Persahabatan Semu

Renungan-Khusus-Persahabatan-dan-Cinta-Hari02

Baca: Yohanes 15:9-17

15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

 

Belum lama ini, aku menerima telepon dari seseorang yang suaranya sangat bersahabat. Ia menyapa nama kecilku dan dengan hangat menanyakan kabarku hari itu. Kemudian, ia memberi tahu bahwa ia dapat menolongku menghemat jutaan rupiah dalam setahun jika aku mau memperbarui kredit rumahku dengan perusahaan tertentu. Namun, begitu ia menangkap bahwa aku tidak tertarik dengan tawaran itu, keakrabannya pun menguap.

Sering kali, berpura-pura akrab sudah dianggap sebagai sikap yang seharusnya ditunjukkan untuk membuat orang lain terkesan atau untuk mendapatkan sesuatu dari mereka. Betapa kontrasnya sikap yang mementingkan diri sendiri itu dengan persahabatan sejati yang dinyatakan Yesus kepada kita. Dia berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Lalu Dia menunjukkan kasih yang rela mengorbankan diri, dengan mati di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Saat mempercayai Yesus sebagai Juruselamat dan belajar menaati-Nya, kita akan menjadi sahabat-Nya. Mengalami persahabatan dengan Yesus akan menolong kita untuk dengan sungguh-sungguh dan tulus menunjukkan sikap bersahabat kepada sesama.

Tuhan, tolonglah kami untuk tidak menunjukkan sikap bersahabat yang semu demi memperoleh apa yang kami inginkan dari orang lain. Ajar kami untuk memancarkan hangatnya sikap bersahabat yang serupa Kristus kepada setiap orang yang kami temui.—DCE
 

Sikap bersahabat yang tulus dapat membawa orang mendekat kepada Kristus.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut:
Pernahkah kamu “memanfaatkan” orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? Apa artinya seseorang “memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” dalam kehidupan sehari-hari?

Bagikan Konten ini
2 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *