Lagu Tema Hidup Kami

Jumat, 9 Oktober 2015

Lagu Tema Hidup Kami

Baca: Ayub 29:1-6;30:1-9

29:1 Maka Ayub melanjutkan uraiannya:

29:2 “Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku,

29:3 ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap;

29:4 seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;

29:5 ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku;

29:6 ketika langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku.

30:1 “Tetapi sekarang aku ditertawakan mereka, yang umurnya lebih muda dari padaku, yang ayah-ayahnya kupandang terlalu hina untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing dombaku.

30:2 Lagipula, apakah gunanya bagiku kekuatan tangan mereka? Mereka sudah kehabisan tenaga,

30:3 mereka merana karena kekurangan dan kelaparan, mengerumit tanah yang kering, belukar di gurun dan padang belantara;

30:4 mereka memetik gelang laut dari antara semak-semak, dan akar pohon arar menjadi makanan mereka.

30:5 Mereka diusir dari pergaulan hidup, dan orang berteriak-teriak terhadap mereka seperti terhadap pencuri.

30:6 Di lembah-lembah yang mengerikan mereka harus diam, di dalam celah-celah tanah dan sela-sela gunung;

30:7 di antara semak-semak mereka meraung-raung, mereka berkelompok di bawah jeruju;

30:8 mereka itulah orang-orang bebal yang tak dikenal, yang didepak dari negeri.

30:9 Tetapi sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka.

TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku. —Yesaya 12:2

Lagu Tema Hidup Kami

Setiap orang mendengar suatu karya musik dengan cara berbeda. Sang pencipta lagu mendengar musiknya dengan membayangkannya di dalam benaknya. Para penonton mendengar musik itu dengan indra dan perasaan mereka. Para anggota orkestra mendengar paling jelas suara alat musik yang terdekat dengan mereka.

Dalam beberapa segi, kita adalah anggota dalam orkestra Allah. Sering kali yang kita dengar hanyalah alat musik yang paling dekat dengan kita. Karena kita tidak mendengar seluruh lagunya, kita pun berseru seperti Ayub di tengah sengsaranya, “Sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka” (Ayb. 30:9).

Ayub ingat bagaimana para pembesar dan pejabat pernah menghormatinya. Hidupnya “bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak didekatnya” (29:6). Namun kini, ia telah menjadi objek penghinaan. Ayub mengeluh, “Permainan kecapiku menjadi ratapan” (30:31). Namun musik yang dimainkan Ayub bukanlah segala-galanya. Ia hanya tak bisa mendengar keseluruhan lagunya.

Mungkin hari ini kamu hanya dapat mendengar nada sendu dari musik yang kamu mainkan. Jangan putus asa. Setiap bagian dalam hidupmu mempunyai peran dalam musik gubahan Allah. Atau mungkin kamu sedang memainkan nada riang. Pujilah Allah untuk sukacita itu, dan bagikanlah sukacitamu dengan orang lain.

Karya agung penebusan Allah adalah simfoni yang sedang kita semua mainkan, dan pada akhirnya, segala sesuatu akan terjalin indah untuk mencapai maksud-Nya yang baik. Allah adalah penggubah agung kehidupan kita. Musik gubahan-Nya itu sempurna, dan kita dapat mempercayai-Nya. —Keila Ochoa

Ya Tuhan, tolong aku untuk mempercayai-Mu, terutama ketika hidupku tampaknya tidak harmonis dan bernada sendu. Aku bersyukur kepada-Mu, karena aku menjadi bagian dari simfoni-Mu dan gubahan-Mu itu sempurna.

Tatkala kita mengimani kebaikan Allah terdengarlah lagu pujian dalam hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32-33; Kolose 1

Bagikan Konten ini
10 replies
  1. Hesty Natalia Sihombing
    Hesty Natalia Sihombing says:

    kiranya lagu pujian selalu mengalir dari hatiku kepadaMu ya Tuhan. dalam kondisi apapun hidupku

  2. Anne
    Anne says:

    “pada akhirnya, segala sesuatu akan terjalin indah untuk mencapai maksud-Nya yang baik”- Terimakasih utk saat teduh yang indah. Aku percaya Tuhan Yesus akan membuay segala sesuatunya mjd indah Pada waktu Tuhan. Amin.

  3. acha grasia
    acha grasia says:

    seperti not pada sebuah lagu, ada tinggi ada rendah. seperti itulah keadaan kehidupan kita. namun yang pasti akhirnya selalu indah dan merdu didengar. GODbless^^,

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *