Adakah Persahabatan Sejati di Dunia Ini?

Info

Penulis: Soo Yi, Malaysia
Artikel asli ditulis dalam Bahasa Mandarin: 真正的朋友
Are-there-Real-Friendships-in-this-World-

Siapa yang kamu sebut sahabat? Apakah sahabat sekadar orang yang mau menemanimu pergi makan atau nonton film? Orang seperti apakah sahabat itu?

Kita sering menggambarkan sahabat sejati sebagai teman dalam suka dan duka, seseorang yang menghargai kita dan tidak akan menyakiti atau mengkhianati kita. Namun, orang bisa berubah, demikian pula dengan persahabatan.

Ketika aku berangkat untuk studi di Taiwan, aku berusaha untuk mendapatkan banyak teman agar aku tidak kesepian. Banyak di antara mereka suka bersenang-senang—sebagian rela bolos demi itu—dan aku senang berteman dengan mereka. Kami merayakan ulang tahun dan jalan-jalan bersama. Pada saat itu aku merasa bahwa selama aku bersahabat dengan mereka, aku tidak butuh orang lain.

Karena kami senang menghabiskan waktu bersama, kami memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama juga. Pada saat itulah semuanya mulai berubah. Saat mempersiapkan presentasi, kami mulai berbeda pendapat. Beberapa di antara mereka bahkan mencari alasan untuk tidak datang karena mereka tidak ingin mengerjakan presentasi itu. Meski awalnya persahabatan kami cukup erat, perasaan kami terhadap satu sama lain kemudian berubah total. Kami makin sering berbeda pendapat, makin jauh satu sama lain, dan tak lama kemudian kami memilih jalan kami masing-masing.

Aku masih ingin punya sahabat, jadi aku mulai melewatkan waktuku bersama sekelompok teman baru. Kelompok ini senang minum-minum dan menyanyi di klub karaoke. Makin lama kami bersama, aku menyadari bahwa ini pun tidak memuaskan kerinduanku akan persahabatan sejati. Aku merasa hatiku kosong, dan aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apa yang sedang aku lakukan? Sungguhkah mereka ini sahabatku? Adakah persahabatan sejati di dunia ini?

Jawaban dari semua pertanyaan ini kutemukan saat aku mulai kembali datang ke gereja.

Aku adalah orang Kristen “generasi kedua”. Dengan kata lain, aku lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sudah Kristen. Meski begitu, aku tidak suka pergi ke gereja dan sudah lama sekali tidak ke gereja. Tetapi, ada orang yang mengundangku ke gerejanya, dan setelah beberapa waktu lamanya melewatkan waktu bersama teman-teman di sana, aku mulai menyadari bahwa mereka berbeda. Mereka tidak bergosip, namun punya banyak hal untuk diceritakan. Mereka tidak pergi clubbing dan minum-minum, namun mereka penuh canda dan tawa. Mereka tidak saling merendahkan atau mengkritik satu sama lain, namun saling mendengarkan, saling menghibur, dan saling menyemangati. Persahabatan di antara mereka menggugah hatiku. Inikah yang namanya persahabatan sejati?

Sikap mereka membuatku penasaran. Bagaimana mereka bisa demikian? Aku heran. Bagaimana mereka bisa tergerak untuk memperhatikan satu sama lain dan melakukannya dengan penuh sukacita?

Aku kemudian menemukan sumber persahabatan mereka—kasih. Orang-orang ini dapat mengasihi satu sama lain karena mereka melakukannya dengan kasih Kristus. Mereka melihat satu sama lain melalui mata Kristus.

Pengalaman itu mengajarkanku beberapa hal baru tentang persahabatan. Kita sering bicara tentang betapa kita menyenangi sahabat-sahabat kita. Tetapi, apakah kita sungguh mengasihi mereka? Mengasihi lebih sulit daripada menyenangi. Dapatkah kita mengasihi sahabat-sahabat kita sepenuhnya? Ya, kita bisa, karena kasih Kristus. 1 Yohanes 4:19 berkata: “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Karena sahabat-sahabat sejati saling mengasihi, mereka saling menolong untuk bertumbuh dan saling menopang ketika ada yang jatuh. 1 Korintus 15:33 berkata, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Para sahabat baruku di gereja juga menunjukkan betapa Tuhan Yesus Kristus adalah sahabat terbaik kita. Hanya Dia yang tidak akan pernah berubah. Kita dapat membagikan segala suka, duka, dan berbagai kesusahan kita kepada-Nya, karena Dia telah berjanji untuk menolong kita, mendukung kita, dan menyertai kita di sepanjang perjalanan hidup ini. Kita dapat bergantung sepenuhnya kepada-Nya, apa pun situasi yang sedang terjadi.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 08 - Agustus 2015: Sahabat Sejati, Artikel, Pena Kamu

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!