Mengapa Hubungan Ini Harus Berakhir?

Info

Penulis: M. Tiong, Malaysia
Artikel asli dalam Simplified Chinese: 我们怎么会分手?

mengapa-hubungan-ini-harus-berakhir

Sejak awal berpacaran, aku dan pacarku sudah memikirkan untuk membawa hubungan kami hingga jenjang pernikahan. Tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku bahwa hubungan kami pada suatu hari akan bisa berakhir. Tentu saja kami pernah berselisih pendapat, namun kami selalu bisa bicara baik-baik dan menyelesaikan setiap masalah kami bersama-sama.

Sebagai bagian dari persiapan kami untuk menikah, kami juga melatih diri kami dalam sejumlah disiplin rohani, seperti menghadiri persekutuan, berdoa, dan merenungkan firman Tuhan bersama. Namun, segalanya berubah saat aku menjalani studi di luar negeri.

Pacarku memang sudah menyatakan keberatan dengan keputusanku pergi ke luar negeri, namun aku tidak berpikir bahwa kepergianku itu adalah masalah yang serius. Hubungan kami sangat stabil dan sekalipun kami berada di dua negara yang berbeda, kami dapat berkomunikasi dengan mudah dengan teknologi yang ada saat ini. Lagipula masa studiku hanya satu tahun. Aku pikir hubungan kami akan baik-baik saja.

Namun, tak lama setelah aku pergi, hubungan kami yang sudah berjalan lebih dari dua tahun itu mulai retak. Ia mulai jarang menelepon dan mengirim SMS. Kalau pun ada, bicaranya singkat dan seperlunya saja. Pacarku tampaknya tidak tahan dengan hubungan jarak jauh. Aku mulai merasa cemas dan curiga bahwa ia menyukai orang lain di gereja. Kecurigaanku membuat hubungan kami memburuk, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.

Sendirian di negeri orang, aku merasa sangat terpukul dengan kejadian yang tidak terduga itu. Aku ingat pacarku pernah berkata, “Cinta itu adalah sebuah pilihan, bukan sebuah perasaan”—dan pernyataan itu membuat pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. “Bukankah kami sudah membuat pilihan untuk saling mencintai? Tidakkah kami hanya perlu bergantung kepada Tuhan dan semua masalah kami akan terselesaikan? Mengapa hubungan kami sampai harus berakhir?”

Namun peristiwa yang menyakitkan itu kemudian menyadarkanku bahwa kekaguman dan rasa cintaku kepada pacarku sesungguhnya telah melebihi kekaguman dan rasa cintaku kepada Tuhan. Harus kuakui bahwa selama berpacaran, kami pernah melakukan hal-hal yang tidak kudus. Kami tidak taat sepenuhnya pada kehendak Tuhan dan hampir tidak pernah berusaha mengubah atau memperbaiki perilaku kami. Rasa takut kehilangan membuat kami tidak bisa melihat betapa kami telah menjadi terlalu bergantung satu sama lain. Tanpa sadar aku menjadi berhala bagi pacarku, demikian pula sebaliknya.

Aku ingat akan sesuatu yang pernah menyentak pikiranku: tulisan Pendeta Zhu Hui Ci dalam sebuah buku yang berjudul Dear God, Where Is The Love You Promised Me? Tulisannya kurang lebih berkata, “Pernikahan diciptakan oleh Tuhan, pacaran diciptakan oleh manusia”. Tuhan dengan jelas menyatakan pernikahan seperti apa yang sesuai dengan kehendak dan rancangan-Nya, namun Dia tidak menentukan siapa yang harus kita nikahi. Dia memberi kita kehendak bebas dan kemampuan untuk memilih. Pacaran memberi kita kesempatan untuk belajar mencintai satu sama lain dan bersama-sama bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus. Sebab itu, bila dalam berpacaran muncul masalah-masalah mendasar yang tidak ada jalan keluarnya, kita bisa memilih untuk memutuskan hubungan tersebut. Tentu saja kebebasan ini tidak untuk digunakan seenaknya.

Berikut ini contoh kasus yang bisa kita pikirkan: Jika pacar kita seorang yang gila kerja sampai pada batas yang tidak bisa kita tolerir, akan sangat konyol kita kita berharap ia akan berubah setelah menikah. Memang, pacar kita bisa saja berubah suatu hari nanti. Tetapi, berharap ia akan berubah saja tidak menutup kemungkinan munculnya masalah dalam hubungan kita di kemudian hari. Memang, kita bisa meminta nasihat orang lain dan berusaha menyelesaikan masalah yang muncul itu bersama-sama. Tetapi, hal ini pun tidak menjamin masalah kita pasti terselesaikan. Jika kita melihat masalah tersebut akan membahayakan hubungan kita di masa depan, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengakhiri hubungan itu sebelum menikah. Dengan demikian, masing-masing pihak dapat berfokus menyelesaikan dulu masalah yang ada dalam dirinya.

Keberhasilan menurut kacamata dunia adalah meraih atau mendapatkan sesuatu, sedangkan kegagalan adalah kehilangan sesuatu itu. Namun, menurut kacamata Alkitab, ukuran keberhasilan adalah kasih. Kita gagal ketika kita tidak mengasihi. Dalam bukunya, Pendeta Zhu juga menulis: “Dalam kekristenan, kasih harus menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk saat kita memutuskan akan tetap melanjutkan atau mengakhiri hubungan dengan pacar kita.”

Melalui hubunganku dengan pacarku, aku sendiri telah mengalami apa artinya mencintai seseorang dengan sangat. Aku yakin pacarku juga mengalami hal yang sama. Namun, cinta jugalah yang membuatku akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dan menerima hal itu sebagai jalan keluar terbaik bagi kami berdua—sekalipun sebenarnya hal itu bukan sesuatu yang aku kehendaki.

Dalam doa-doaku, aku memohon agar Tuhan menolong kami berdua untuk mau selalu tunduk kepada pimpinan Roh Kudus, dan menjalani hidup kami masing-masing seturut dengan kehendak-Nya, selalu mengasihi Tuhan di atas segalanya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 02 - Februari 2016: Menguji Isi Hati, Artikel, Pena Kamu

28 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!