Remedial (Bagian 2 – selesai)

Info

Oleh: Hana Maria Boone

Cerita sebelumnya …

Remedial Bagian2

Setelah sekitar tiga minggu dirawat, aku akhirnya diizinkan pulang ke rumah. Seperti yang sudah kuduga, aku segera diminta untuk membagikan kisahku. Kerabat, tetangga, teman-teman sekolah dan gereja, berkumpul untuk sebuah ibadah syukur.

Kisah apa yang akan aku katakan? Panggung sudah siap untuk menjadi tumpuanku berbagi cerita penuh mukjizat. Ibuku duduk di sampingku, berusaha menguatkanku, “Kamu sang penerima mukjizat!” katanya.

Aku menghela napas panjang, “Ya! aku sang penerima mukjizat, dan aku siap berkata-kata!” Aku berdiri di atas panggung, sedikit canggung, memegang mikrofon dengan linglung. Aku menyendengkan kepalaku ke kiri sesaat, kemudian kembali ke posisi semula. Semua orang menatapku. Aku tidak pernah bicara di depan orang sebanyak ini.

“Hari itu…”

Kronologis peristiwa mulai mengalir keluar dari mulutku, dan orang-orang berseru “Haleluya, halelulya!” padahal aku belum menyentuhkan nama Tuhan sedikit pun pada ceritaku. Aku tahu apa yang mereka harapkan, tetapi itu belum tentu apa yang Tuhan harapkan. Jadi aku bicara apa adanya, tentang semua yang aku pikirkan, setelah mengisahkan apa yang aku alami.

“Aku mungkin salah satu orang yang paling tak beruntung di antara mereka, karena aku harus menunggu kereta lain untuk membawaku bertemu Tuhan….”

Ruangan itu mendadak jauh lebih senyap.

“Tetapi, aku pikir, aku juga adalah salah satu orang yang paling beruntung karena diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupku.”

Aku berhenti sebentar untuk menata emosiku.

“Peristiwa ini membawa aku merenungkan jalan hidup manusia yang berbeda-beda. Apakah aku dicintai Tuhan? Apakah mereka yang telah pergi tidak dicintai Tuhan? Apakah keluargaku dicintai Tuhan? Apakah keluarga-keluarga yang saat ini hanya bisa bertemu dengan yang mereka kasihi dalam memori, tidak dicintai Tuhan?”

Aku memandang seluruh ruangan. Semua mata memperhatikanku. Aku menelan ludah. Mengeluarkan secarik kertas dari saku celana.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55:8-9.”

“Aku selamat bukan karena aku lebih suci atau lebih dicintai Tuhan daripada mereka. Hanya, dalam rancangan-Nya yang tidak seluruhnya kupahami, Tuhan memandang mereka lebih baik di sana, dan aku lebih baik di sini.”

“Apa bedanya keluargaku dan keluarga mereka? Dalam kebijaksanaan Tuhan, keluargaku diminta untuk menerimaku kembali, dan keluarga mereka diminta untuk melepaskan mereka, sehingga nyata betul betapa kami tidak memegang kendali atas hidup ini, dan betapa kami membutuhkan Tuhan untuk bahagia yang sejati.”

Suaraku mulai bergetar, aku dapat merasakan air mata membasahi pipiku. Dengan tangan yang juga gemetar aku mengusap kasar pipiku dan terdiam sejenak. Membayangkan kembali apa yang kulihat hari itu. Setelah merasa mendapatkan kekuatan kembali, aku pun melanjutkan.

“Hari itu di tempat kejadian aku melihat tangan Tuhan memegang mereka ketika mereka pergi. Aku melihat ibu yang kuberi tempat duduk, aku melihat para suster, aku melihat seorang ibu yang mendekap anak balitanya, aku melihat seorang pemuda dari Universitas Indonesia, mereka semua dipeluk oleh Tuhan. Aku melihat tangan Tuhan memegang tangan mereka, dan bukan hanya mereka.”

“Aku pun teringat ada janji Tuhan dalam Alkitab, bahwa barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memasuki kehidupan kekal bersama Tuhan selamanya. Bukankah itu adalah janji untuk kehidupan baru setelah waktu kita di bumi ini selesai? Bukankah kebahagiaan dan kejayaan yang tidak akan berakhir adanya bukan di dunia ini, tetapi di surga nanti?”

Hening. Beberapa orang mulai menangis, beberapa memandangku tanpa ekspresi yang jelas, beberapa mengernyitkan dahi, dan beberapa memasang wajah simpatik. Tak ada lagi yang berani berteriak “Haleluya” atau “Puji Tuhan.” Semua diam seribu bahasa.

“Aku teringat pada guruku yang baik hati. Hari itu aku memohon kepadanya untuk membantuku dalam ujian, dengan memberikan bocoran jawaban, tetapi pada saat ujian ia hanya mendampingiku dan tersenyum. Selama ini aku berpikir bahwa ia tidak sedang membantuku. Kini aku ingat, bahwa dua minggu sebelum masa ujian tiba, ia meluangkan waktunya setiap hari memberi pelajaran tambahan khusus untukku. Ia melakukan semua itu tanpa mengharapkan imbalan, untuk membantu aku dengan cara yang benar.” Aku mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Berharap bisa melihat sosok yang baik hati itu.

“Guru yang baik tidak menjanjikan ujian yang mudah, tetapi ia menjanjikan kelulusan bagi mereka yang mengerjakannya sesuai dengan apa yang diajarkan. Guru yang baik tidak akan membuat anak-anak didik mereka malas belajar dengan memberi bocoran jawaban. Guru yang baik akan melepas murid-muridnya untuk berjuang menghadapi ujian yang sulit, setelah sebelumnya memberikan semua persiapan yang dibutuhkan. Ia akan mendorong mereka untuk meraih apa yang dijanjikannya, kepintaran dan kelulusan jika mereka sungguh-sungguh melakukan apa yang ia ajarkan.”

“Aku sadar sikapku kepada Tuhan seringkali sama seperti sikapku terhadap guruku yang baik hati itu. Well, mungkin bukan hanya aku. Jujur saja, bukankah seringkali kita menjadi murid-murid yang culas? Meminta jalan pintas yang mengenakkan kita saja, bahkan seringkali berusaha menyuap Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau…”

Aku memandang ibuku menyeka matanya yang basah. Lalu tanteku, orang-orang gereja, teman-temanku. Semua yang hadir.

“Aku merasa tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua ini…”

“…tetapi selama aku masih diizinkan Tuhan berada dalam sekolah kehidupan, aku ingin menjadi murid yang terbaik. Saat kelak giliranku tiba memasuki kehidupan yang baru itu, aku ingin menghadap-Nya dengan hati lega, aku ingin sudah siap menerima mahkota. Inilah mukjizat yang Tuhan sudah berikan untukku… sebuah remedial.”

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 07 - Juli 2015: Bukan AKU Lagi, Cerber, Pena Kamu

11 Komentar Kamu

  • dahsyat Tuhanku…

  • sangat terberkati.
    Tuhan yesus memberkati kita dengan berkatnya melimpah.
    Biarlah Tuhan memperbaharui hidup kita setiap waktu,serahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan.

  • Samuel San Parulian

    ya Tuhan saya sangatlah lemah, sangatlah rentan, sangatlah labil, tapi ya Tuhan saya meminta kekuatan agar saya bisa lurus terus di jalanmu dan juga menjadi pengikut setiamu. terima kasih ya Tuhan, saya senang memiliki Tuhan sepertimu. amin.

  • Terimakasih untuk Kisah yang sangat Luar Biasa ini,, kiranya aku, kamu dan kita semua dapat menjadii murid terbaik Sang Guru Sejati..
    TErpujilah Nama Tuhan

  • Hehehe cerita yang sangat bagus, mengambil sudut pandang berbeda ketika menerima anugerah Tuhan, a divine question and divine answer, so wise…

  • Natanael Andra Widyaatmaja

    Berharap banget cerita Hana ini bakal mencelikkan perspektif atau cara pandang ‘beberapa orang Kristen’ tentang pengertian mukjizat yang seringkali diukur pake standar manusia. Padahal rancangan Allah dan standarNya jauh lebih tinggi, mulia dan beyond our measures 🙂

  • amin….

  • Natalia Aritonang

    dahsyat sekali,hal ini sama seperti saat saya bersaksi hari minggu yang lalu diSolo digereja yang saya tinggalkan selama 5tahun karna merantau diTangerang.Tuhan tuntun dan mampukan setiap kita yang mengandalkan-Nya.Gbu

  • Terima kasih hana, mengingatkan saya bersyukur & berjuang untuk kesempatan yang Tuhan berikan kpd saya dlm kehidupan ini. Menjalaninya sangatlah gentar, sifat manusia yg membuat saya terkadang ragu & takut, lemah tidak berdaya karena dosa… tapi pada saat itulah justru Tuhan kuat berkuasa atas hidup saya, pelihara saya dan berikan pengharapan. Sungguh besar kasihNya, it is beyond our measures.

  • Oh Haleluya! Sangat terberkati dan terharu membaca artikel ini. Aku ingin hidup untuk Tuhan lebih lagi dan menyenangkanNya lebih lagi. Amin.

  • Luar biasa ceritanya sangat menggugah! Semoga penulisnya dipakai Tuhan lebih lagi..

Bagikan Komentar Kamu!