Bagaimana Jika Tuhan Mengambil Talentaku?

Info

Penulis: Shawn Quah
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: What If God Takes Away My Gift?

What-if-God-Takes-Away-My-Gift-

Aku suka menulis puisi. Dalam puisi, aku merasa bisa menuangkan perasaanku, pemikiranku, juga masalah-masalahku. Puisi pertamaku adalah tentang seorang gadis (kamu pasti sudah menduganya). Aku selalu mengagumi gadis itu dari jauh, namun tidak pernah berani mendekatinya. Puisi menjadi tempat aku menuangkan isi hatiku yang terdalam dan menolongku menerima kenyataan yang ada.

Selama sekian tahun lamanya, aku telah menulis banyak puisi tentang berbagai sisi kehidupanku. Aku merasa Tuhan telah memberkatiku dengan talenta ini. Namun, belakangan, aku merasa kesulitan menulis puisi dengan lancar. Aku pun mulai bertanya-tanya: Apakah aku sudah kehabisan inspirasi? Atau yang lebih parah, apakah aku telah kehilangan talentaku?

Pemikiran itu sangat menggangguku. Adakalanya aku berusaha keras menulis sembari mendengarkan musik—berusaha menghasilkan sebuah karya yang setidaknya puitis. Tetapi, sia-sia. Aku jadi penasaran, apa gerangan yang dilakukan para penyanyi untuk bisa mempersiapkan pertunjukan-pertunjukan yang spektakuler dan bagaimana caranya para penulis lagu bisa selalu menggubah lagu yang luar biasa. Bagaimana agar aku sendiri bisa mendapatkan lebih banyak inspirasi? Hal-hal apa saja yang telah memberiku inspirasi pada masa lalu?

Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya membawaku memikirkan pertanyaan yang lebih besar. Apakah menulis puisi telah menentukan identitasku, sehingga itu menjadi begitu penting bagiku? Apakah aku merasa harus terus menghasilkan puisi karena merasa itulah yang diharapkan orang dariku? Kapankah sesuatu yang awalnya merupakan caraku mengekpresikan diri telah berubah menjadi sesuatu yang harus selalu aku lakukan, selalu aku kembangkan, selalu aku andalkan?

Lalu sebuah jawaban terlintas di benakku: dalam kehidupan yang begitu besar dan luas ini, puisi itu sendiri sebenarnya tidak berarti apa-apa. Yang jauh lebih penting, Tuhan mau aku menggunakan setiap hal yang telah Dia berikan kepadaku saat ini untuk memuliakan-Nya. Seorang musisi yang mengawali karirnya dengan tampil memainkan musik di atas panggung, setelah kurun waktu tertentu bisa saja merasa sudah saatnya ia mengambil peran sebagai seorang pengajar yang menolong orang lain untuk mengapresiasi karya-karya musik. Musik tetap menjadi karunia dasarnya, tetapi caranya memakai karunia tersebut bisa berkembang, bisa berubah.

Tetapi, bagaimana bila musisi tersebut kemudian kehilangan salah satu tangannya, atau penglihatannya, dan tidak lagi dapat memainkan atau mengajarkan musik? Pada situasi yang demikian, yang dapat kita lakukan adalah berserah sepenuhnya kepada Tuhan yang Mahakuasa, percaya bahwa Dia memiliki tujuan atas situasi yang diizinkan-Nya terjadi itu, dan bahwa Dia akan terus bekerja di dalam hidup kita. Ayub adalah contoh yang baik. Ketika Allah mengizinkan ia kehilangan semua yang ia miliki, Ayub sadar penuh bahwa semua milik-Nya berasal dari Tuhan. Sebab itu, ia menolak nasihat isterinya untuk mengutuki Allah dan mengakhiri hidupnya. Sebaliknya, ia menghadap Tuhan dengan kerendahan hati dan menyatakan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21)

Hari ini, aku tidak menulis puisi sebanyak dulu. Tetapi, aku mulai mengekpresikan diriku dalam berbagai hal lainnya, misalnya dengan menulis artikel dan menjadi mentor bagi orang lain—bentuk-bentuk pelayanan yang tidak pernah aku bayangkan 10-15 tahun lalu. Sekalipun aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi di masa depan dan ke mana Tuhan akan menuntun langkahku, aku dapat dengan yakin menyatakan: selalu ada tujuan dalam segala sesuatu yang Tuhan buat.

 

Ketika kering dan hampa terasa
Pikiran yang biasanya berkarya
Terkatup mata dalam doa bertanya
Adakah yang kulewatkan tanpa sengaja?

Kini kusadari talenta itu karunia belaka
Sebab itu, aku belajar percaya
Apa pun yang hari ini menjadi bagianku
Diberikan untuk kebaikanku dan kemuliaan Tuhanku

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2015: Mengejar Kesuksesan, Artikel, Pena Kamu

16 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!