Memegang Pensil

Selasa, 28 Juli 2015

Memegang Pensil

Baca: Hakim-Hakim 2:11-22

2:11 Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

2:12 Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN.

2:13 Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.

2:14 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka.

2:15 Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka, sesuai dengan apa yang telah diperingatkan kepada mereka oleh TUHAN dengan sumpah, sehingga mereka sangat terdesak.

2:16 Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu.

2:17 Tetapi juga para hakim itu tidak mereka hiraukan, karena mereka berzinah dengan mengikuti allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Mereka segera menyimpang dari jalan yang ditempuh oleh nenek moyangnya yang mendengarkan perintah TUHAN; mereka melakukan yang tidak patut.

2:18 Setiap kali apabila TUHAN membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka TUHAN menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh mereka selama hakim itu hidup; sebab TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka.

2:19 Tetapi apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu.

2:20 Apabila murka TUHAN bangkit terhadap orang Israel, berfirmanlah Ia: “Karena bangsa ini melanggar perjanjian yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyang mereka, dan tidak mendengarkan firman-Ku,

2:21 maka Akupun tidak mau menghalau lagi dari depan mereka satupun dari bangsa-bangsa yang ditinggalkan Yosua pada waktu matinya,

2:22 supaya dengan perantaraan bangsa-bangsa itu Aku mencobai orang Israel, apakah mereka tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, atau tidak.”

Dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu. —Hakim-Hakim 2:19

Memegang Pensil

Dahulu di kelas satu, ketika saya belajar menulis huruf, ibu guru mengharuskan saya memegang pensil dengan cara tertentu. Manakala ia mengawasi saya, saya berusaha memegang pensil sesuai dengan cara yang diajarkannya. Namun saat ia berpaling ke arah lain, saya pun bersikeras kembali memegang pensil dengan cara yang saya anggap lebih nyaman.

Waktu itu saya pikir sayalah yang benar jadi saya masih tetap memegang pensil sesuai cara saya sendiri. Namun puluhan tahun kemudian, saya menyadari bahwa guru saya yang bijak itu tahu bahwa kebiasaan saya yang tidak benar dalam memegang pensil akan membuat saya terbiasa menulis dengan cara yang buruk dan akibatnya tangan saya menjadi lebih cepat lelah.

Anak-anak jarang mengerti apa yang baik untuk mereka. Mereka hampir melakukan segala sesuatu menurut apa yang mereka inginkan pada saat itu juga. Mungkin itulah mengapa umat Israel disebut “anak-anak Israel”, karena dari generasi ke generasi, mereka bersikeras menyembah ilah bangsa-bangsa di sekeliling mereka daripada menyembah Allah yang esa dan sejati. Perbuatan mereka membangkitkan murka Tuhan karena Dia tahu apa yang terbaik, dan Dia menjauhkan berkat-Nya dari mereka (Hak. 2:20-22).

Pendeta Rick Warren berkata, “Ketaatan dan sikap keras kepala adalah dua sisi dari koin yang sama. Ketaatan akan membawa sukacita, tetapi sikap keras kepala membuat kita sengsara.”

Jika jiwa yang memberontak telah membuat kita menolak untuk menaati Allah, sudah saatnya hati kita berubah. Kembalilah kepada Tuhan; Dia itu murah hati dan berbelas kasihan. —Cindy Hess Kasper

Bapa Surgawi, Engkau penuh kasih dan murah hati, dan bersedia mengampuni saat kami datang kembali kepada-Mu. Kiranya kami mengejar-Mu dengan sepenuh hati dan tak bersikap keras kepala dengan mengingini sesuatu menurut cara kami.

Awalnya kita membentuk kebiasaan; kemudian kebiasaan itu membentuk kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 46–48; Kisah Para Rasul 28

Bagikan Konten Ini
13 replies
  1. melvin Tobondo
    melvin Tobondo says:

    Yah Tuhan Allah bapa kami Yesus Kristus Tuhan kita yang bertahta didalam kerajaan surga, kami datang kepadamu untuk mengucap syukur atas segala kemurahan dan berkat serta kasih sayangmu yang telah engkau berikan didalam kehidupan keluarga kami,tuntun dan bimbinglah kami Tuhan agar kami tetap taat dan setia melaksanakan segala perintah-perintah dan kehendakmu didalam kehidupan kami,terpujilah namamu bapa disurga dari kekal hingga kekal sampai selama-lamanya, Haleluya, Amin

  2. Claudia Angraeni Purba
    Claudia Angraeni Purba says:

    ya Bapa, biarlah Engkau terus bentuk kami anak2Mu ini. supaya apa yg kami lakukan semuanya seturut kehendakMu saja , Bapa. Amen.

  3. John Warkudara
    John Warkudara says:

    renungan yang luar biasa. Semoga kita bisa mengubah kebiasaan kita yang tidak berkenan di hadapan Allah.

  4. Nimrod Sitorus Pane
    Nimrod Sitorus Pane says:

    Allah bapa ampuni kami dan ubah kami jadi pribadi yg tidak keras kepala dan rendah hati. supaya Engkau la yang selalu kami muliakan.Amin

  5. YanLis Lase
    YanLis Lase says:

    Bapa Surgawi, Engkau penuh kasih dan murah hati, dan bersedia mengampuni saat kami datang kembali kepada-Mu. Kiranya kami mengejar-Mu dengan sepenuh hati dan tak bersikap keras kepala dengan mengingini sesuatu menurut cara kami.

  6. galih
    galih says:

    Terpujilah ALLAH BAPA Yang Bertakhta di dalam Kerajaan Sorga , kasih menuntun kita untuk saling berbagi terutama bagi mereka yang membutuhkan baik dengan perbuatan , penghiburan , kebutuhan mereka meskipun itu kecil , tapi itu merupakan kasih yang besar. Gbu us all. Amen

  7. Ellynda Rusdiana Dewi
    Ellynda Rusdiana Dewi says:

    Amen
    Jadikan dan bentuklah karakter kami sesuai dan seturut kehendak-Mu ya Allah.
    GBu

  8. Elsaday
    Elsaday says:

    Amin. Puji Tuhan, sudah diingatkan tentang kebiasaan yg membentuk karakter kita. Trimakasih, Tuhan Yesus memberkati.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *