Remedial (Bagian 1)

Info

Oleh: Hana Maria Boone
Mengenang para korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501

Remedial Bagian1

Aku mencoret-coret kertas buram di hadapanku. Belum, belum ketemu. Aku melihat jam yang bertengger di tangan kiriku, waktuku semakin menipis. Aku merasakan pori-pori pelipisku tergelitik oleh embun-embun keringat yang merembes keluar dari bawah kulitku. Sulit sekali. Aku sedikit melirik ke arah guruku, salah satu guru yang sangat baik hati, berharap ia melihat aku begitu kesulitan dan akan membantuku. Tidak ada respons.

“Aku duduk di paling belakang, Pak, tidak akan ada yang tahu bila Bapak menyelipkan sesuatu ke bawah kertasku!” aku menggerutu dalam hati.

Namun, sampai alarm berdering, ia tak jua melakukannya. Aku menyerah. Aku tak dapat menyelesaikan soal terakhir. Jadi, kutuliskan saja angka asal dari perhitunganku yang kacau balau, lalu kuserahkan padanya. Ia tersenyum ketika menerima lembar jawabku. “Well done!” katanya, sambil menepuk ringan pundakku. Aku tersenyum masam, bukan karena tak senang akan perkataannya, tetapi karena malu, aku tahu betul apa yang kuserahkan tidak cukup “well done”.

Sepanjang sisa hari itu di sekolah aku tidak bisa berhenti memikirkan sikap guruku. Aku sudah belajar semampuku, dan ia mengetahuinya. Mengapa ia tidak membantuku barang sedikit saja? Bisa dibilang aku ini salah satu murid terbodoh di kelas fisika. Belajar sampai jungkir balik pun, paling banter aku hanya dapat nilai 50.

Dua minggu yang lalu—ini sebenarnya rahasia—aku menawarkan sejumlah uang kepadanya, memohon dengan sangat agar ia membantuku untuk ujian kali ini. Ia menolak uang itu dan mengatakan bahwa ia pasti membantuku menghadapi ujian itu. Aku sudah menantikan bantuan itu dari tadi, tetapi mana?? Meski kulirik berkali-kali, ia hanya tersenyum dan kembali berkeliling. Mungkin itu sebabnya ia tidak mau menerima uangku. Yah, lumayanlah orangnya masih baik, daripada mau terima uang dan tidak membantu.

Kriiiiiiinnnngggg!!!

Aku terperanjat dan air liurku terjuntai panjang ketika aku mengangkat kepala. Iyuuuuh… buru-buru aku mengelapnya berharap tidak ada yang memperhatikan. Aku mengantuk sekali, dan sangat bersyukur jam-jam siput ini akhirnya berlalu juga. Bergegas aku meraih ranselku dan bersiap pulang. Perjalanan masih panjang, aku masih harus naik kereta untuk tiba di rumah. Aku berharap bisa segera sampai di rumah, cuci kaki dan ganti baju santai, kemudian membiarkan diriku ambruk di atas puluhan kilogram kapuk.

Dengan langkah agak diseret akhirnya aku tiba di stasiun kereta. Ketika pintu terbuka; aku membayangkan betapa enaknya jika pintu ini sama lebar dengan gerbongnya sehingga kami tidak perlu berdesak-desakan masuk seperti orang berebut sembako. Rasanya penat sekali, seperti mau pingsan. Masih bisa mendapatkan tempat duduk membuatku sangat senang, meski hanya sebentar. Segera aku melihat seorang perempuan setengah baya membawa dua kantong plastik besar yang terlihat cukup berat. Sebagai seorang pria, rasanya tak jantan bila membiarkannya berdiri dengan kedua kakinya yang sudah tidak kokoh lagi. Aku pun berdiri, mempersilakan ibu itu duduk di tempatku. Dengan wajah penuh syukur ia menatapku, mengucapkan banyak terima kasih.

Untuk menghapus rasa kantuk dan bosan, aku mengamat-amati orang-orang yang ada di kereta. Beberapa suster dari biara sedang asyik bercakap-cakap di seberangku.

“Mengapa ya wanita-wanita ini ingin menjadi suster? Apakah mereka begitu putus asanya tidak mendapatkan pasangan?” aku cekikikan dalam hati.

Di belakang mereka ada anak kecil yang lucu. Wajahnya bulat berseri dalam dekapan ibunya. Lalu, pandanganku menyapu beragam wajah lainnya. Humm…. ekspresi mereka tak cukup menjelaskan apa latar belakang mereka; dalam hati aku menerka-nerka mana yang baik dan mana yang jahat.

Iseng-iseng aku melirik penumpang yang duduk di sebelahku, seorang pemuda yang cukup tampan dan terlihat cerdas. Entah ia memang pintar atau persepsiku agak terpengaruh oleh jas almamater Universitas Indonesia yang dipakainya. Dari posisiku berdiri, layar ponselnya tampak jelas.

Jenny: Jadi aku harus ngapain donk?
Johan: Maafin dia Jen …

Sudah, cuma itu yang aku lihat, aku tidak terlalu kepo kok.

“Rasanya 5 menit lagi samp….”

Sebelum kalimat itu selesai melintasi otakku, roda kereta api telah melintas keluar dari rel, melindas tanah berbatu. Yang kuingat saat itu hanyalah suara yang sangat bising, semua orang berteriak, sementara aku sendiri terlontar, terbentur, dan semua terasa kacau.

Sesaat semua menjadi gelap. Ketika aku membuka mata, aku melihat tubuhku sendiri tergeletak di hamparan darah. Ada banyak orang yang berteriak dan menangis, namun lebih banyak yang tergolek tak berdaya.

Suara ambulans terdengar samar-samar. Entah bagaimana aku bisa melihat semua dengan jelas, termasuk bagaimana kemudian dua pasang tangan mengangkatku, menaikkan tubuhku yang berdarah-darah ke atas tandu, dan membawaku pergi. Seperti tersihir, mataku tak bisa beralih dari tontonan mengerikan ini. Lalu, aku melihat sesuatu. Pemandangan yang begitu indah, tak terlukiskan oleh kata-kata, beberapa saat sebelum semuanya kembali menjadi gelap.

Entah berapa lama aku tertidur. Belakangan aku diberitahu itu adalah hari kesepuluh aku di rumah sakit. Tanganku mulai bergerak, dan itu membuat semua orang di ruangan berseru, “Haleluya!” Telingaku dapat mendengarnya, tetapi aku sendiri masih seperti berada di dunia lain hingga sebuah suara menyuruhku kembali.

Saat itu juga mataku terbuka dan aku melihat ibuku menangis. Seruan “Haleluya!” kembali memenuhi ruangan. Tanteku segera mendekapku dan berkata “Tuhan itu baik, menyelamatkan kamu.”

Spontan muncul pertanyaan dari dalam diriku, “Apakah Tuhan menjadi tidak baik, jika Dia tidak menyelamatkan diriku?” Namun, aku masih terlalu lemah untuk mengucapkan apa-apa.

Semua yang sempat kulihat pada hari kecelakaan itu mengalir deras dalam pikiranku. Begitu juga hal-hal yang aku “lihat” selama aku terbaring koma. Menurut berita, 98 orang dinyatakan meninggal dalam kecelakaan kereta itu. Semua orang di gerbongku meninggal, kecuali aku.

“Mengapa Tuhan selamatkan aku? Mengapa bukan orang yang lain? Masih banyak orang di gerbong itu yang jauh lebih baik daripada diriku.” Air mataku menetes. Aku terisak. Bukannya aku tak bersyukur karena Tuhan telah menyelamatkan aku. Tetapi, apa yang harus aku katakan pada dunia? “Tuhan sangat mengasihiku, sebab itu aku dilindungi-Nya”? Itukah yang harus aku katakan? Di benakku membayang wajah-wajah mereka yang kutemui di kereta. Tidakkah Tuhan mengasihi mereka juga?

Bersambung …

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 07 - Juli 2015: Bukan AKU Lagi, Cerber, Pena Kamu

1 Komentar Kamu

  • Sungguih sangat menarik artikel yg dimuat ini yang merupakan renungan saya di pagi hari, satu hal yang hanya saya dapat katakan dalam artikel ini yaitu,Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji matamu, dengan apakah kubalas Tuhan selain puji dan sembahkan,terima kasih Tuhan Yesus, Terpujilah namamu bapa disurga, Amin

Bagikan Komentar Kamu!