Natal—Saatnya Memilih untuk Mengasihi

memilih-untuk-mengasihi

Oleh Melisa Marianni Manampiring, Jakarta

Bicara tentang Natal tidak bisa lepas dari yang namanya “kasih”. Natal selalu identik dengan pernyataan kasih Allah bagi dunia melalui kelahiran Sang Juruselamat. Salah satu ayat Alkitab yang sering dikutip (bahkan mungkin sudah dihafal) tentang kasih Allah ini adalah Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Sebagai para pengikut Kristus, kita tahu bahwa kita dipanggil untuk hidup serupa dengan-Nya. Namun, masing-masing kita mungkin memiliki pergumulan tersendiri tentang hidup di dalam kasih.

Aku sendiri punya teman yang cukup dekat dan sangat aku kasihi. Seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat bahwa ia bukan orang yang mudah untuk dikasihi. Tak jarang tingkah lakunya membuatku kecewa. Aku pun mulai ragu apakah aku bisa terus mengasihinya. Aku menyadari bahwa ternyata perasaanku bisa berubah-ubah, tak menentu, menurut keadaan yang ada di sekelilingku. Ketika ia baik kepadaku, melakukan hal yang menyenangkan hatiku, dengan mudah “kasih” bisa meluap dalam hatiku. Namun, ketika ia tidak memberi respons yang kuharapkan, “kasih” pun bisa menguap dengan segera.

Memilih untuk mengasihi. Itulah komitmen yang kemudian aku ambil setelah bergumul panjang dalam doa. Aku mengambil komitmen untuk tetap mengasihinya, terlepas dari apapun yang ia lakukan. Komitmenku itu tidak lantas membuat keadaan berjalan mulus. Aku masih jatuh bangun dalam menata perasaanku yang berubah-ubah. Adakalanya aku merasa sudah melakukan yang terbaik, namun tanggapan yang kuterima malah mengecewakan. Jujur, aku merasa sakit, dan sempat berpikir untuk mundur. Namun, pengalaman itulah yang kemudian dipakai Allah untuk mengajariku tentang kebesaran kasih-Nya.

Memilih untuk mengasihi. Bukankah itu inisiatif nyata yang ditunjukkan Allah dalam peristiwa Natal? Manusia yang telah jatuh dalam dosa jelas bukan pribadi-pribadi yang mudah untuk dikasihi. Kebaikan Allah ditanggapi dengan tidak semestinya. Segala yang terbaik telah disediakan Allah, namun manusia memilih jalannya sendiri, menganggap sepi kasih Allah. Sakit hati yang aku rasakan jelas tak sebanding dengan sakit hati Allah. Dapat saja Allah memilih untuk berhenti mengasihi manusia. Namun, Natal menunjukkan hal yang sebaliknya. Allah menunjukkan betapa Dia adalah kasih, dan kasih-Nya itu tidak bergantung pada manusia. Dia datang kepada dunia yang telah cemar, dengan kasih yang tidak tercemar.

Pengalaman ini menolongku memahami arti kasih yang diajarkan dalam Alkitab. Kasih yang tak sebatas perasaan belaka. Kasih yang tidak bergantung pada situasi dan tanggapan orang lain. Kasih yang tak diberikan karena aku ingin balas dikasihi, tetapi karena aku mau taat pada kebenaran—seperti yang diajarkan Alkitab: Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu (1 Petrus 1:22). Kasih yang demikian jelas tidak dapat dihasilkan oleh kekuatanku sendiri, tetapi harus berasal dari Allah, Sang Sumber Kasih.

Seiring dengan berbagai kesibukan perayaan Natal yang sedang berlangsung, sederetan pertanyaan terasa menggelitik di hati: Masihkah Natal menggetarkan hati kita dengan kasih sejati yang ditunjukkan Allah? Ataukah semua perayaan itu akan berlalu sebagai rutinitas tahunan yang biasa-biasa saja, tidak berdampak apa-apa dalam hidup kita? Apakah kita lebih banyak menuntut perhatian dan kasih dalam hari-hari ini, ataukah kita bersedia lebih banyak membagikan perhatian dan kasih kepada orang lain?

Harapanku, Natal akan menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang memilih untuk mengasihi di tengah dunia yang haus akan kasih. Kristus telah menunjukkan kasih itu melalui kedatangan-Nya pada hari Natal. Dan, kita dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya.

Selamat Natal 2017!

Baca Juga:

Ketika Aku Minder Karena Usiaku

Aku adalah anak ketika dari delapan bersaudara. Ketika tiba saatnya untukku masuk ke SD, orangtuaku menundanya karena aku harus menjaga adik-adikku. Akibatnya, saat akhirnya aku sekolah, usiaku pun jadi lebih tua daripada teman-teman lainnya dan inilah yang membuatku menjadi amat minder.

Bagikan Konten ini
13 replies
  1. Chrisnawaty Marpaung
    Chrisnawaty Marpaung says:

    Selamat Natal 2015..

    Cerita pergumulan hidup tentang kasih yg sama ku alami..
    Trimakasih buat renungannya..
    Tuhan Yesus Memberkati

  2. Ellynda Rusdiana Dewi
    Ellynda Rusdiana Dewi says:

    Yes … Amen
    Natal yg penuh dengan mukjizat dan bermakna kasih bg sesama yg menuntun kita tuk meneladani apa yg telah Tuhan Yesus perbuat selama Dia hidup di dunia.
    #GBu n fam

  3. Triska
    Triska says:

    Terimakasih atas renungannya,
    Ini menguatkanku kembali utk tetap mengasihi atas dasar kasih Allah..
    🙂
    Selamat Natal.
    Tuhan Yesus Memberkati.
    Salam Kasih.:)

  4. Mike Smatenreyd
    Mike Smatenreyd says:

    Artikel yg bener2 nampar saya bgt, saya bener2 lg mengalami hal yg sama persis, trimakasih, bener2, jd reminder bwt saya dan jg penguatan… Tuhan Yesus berkati, selamat Menjelang natal 2017

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *