Karunia Air Mata

Info

Sabtu, 30 Mei 2015

Karunia Air Mata

Baca: Yohanes 11:32-44

11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:

11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"

11:35 Maka menangislah Yesus.

11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"

11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."

11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"

11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Maka menangislah Yesus. —Yohanes 11:35

Karunia Air Mata

Suatu hari saya menelepon seorang teman lama ketika ibunya meninggal dunia. Ibunya adalah teman dekat ibu saya, dan sekarang mereka berdua telah berpulang ke rumah Bapa. Sepanjang perbincangan itu, luapan emosi kami berdua mengalir bergantian dengan bebas—ada air mata kesedihan karena mengenang ibunya yang telah tiada, tetapi ada air mata tawa ketika kami mengingat kepribadiannya yang menyenangkan dan penuh perhatian.

Banyak dari kita pernah mengalami pergantian emosi dari air mata hingga tawa bahagia. Ketika emosi dukacita dan sukacita dapat disalurkan secara fisik dengan menangis, itu merupakan karunia yang luar biasa mengagumkan.

Karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26), dan humor adalah bagian yang tak terpisahkan dari setiap budaya, saya membayangkan Yesus pasti memiliki selera humor yang mengagumkan. Namun kita tahu bahwa Dia juga mengenal rasa sakit dari dukacita. Ketika sahabatnya Lazarus meninggal, Yesus melihat Maria menangis, dan terharulah hati-Nya. Tidak lama kemudian, Dia juga mulai menangis (Yoh. 11:33-35).

Kemampuan kita untuk mengungkapkan emosi dengan air mata adalah sebuah karunia, dan Allah memperhatikan setiap air mata yang kita keluarkan. Mazmur 56:9 berkata, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu . Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” Namun kelak—kita telah dijanjikan—“Allah akan menghapus segala air mata”(Why. 7:17). —Cindy Hess Kasper

Tuhan, Engkau telah menciptakan kami untuk bisa tertawa, menangis, berseru, dan mengasihi, serta merindukan mereka yang telah pergi mendahului kami. Tolong kami untuk mengasihi lebih dalam lagi, dengan mempercayai kebaikan-Mu dan kebangkitan yang Engkau janjikan.

Bapa Surgawi yang penuh kasih telah menghapus dosa kita dan Dia juga akan menghapus air mata kita.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 10-12; Yohanes 11:30-57

Photo credit: CarbonNYC [in SF!] / Foter / CC BY

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

12 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!