama masa-masa sulitku. Tuhan mendengarkan doa-doa kita; Dia peduli akan apa yang kita butuhkan. Dia berbelas kasihan akan kondisi yang aku alami, dan melenyapkan setiap bekas-bekas penyakitku, begitu luar biasanya sampai-sampai tidak seorang pun mengira aku pernah menderita Sindrom Ramsay Hunt jika aku tidak mengatakannya.

Sebuah Pelajaran yang Kupelajari

Sekarang ketika aku melihat kembali kepada pengalamanku itu, aku bertanya kepada diriku: “Apa yang Tuhan sedang ajarkan kepadaku melalui pengalamanku itu?”

Setiap kali aku melihat foto-foto yang aku ambil ketika aku sakit parah, rasa takut masih membayangiku. Aku menyadari bahwa sebagian penyakit itu juga disebabkan karena kesalahanku. Aku tidak menjaga kesehatanku, dan membuat tubuhku bekerja terlalu keras sampai aku menjadi terlalu lelah. Setengah tahun sebelum aku diserang oleh infeksi ini, aku menderita flu beberapa kali dan aku masih saja bersikeras untuk pergi bekerja. Aku tidak tahu bagaimana berisitirahat dan mengizinkan tubuhku untuk memulihkan diri. Roh Kudus mengingatkanku bahwa tubuhku adalah bait Allah (1 Korintus 6:19). Tidak menjaga diriku adalah sebuah bentuk dosa terhadap Dia dan mendukakan Dia.

Selain itu, aku belajar bahwa aku harus menyerahkan segala hal kepada Tuhan karena Dia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Keadaan emosi kita mempengaruhi kesehatan kita secara langsung. Jika kita terus-menerus depresi, tubuh kita akan lebih sulit menjadi pulih. Ketika aku sakit, Tuhan mengajarkanku untuk menyerahkan segala kekhawatiran dan bebanku kepada-Nya. Melalui firman-Nya yang menguatkanku, aku dapat bertahan dan tidak kehilangan harapan.

Terakhir, aku belajar untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan, percaya bahwa dalam segala hal Allah bekerja untuk membawa kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28). Dalam dunia ini, akan ada banyak suara di sekitar kita yang mencoba untuk mempengaruhi kita dan meyakinkan kita tentang kemampuan mereka untuk menyelesaikan masalah-masalah kita. Namun Tuhan adalah satu-satunya yang berkuasa. Dia adalah penguasa segala sesuatu dan Dialah satu-satunya yang layak kita percayai. Aku belajar bahwa apa pun keadaan yang kualami, Dia selalu memegang kendali dalam hidupku. Yang harus kulakukan hanyalah memperbaiki pandanganku kepada-Nya.

Kiranya segala pujian dan ucapan syukur diberikan kepada Sang Penyembuh kita!

“Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku!” (Yeremia 17:14).

Baca Juga:

Ketika Kita Kehilangan, Satu Hal Inilah yang Membuat Kita Bertahan

Kehilangan tidak perlu melumpuhkan hidup kita. Karena ada satu hal ini yang membuat Yusuf bertahan, dan juga membuat kita bertahan!

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 07 - Juli 2016: Memaknai Momen Sengsara, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!