Belajar dari Kesuksesan Teman-Temanku

Info

Penulis: Lily Lin, China
Artikel asli dalam Bahasa Mandarin: 每当我想起那些成功的朋友时

successful-friends

Sejak kecil aku merasa beruntung karena memiliki teman-teman yang berotak cemerlang. Mereka terus mengukir prestasi yang bikin iri semua orang, baik saat bersekolah maupun saat mereka sudah bekerja. Banyak di antara mereka berhasil menyelesaikan kuliah dari perguruan tinggi bergengsi dan kini memegang jabatan-jabatan tinggi. Ada yang menjadi ahli komputer, dokter, pengacara, hakim, serta konsultan keuangan. Sebagian meneruskan studi dan meraih gelar doktor di universitas-universitas ternama dan kini menjalankan riset atau mengajar di universitas-universitas papan atas.

Satu hal yang aku perhatikan dari hidup teman-teman yang sukses ini adalah: setiap mereka adalah orang yang bersungguh-sungguh, rajin, disiplin, dan tekun. Mereka adalah bukti hidup dari apa yang pernah dikatakan oleh Jim Rohn, seorang penulis yang banyak memberiku inspirasi: “Kesuksesan tidak diperoleh dengan dikejar; kesuksesan akan datang ketika kamu sudah menjadi seorang pribadi yang siap menerimanya.”

Sungguh aku sangat diberkati memiliki teman-teman yang penuh talenta dalam setiap fase kehidupanku. Setiap kali aku kehilangan semangat atau tergoda untuk bermalas-malasan dalam pekerjaan dan pelayananku, teladan teman-temanku ini mendorongku untuk bangkit lagi. Mereka juga mengingatkanku kepada Rasul Paulus, seorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memberitakan Injil, dan yang memakai segala sesuatu yang ia punya untuk menyebarluaskan sabda Kristus dan membawa orang kepada Tuhan (Kolose 1:28-29).

Tentu saja kita harus menyadari bahwa setiap orang memiliki talenta yang berbeda, menempuh pendidikan yang berbeda, dan tumbuh dalam lingkungan yang juga berbeda. Ini berarti, sekalipun semua kita memberikan usaha yang sama kerasnya, sebagian orang akan meraih hasil yang lebih daripada yang lain. Jika kita hanya berfokus pada apa yang bisa kita peroleh dari sebuah kesuksesan, kita bisa menjadi pahit hati karena kita tidak memiliki talenta dan sumber daya yang sama dengan teman-teman kita. Kita bisa menjadi iri akan kesuksesan mereka. Tetapi, jika kita menyadari bahwa talenta dan sumber daya merupakan karunia yang dipercayakan kepada tiap-tiap orang, dan memahami bahwa bukan kesuksesan yang menentukan kebahagiaan kita, tentulah tanggapan kita akan sangat berbeda.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25), Yesus mengatakan bahwa hal kerajaan surga itu sama seperti seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka sesuai kesanggupan tiap-tiap orang, sebelum ia bepergian ke luar negeri. Yang seorang mendapat lima talenta, yang seorang lagi dua, dan yang seorang lagi satu. Dua hamba pertama menggunakan talenta yang mereka terima sesuai kesanggupan masing-masing sehingga yang seorang mendapat hasil lima talenta, yang seorang lagi mendapat hasil dua talenta. Hamba yang ketiga tidak berbuat apa-apa dan tidak menghasilkan apa-apa. Menariknya, meski dua hamba pertama mendapatkan hasil yang berbeda, mereka mendapatkan tanggapan yang sama dari tuannya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21, 23)

Setiap hal yang kita miliki adalah pemberian Allah, dan suatu hari kelak kita harus mempertanggungjawabkan bagaimana kita menggunakan semua hal yang kita terima itu kepada-Nya. Sebab itu, kita perlu menggunakan semua sumber daya yang kita punyai dengan bijaksana dan memakai talenta kita sebaik mungkin agar orang lain diberkati dengan apa yang kita miliki dan Allah dimuliakan. Tujuan kita bukanlah untuk menunjukkan kepintaran dan kehebatan kita semata, bukan pula untuk memamerkan kesuksesan apa saja yang berhasil kita raih.

Firman Tuhan dalam Mikha 6:8 berkata, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Aku berharap dan berdoa agar setiap kita dapat meraih sukses yang dikehendaki Allah bagi kita dalam setiap fase kehidupan kita.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2015: Mengejar Kesuksesan, Artikel, Pena Kamu

9 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!