#Selfie

Oleh Karen Kwek, Singapura
Ilustrator: Marie Toh

Lihat! Aku sedang di Peru—di depan reruntuhan Machu Picchu, reruntuhan kerajaan Inka.

Ini juga aku, lagi seru nonton konser.

Lihat lagi nih, aku siap menyantap iga bakar ukuran jumbo.

Nah, yang ini aku baru keluar salon dengan model rambutku yang baru.

Halaman demi halaman profil media sosialku menyentakku dengan sebuah kebenaran. Aku adalah seorang yang ketagihan selfie. Dan, aku tidak sendirian.

Potret diri sendiri jelas bukanlah hal yang baru. Selama berabad-abad, para seniman telah membuat gambar diri mereka agar dapat dikenal generasi berikutnya. Namun, belakangan ini, ponsel pintar dengan kamera depan telah membuat orang sangat mudah memotret diri sendiri. Kita tidak perlu menjadi seorang seniman seperti Van Gogh dulu untuk bisa membuat gambar diri yang siap dipamerkan di hadapan banyak orang. Cukup menekan satu tombol saja, foto kita bisa meraih banyak hati di Instagram atau banyak jempol di Facebook. Kita tidak hanya sibuk ber-selfie-ria, kita juga sibuk saling memberi komentar tentang selfie. Setelah dinobatkan oleh Kamus Oxford sebagai kata terpopuler tahun 2013, kata selfie akhirnya resmi dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris tersebut pada bulan Juni 2014. Suka atau tidak suka, selfie ada di dalam dunia kita.

Namun, bagaimana mungkin orang tidak suka selfie? Kita tidak lagi perlu menyetel pengaturan foto otomatis lalu berlari-lari untuk mengambil posisi sebelum sinyal merah pada kamera berhenti berkedip. Kita tidak lagi perlu khawatir hasil foto kita kabur, atau ibu jari kita kelihatan karena hanya bisa mengira-ngira posisi yang tepat saat kamera dihadapkan kepada kita. Kita juga tidak perlu repot-repot datang ke studio foto. Sekarang sudah tersedia juga sejumlah aplikasi ponsel yang memberi petunjuk bagaimana memposisikan kepala dan kedua belah bahu dengan tepat, agar kita bisa membuat pas foto resmi sendiri. Kita bahkan bisa mengambil foto berulang kali sampai senyum kita terlihat sempurna, karena—jujur saja—kita sendirilah yang paling bisa menilai foto mana yang ingin kita tampilkan kepada dunia.

Fenomena selfie membuatku bertanya: apakah selfie hanyalah sebuah cara yang menyenangkan untuk mengabadikan dan membagikan cerita hidup kita kepada teman-teman kita, ataukah ada sesuatu di balik tren ini yang penting untuk kita cermati, lebih dari sekadar memuaskan mata? Mungkinkah hobi selfie menunjukkan sesuatu yang lebih dalam tentang motivasi kita, sikap-sikap kita, dan apa yang kita pikirkan tentang diri kita?

Rasa Tenteram yang Semu
Pada bulan April 2014, seorang bernama Radhika Sanghani menulis sebuah artikel untuk surat kabar UK’s Telegraph. Ia mengamati bahwa orang sepertinya menemukan semacam rasa aman dengan terus menerus berada di depan sekaligus di belakang kamera:

Saat aku bicara dengan teman-temanku yang paling sering selfie, mereka sepakat bahwa mereka merasa tenteram bila memiliki kendali atas gambar diri mereka. “Lebih mudah menyunting dan mengontrol foto yang kamu ambil sendiri daripada foto yang diambil orang lain,” kata seorang teman. “Kamu dapat membuat fotomu terlihat lebih baik.”

Wajar saja jika kita ingin dilihat dalam penampilan terbaik kita. Siapa juga yang mau tampil asal-asalan saat menghadiri sebuah acara atau wawancara pekerjaan? Akan tetapi, media sosial sepertinya telah menaikkan standar itu dengan memberi kesempatan yang lebih luas untuk menampilkan sisi terbaik kita. Ketika foto-foto selfie kita terpasang di sana, dunia dapat melihat lebih banyak sisi kehidupan kita, dan kita pun bisa mengetahui pandangan orang tentang diri kita. Dalam artikelnya, Sanghani berpendapat bahwa ber-selfie-ria menunjukkan keinginan untuk “diperhatikan dan diterima dalam masyarakat”. Penerimaan ini seringkali diukur dengan jumlah “like” yang kita peroleh—sebab itu orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu mengapa foto tertentu mendapatkan “like” lebih banyak dari yang lain. Tanpa disadari kita bisa membiarkan orang lain menentukan apa yang bernilai bagi kita dan mendefinisikan identitas kita.

Ketika nilai diri kita didasarkan pada pengakuan orang lain, hati kita akan sangat sulit untuk merasa tenang. Kita terus-menerus merasa perlu memperbarui halaman profil kita. Dengan menekan sebuah tombol, kita menghapus semua yang tidak sesuai dengan citra yang ingin kita tampilkan. Kita hanya menyunting, menyimpan, dan mengirimkan foto-foto aktivitas kita yang paling keren sepanjang minggu. Kita khawatir kalau-kalau “diri kita yang sesungguhnya” tidak diwakili dengan baik oleh foto-foto kita.

Tidak heran bila sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 di UK menemukan hubungan kecanduan selfie dengan masalah citra diri. Studi yang melibatkan lebih dari 2.000 pria dan wanita berusia 18-30 tahun itu menemukan bahwa orang-orang yang secara teratur mengambil foto selfie memiliki perasaan rendah diri. Tetapi, mengapa harga diri kita begitu rapuh? Apakah itu disebabkan kita selalu bertanya pada diri kita: Layakkah aku? Siapa yang mau menyukai dan menerimaku?

Nilai Diri yang Sejati
Bagaimana bila ternyata ada cara yang lebih baik untuk menilai diri kita daripada mencari pendapat orang lain? Bagaimana bila ada seseorang yang dapat mengetahui segala sesuatu tentang diri kita dan tetap menerima kita apa adanya—lengkap dengan segala kekurangan kita? Dan, bagaimana bila pendapat orang itu adalah satu-satunya pendapat yang benar-benar penting?

Berita baiknya, Pribadi itu sungguh ada. Alkitab memberitahu kita bahwa Pribadi ini mengenal kita seutuhnya, bahkan sebelum kita dilahirkan, karena Dialah yang menciptakan kita:

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;
ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,
dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis
hari-hari yang akan dibentuk,
sebelum ada satupun dari padanya.
(Mazmur 139:13-16)

Setiap kita diciptakan secara istimewa. Kita bisa meyakini hal ini tanpa harus mengirim foto selfie dan menghitung jumlah “like”. Mengapa? Karena Dia yang menciptakan kita adalah Pribadi yang memegang otoritas atas segala sesuatu, dan Dia sendiri yang menyatakan hal ini! Siapakah Dia? Dialah Pencipta kita. Dia menghargai kita sebagaimana adanya kita dan tidak menghakimi kita berdasarkan penampilan luar kita.

Dalam kenyataannya, Sang Pencipta ini telah membuktikan betapa Dia menghargai dan mengasihi kita dengan datang sebagai manusia untuk membangun relasi dengan kita. Namanya adalah Yesus Kristus. Betapa hebatnya bisa memiliki sahabat seperti Dia! Lupakan jumlah “like” di media sosial—apa yang bisa lebih hebat daripada menjadi sahabat Sang Pencipta?

Jadi, bagaimana kita harus memandang selfie? Pastinya selfie adalah cara hebat mengabadikan momen-momen penting untuk dapat diketahui oleh generasi mendatang. Namun, jika kita memiliki pemahaman yang utuh tentang siapa diri kita sebagai ciptaan Yesus, kita tidak akan lagi khawatir tentang apa yang dipikirkan orang tentang kita atau foto-foto selfie kita. Mereka tidak akan lagi mendefinisikan identitas kita, karena Yesus telah menyatakan bahwa kita adalah ciptaan yang berharga dan dikasihi-Nya.

Apakah kamu tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang siapa Yesus yang melihat dan menghargaimu sebagaimana adanya, juga tentang undangan persahabatan-Nya? Bukankah akan hebat bisa melihat siapa dirimu menurut pandangan-Nya dan mengenal identitas dirimu yang sejati?

Jika kamu merasa tertantang untuk menemukan identitasmu yang sejati, kami berharap kamu akan mencari tahu lebih banyak tentang undangan persahabatan yang diberikan oleh Yesus. Kami mendorongmu untuk berbicara dengan seorang teman atau staf di gereja yang dekat dengan tempat tinggalmu untuk mengetahuinya lebih lanjut. Kami berharap artikel-artikel yang kami muat di situs web kami juga dapat menolongmu untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

Baca Juga:

Kisahku sebagai Korban Bullying yang Berharga di Mata Allah

Ketika SMA dulu aku sering dibully oleh teman-teman. Akibatnya, untuk membalas perilaku mereka, aku merasa perlu menonjolkan eksistensi diri agar mereka tidak memandang rendah diriku, bahkan kalau bisa supaya mereka takut kepadaku.

Bagikan Konten Ini
22 replies
  1. Joshua Daniel
    Joshua Daniel says:

    great! penjelasan yg cukup utuh mengenai fenomena selfie dipandang dr sisi kemanusiawian kita dan dr segi alkitabiah. sangat memberkati. 🙂

  2. Mimi Sinaga
    Mimi Sinaga says:

    Wow, penjelasannya sangat efektif untuk anak remaja yg sedang membangun citra diri…bahwa selfie hanyalah salah satu bentuk mengabadikan moment2 yg ingin kita kenang kelak..terima kasih untuk penjelasannya

  3. Ayub Rohede
    Ayub Rohede says:

    Ketika nilai diri kita didasarkan pada pengakuan orang lain, hati kita akan sangat sulit untuk merasa tenang.

    Setuju sekali akan hal ini. Bahwa seringkali kita mulai meninggalkan hal2 yg wajar dan melakukan sesuatu yg tdk sesuai dgn hati hanya krn ingin diakui dan diterima.

  4. Henni Mariana
    Henni Mariana says:

    terimakasih karena telah mengubah cara pandang dan motivasiku ketika memposting foto suatu momen. tadinya saya juga suka melihat jumlah like yg ada di postingan saya. tapi dengan ini saya bisa kembali ke motivasi yg sebenarnya…

  5. Lefrandy
    Lefrandy says:

    Karena sesungguhnya hidup kita bukan tentang apa kata orAng terhadap kita tetapi apa kata firman Tuhan terhadap diri kita.. Gbu

  6. Rudy iskandar
    Rudy iskandar says:

    Thx u bgt artikelnya..tajam,mengena dan enak dibacanya,sangat memberkati..

    Yang lbh penting adalah mendapat likes dari Tuhan ketika kita berusaha dengan anugerah dan pertolonganNya utk hidup bagi Yesus dan taat padaNya

  7. Dan
    Dan says:

    Kadang hidup di dunia ini seperti Selfie, kita foto diri kita kemudian kita tunjukkan kepada orang siapa kita. Seperti yg sedang saya hadapi sekarang, saya menunjukkan sikap yg otoriter dan tangan besi mulai dari 2004-2011 banyak yg tersakiti akibat keputusan-keputusan saya. Setelah 2011 saya memutuskan untuk berhenti karena apa yg saya lakukan sangat menyakitkan. Saya tidak bisa berdiri di dua perahu, alasan itu yg membawa saya ke Pelayanan Tuhan, saya harus membantu bukan menghakimi. Saya sadar kekerasan bukan solusi, seperti mendidik anak, pukulan dan hentakan suara tidak akan mengubah anak jadi baik malah anak itu semakin tidak percaya Tuhan. Mungkin tulisan saya ini tidak ada hubungannya dengan judul di atas, tapi satu hal yg manusia tau kita harus seperti Bapa kita di sorga karena kita anak-anakNya. Saya minta maaf terlalu keras menuliskan komentar-komentar, mungkin saya harus belajar untuk menghaluskan tulisan-tulisan saya. Saya mau berhenti menuliskan komentar di warungsatekamu karena banyak yg membully dan tidak suka mungkin berbeda dengan yg diajarkan gerejanya, padahal saya hanya menuliskan apa yg tertulis di Alkitab/Bible sesuai keinginan Tuhan Yesus, mungkin saya butuh waktu untuk belajar menyampaikannya secara halus. Terima kasih admin warungsatekamu sampai detik ini saya tidak di banned atas ke onaran yg telah saya buat. Semoga kita semua berhasil menemukan Kerajaan Tuhan dan kebenaran firmanNya. Dalam beberapa tahun ke depan saya akan menulis buku juga bangun tempat persekutuan doa supaya banyak yg mengerti keinginanNya dan firman-firmanNya, termasuk menulis ulang naskah asli Alkitab/Bible, saya berencana mau buat yayasan yg berbadan hukum untuk menerjemahkan Alkitab/Bible, saya bukannya kecewa dengan terjemahan yg sekarang beredar tapi ada istilah-istilah yg berbeda dengan naskah aslinya, ini harus diluruskan supaya jemaat di bawah gak binggung, seperti penggunaan kata Allah sedangkan di naskah aslinya bukan itu waktu itu Tuhan Yesus menyebut El atau Eloi, kemudian penggunaan kata God menurut saya ini tidak sesuai teks asli Alkitab/Bible. Selain itu ada kalimat-kalimat yg berbeda, kesalahan-kesalahan yg bagi sebahagian orang ini masalah kecil tapi bagi Tuhan Yesus itu harus diperbaiki. Menurut saya penggunaan kata God itu bisa dimain-mainkan, misalnya God Dammed, dll. Intinya nama Tuhan itu sakral, jadi sebaiknya dikembalikan saja kebentuk awalnya. Saya akan kembalikan istilah-istilah itu ke jamanNya Tuhan Yesus. Itulah alasan saya menerjemahkan ulang isi Alkitab/Bible. Semoga kita semakin dekat dengan firman-firmanNya. Amin

  8. tom
    tom says:

    artikel yg bagus. kita sering tdk menyadari sdh terseret mjd selfie. fenomena selfie tambah membuat dunia jd panggung sandiwara. banyak topeng, fokus bkn lagi pada pembangunan karakter. trims artikelnya

  9. Yesi Tamara Sitohang
    Yesi Tamara Sitohang says:

    Terima kasih karena telah berbagi bahan diskusi yang menarik untuk pelayanan saya di kelas remaja. GBU.

  10. Lasealwin
    Lasealwin says:

    Selfie itu biasa saja kalau tujuannya sekedar hiburan. Akan tetapi menjadi bencana saat kita mencari pengakuan dan ketergantungan dengan semuanya itu.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *