5 Cara Mengatasi Patah Hati

Info

Penulis: Michele Ong, New Zealand
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: How To Get Over a Breakup

How-to-get-over-a-break-up

Minggu terakhir di semester terakhir sekolah jurnalisme adalah minggu yang sangat menyakitkan. Pacarku memutuskan hubungan dengan cara yang sangat tidak enak. Aku menerima SMS-nya pada hari Minggu malam lalu segera menghubungi sahabat baikku. Di telepon, aku tidak bisa berhenti menangis, dan masih terus menangis lama setelah telepon ditutup.

Dengan susah payah aku berusaha menenangkan diri dan tetap mengikuti kelas di hari Senin. Tetapi, pertanyaan sederhana seperti “Kamu ngapain saja akhir minggu kemarin?” sudah membuatku menangis lagi. Hari itu penampilanku pasti sangat kacau, aku berjalan di kampus dengan mata bengkak dan tangan meremas-remas gumpalan tisu.

Mengapa ia tega melakukannya? Apa salahku? Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Aku merasa sudah berusaha menjadi pacar termanis yang bisa dimilikinya. Aku selalu ingat hari ulang tahunnya, dan tidak pernah lupa merayakan hari jadian kami. Aku juga selalu siap mendengarkan setiap kali ia punya masalah.

Namun kenyataannya, kami tidak cocok satu sama lain. Kami berdua memiliki tujuan hidup yang berbeda dan memiliki rencana yang berbeda untuk mewujudkannya. Aku ingin bekerja dan bepergian ke luar negeri, sementara ia cukup senang melanjutkan hidupnya di New Zealand. Aku jengkel karena merasa ia kurang punya ambisi dan kejelasan arah hidup, sementara ia menganggapku sebagai cewek yang manja dan terlalu bergantung kepada orang lain.

Sayangnya, pada saat itu aku tidak bisa melihat perbedaan yang ada di antara kami. Aku berusia 23 tahun, masih muda dan naif, tidak bisa berpikir jauh melampaui apa yang ada di depan mataku. Sebab itu aku marah ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai dengan yang kuharapkan. Aku pikir aku tidak beruntung dalam cinta, dan kebahagiaan itu hanya untuk orang lain.

Setahun sebelumnya, aku juga mengalami patah hati. Aku mendapati pacarku saat itu selingkuh. Putusnya hubungan kami membuatku sangat marah, muak, dan sakit hati. Rasanya aku ingin menemui pria itu dan mengacak-ngacak wajahnya seperti mainan Mr. Potato Head. Namun, pada satu titik, aku ingin melarikan diri jauh-jauh darinya, hingga aku pun memilih terbang ke Australia, mengunjungi teman dan kerabatku di sana.

Tidak heran bila Greg Behrendt, penulis buku It’s Called A Breakup Because It’s Broken berkata, “Patah hati itu seperti patah tulang rusuk. Dari luar kelihatannya baik-baik saja, tetapi setiap menarik napas, sakitnya sangat terasa.”

Pernahkah kamu juga mengalami patah hati? Beberapa hal berikut telah menolongku. Semoga bisa menolongmu juga.

1. Bawalah rasa sakitmu kepada Tuhan

Entah bagaimana aku bisa menggambarkan masa-masa patah hatiku saat itu. Hampir setiap malam aku hanya bisa menelungkup di tempat tidur dengan air mata berderai. Di sela-sela tangis, aku menyebut nama Tuhan, tetapi aku tidak punya kekuatan untuk melanjutkan doaku.

Jujur kuakui, peristiwa patah hati itulah yang mendorongku mencari Tuhan.

C.S. Lewis berkata, “Rasa sakit menuntut perhatian. Suara Allah terdengar sayup saat kita senang, terdengar jelas saat kita memeriksa hati kita, namun terdengar sangat nyaring saat kita merasa sakit. Rasa sakit adalah megafon Allah untuk membangunkan dunia yang sudah tuli.”

Rasa sakit dipakai Tuhan untuk menarikku kembali kepada-Nya. Jadi, aku pun datang menumpahkan isi hatiku kepada-Nya, sama seperti aku datang kepada ayahku saat aku sedang sedih.

Sebuah penghiburan besar kutemukan dalam Mazmur 147:3. Pemazmur menulis, “Ia [Tuhan] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”

Ketika aku merasa sangat kesepian setelah putus dengan pacarku, aku juga dihiburkan dengan Yohanes 16:32 yang menggambarkan bagaimana Yesus pernah ditinggalkan sendirian, namun Dia tetap yakin akan penyertaan Bapa-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.”

Jangan pernah tergoda untuk mencari solusi sesaat, seperti mengonsumsi minuman energi, obat-obatan alternatif, atau pelukan seseorang. Selain berisiko, semua pelarian itu nantinya akan membuat kita makin mudah terluka.

Carilah pemulihan yang sejati: Allah, Sang Penyembuh, yang dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan sanggup memulihkan hati kita agar kembali utuh seperti sediakala.

2. Ingatlah bahwa kamu dicintai Tuhan

Hari-hari setelah putus dengan pacarku sangatlah berat. Aku merasa diriku tidak menarik, tidak berarti, tak berbeda dengan sebuah pion dalam permainan catur. Rasanya ingin makan keripik kentang saja sepanjang hari sambil meratapi nasibku yang buruk. Pikiran-pikiran negatif menjadi teman setiaku, “Ah, seandainya saja aku lebih cantik, lebih pintar, punya pekerjaan yang lebih baik…

Suatu hari, saat aku lagi-lagi mengeluh kepada Tuhan tentang betapa aku merasa tidak dicintai, Tuhan berkata dalam hatiku, “Kamu lupa, Aku mencintaimu.” Pernyataan itu sangat kuat menyentak hatiku. Meski tumbuh besar menyanyikan lagu sekolah minggu “Yesus sayang padaku”, aku sebenarnya masih sulit membayangkan dan memahami seberapa besar Tuhan mengasihiku. Namun, hari itu, saat aku merasa benar-benar lemah, bahkan bisa dibilang saat aku merasa sangat jelek (bayangkan saja waktu itu aku hanya memakai piyama, rambutku acak-acakan, dan hidungku berair seperti bendungan jebol), hatiku terasa sangat teduh karena mengetahui dengan pasti bahwa kasih Yesus kepadaku tidak berubah sedikit pun. Kegalauan karena merasa diri tidak cukup baik dan berharga setelah ditinggal pacarku, dengan segera menguap tanpa bekas.

Jika kamu mengalami hal serupa, ingatlah bahwa putus dengan pacar tidak menentukan identitasmu. Yang menentukan identitasmu adalah Tuhan, yang menciptakan dirimu. Mantan pacarmu mungkin tidak menghargai dirimu, tetapi di mata Tuhan, kamu sangatlah berharga (Yesaya 43:4), kamu utuh, lengkap di dalam-Nya (Kolose 2:10), kamu adalah buatan tangan-Nya, yang diciptakan untuk melakukan hal-hal yang baik (Efesus 2:10).

Ingatlah akan identitasmu di dalam Kristus, ingatlah bahwa kamu sangat dikasihi Tuhan (Efesus 2:4).

3. Arahkan pandanganmu ke masa depan

Mungkin sekali kamu tergoda untuk terus mengingat kenangan masa lalu bersama mantan pacarmu. Namun, hidup dalam bayang-bayang masa lalu hanya akan menghambatmu untuk melangkah maju. Aku sendiri saat itu sudah menghapus semua SMS dan e-mail, membuang semua hadiah yang pernah diberikan mantan pacarku. Tetapi, aku masih menahan sebuah boneka kelinci, dan masih mendengar lagu-lagu dengan tema patah hati—berulang kali.

Alkitab mengajar kita untuk melupakan apa yang telah di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita (Filipi 3:13). Jadi, aku menetapkan tekad untuk berhenti mengenang masa lalu dan memakai waktuku untuk menata ulang prioritas-prioritas dalam hidupku. Aku memutuskan untuk meluangkan lebih banyak waktu dengan Tuhan, dan berfokus memulai karirku sebagai seorang jurnalis.

Aku juga mulai mengucap syukur atas peristiwa patah hati yang Tuhan izinkan aku alami. “Tuhan, Engkau tahu bahwa hubungan kami akan berakhir,” kataku, “Engkau menopang dunia ini dalam tangan-Mu.” Menyadari bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan kita alami, termasuk putus dengan pacar, membuat hatiku tenang (Mazmur 139:16). Tuhan mengizinkan aku mengalaminya karena Dia telah mempersiapkan hal-hal yang lebih baik untukku. Pada saat itu aku tidak tahu apa “hal-hal yang lebih baik” yang dipersiapkan Tuhan. Namun, dengan iman aku bergantung pada janji-janji-Nya, mengetahui bahwa Dia Tuhan, dan Dia peduli.

4. Hitunglah berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan

Waktu terasa begitu lambat saat aku berusaha memulihkan diri dari patah hati. Siang hari terasa sangat panjang, malam hari apalagi. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun rasanya waktu berjalan terlalu lambat untukku.

Dalam masa-masa transisi yang sulit itu, memastikan diriku selalu punya kesibukan adalah salah satu hal yang sangat menolong. Aku menyibukkan diri dengan menghitung berkat-berkat yang kuterima, dan itu ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan.

Pada saat aku punya pacar, mudah saja mengucap syukur dalam hidup dan merasa diberkati. “Terima kasih Tuhan untuk pacar, untuk keluarga, untuk sahabat-sahabat yang mengasihiku.” Namun, ketika itu diambil (pacar, bukan keluarga dan sahabat), aku harus secara sengaja mengingatkan diri untuk bisa tetap mengucap syukur dalam hal-hal yang sederhana.

Aku membuat catatan harian berisi hal-hal yang membuatku bersyukur setiap hari. Aku bersyukur kepada Tuhan bisa pergi nonton dengan teman-temanku, menikmati makan siang dan malam dengan keluargaku, bisa mendapatkan pakaian baru (jika hari itu aku pergi belanja), dan seterusnya. Dengan sibuk menghitung berkat, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk berkubang dalam kemarahan, kepahitan, dan rasa tidak terima.

Mungkin menghitung berkat itu kedengarannya sedikit klise, tetapi Alkitab mengajar kita untuk mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita (1 Tesalonika 5:18). Tidak berarti kita harus melompat-lompat gembira, mengatakan kepada semua orang betapa senangnya kita sudah putus dari pacar kita. Menghitung berkat bagiku berarti mempertahankan sikap bersyukur, senantiasa berterimakasih kepada Tuhan yang sudah menyertaiku selama masa-masa yang sulit.

5. Maafkanlah mantanmu

Harus kuakui dengan jujur, awalnya aku tidak mau memaafkan mantan pacarku. Bagiku, memaafkan itu seperti memberi jaminan bebas penjara kepada seorang penjahat. Mengapa aku harus memberinya kesempatan istimewa itu?

Aku kemudian teringat pada percakapanku dengan Tuhan saat aku sedang mendoakan beasiswa yang akan memungkinkan aku bekerja di sebuah surat kabar kota Beijing selama 3 bulan. Aku berkata kepada Tuhan betapa aku sangat-sangat menginginkan beasiswa itu. Tuhan berkata, “Kamu harus mengampuni mantan pacarmu dulu.” Aku tidak mungkin bisa melakukannya, jawabku. Namun, Roh Kudus mengingatkanku pada Markus 11:25, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

Aku tidak suka dengan pemikiran harus mengampuni mantan pacarku. Tetapi aku tahu itu harus kulakukan.

Aku tidak lantas buru-buru menemui mantan pacarku, membuka tangan lebar-lebar dan siap memberinya pelukan hangat sembari berkata bahwa aku sudah memaafkannya. Semua kemarahan yang pernah ada dalam hatiku harus perlahan-lahan aku lepaskan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menyebut diriku sendiri sebagai seorang pengikut Kristus bila aku tidak dapat melepaskan pengampunan bagi orang yang telah menyakitiku.

Betapa lega rasanya ketika aku akhirnya bisa memaafkan mantan pacarku. Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah e-mail yang memberitahukan bahwa aku mendapat beasiswa ke Beijing. Aku yakin bahwa Tuhan sedang menguji dan membangun karakterku pada saat yang sama. Dia mau aku mengampuni sesamaku sama seperti Dia telah mengampuniku (Matius 6:14), mengasihi musuhku (Lukas 6:27), dan memberkati mereka yang menyakitiku (Lukas 6:28).

Patah hati itu tidak mudah dijalani, mengacaukan hidup, dan menguras emosi. Kabar baiknya, malam-malam yang kelam itu tidaklah abadi. Meski perihnya luka membuat kita sukar menatap masa depan, semua pasti akan berlalu juga.

Ingatlah, Tuhan menyayangimu dan peduli kepadamu. Frank Laubach, seorang misionaris berkata, “Kristus memperhatikan setiap detail kehidupan kita, karena Dia mengasihi kita lebih dari seorang ibu mengasihi anaknya.”

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 04 - April 2016: Mencari Solusi Praktis, Artikel, Pena Kamu

65 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!