Tentang Cinta dan Pernikahan: Siapakah “Jodohku”?

Oleh: Kezia Lewis
(artikel asli dalam bahasa Inggris: Of Love And Marriage: Who Is “The One”?)

Of-Love-and-Marriage--Who's-the-One-

 
Aku baru menikah selama 4 tahun dari 34 tahun usiaku, jadi jelas aku bukan seorang pakar tentang cinta dan pernikahan. Namun, karena aku sudah menikah, aku sering ditanyai oleh banyak teman yang masih lajang: “Bagaimana kamu tahu bahwa Jason, suamimu, adalah ‘jodohmu’?”

Jadi, bagaimana aku tahu?

Dulu aku juga suka menanyakan hal yang sama. Aku sangat percaya bahwa Tuhan menyediakan seorang pria tertentu bagiku. Aku ada dalam sebuah perjalanan panjang untuk menemukan jodohku itu. Tetapi, pada saat yang sama aku pun bertanya-tanya: ”Bagaimana aku bisa mengenali siapa jodohku, orang yang tepat untukku?”

Aku bergumul cukup lama dengan pertanyaan ini. Bagaimana gerangan aku bisa tahu apakah pria di depanku adalah orang yang seharusnya kunikahi? Perasaan seperti apa yang seharusnya aku punya? Tanda apa yang harus aku cari?

Aku terus berusaha mencari jawabannya hingga akhirnya aku menemukan betapa cacatnya gagasanku tentang cinta dan pernikahan. Pada akhirnya aku menyadari bahwa yang namanya “jodoh” itu sebenarnya tidak ada.

Jika Allah telah menentukan satu orang tertentu menjadi jodohmu, itu artinya pilihanmu sangat sempit dan sulit ditemukan. Siapa gerangan orangnya? Allah tidak pernah memberikan detail yang spesifik dalam Alkitab tentang seperti apa orang itu. Aku percaya bahwa jika kamu memiliki hubungan yang selaras dengan Tuhan, dan hidup menurut jalan-Nya, Dia akan memimpinmu kepada beberapa orang yang mungkin dapat menjadi pasanganmu. Ya, benar. Beberapa. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Seorang pria atau wanita yang adalah seorang pengikut Kristus sejati dapat saja menjadi suami atau isterimu karena kalian berdua sudah memiliki Kristus sebagai fondasi yang sama untuk membangun hubungan. Yang membuat orang itu memenuhi syarat untuk menjadi pasanganmu adalah hubungan yang sungguh-sungguh dimilikinya dengan Yesus. Hubungan tersebut dapat terlihat dengan cara yang berbeda-beda dalam hidup tiap-tiap orang. Namun, itulah yang mendasar. Hal-hal lainnya adalah pelengkap, ibarat hiasan gula di atas sebuah kue.

Kemudian, Tuhan mau kamu membuat sebuah pilihan. Kamu bertanya kepada Tuhan apakah pria atau wanita ini adalah “jodohmu”, sebaliknya Tuhan juga meminta kamu memilih apakah pria atau wanita ini adalah orang yang tepat buatmu. Inilah salah satu keindahan menjadi anak Tuhan: Dia memberimu kebebasan untuk membuat pilihan. Dia bukanlah seorang diktator yang memberi perintah, dan kamu hanya mengikuti. Tuhan memberimu kapasitas untuk berpikir dan menginginkan. Jadi, aku berani berkata: Pilihlah seseorang. Pilihlah untuk mencintai dan untuk menjanjikan cinta. Janganlah pemikiran untuk menemukan “jodoh” membuatmu hidup penuh keraguan untuk melangkah.

Aku tidak menikahi “jodohku”. Tetapi, karena aku memilih suamiku, ia pun menjadi “jodohku.” Aku menikahi seorang pria yang dibawa Tuhan ke dalam perjalanan hidupku, orang yang kupilih untuk kucintai, orang yang kulihat dapat melayani dan bertumbuh bersamaku.

Aku mendorongmu untuk mendoakan seorang pasangan hidup, untuk memohon hikmat dari Tuhan saat kamu membuat keputusan. Tuhan mau kita berdoa dalam menemukan pasangan hidup. Tetapi, yang lebih penting lagi, kita seharusnya berdoa agar kita semakin memahami bahwa pernikahan itu bukan tentang seorang yang kita nikahi atau tentang pemenuhan kebahagiaan kita (bukan berarti Tuhan tidak menghendaki kita bahagia). Pernikahan itu pada akhirnya adalah tentang apa yang Allah inginkan kita lakukan dalam hidup agar dapat mencerminkan kemuliaan-Nya. Pernikahan adalah tentang Allah yang menunjukkan kasih yang tidak berkesudahan bagi kita dan bagi gereja/umat-Nya (Efesus 5:21-33).

Meskipun menantikan “orang yang tepat” atau “jodoh” dari Tuhan kedengaran romantis, baik, dan bahkan mungkin alkitabiah, kamu sungguh tak perlu menunggu. “Pribadi yang tepat”, yang sungguh kita butuhkan dan yang dapat memuaskan hasrat hati kita sepenuhnya, sudah ada bersama dengan kita 一Yesus. Di dalam Dia, kita sudah menjadi pribadi yang utuh.

Bagikan Konten Ini
20 replies
  1. Feronica Via Christiany
    Feronica Via Christiany says:

    Amen. Masa muda yang terbilang belum cukup matang untuk sebuah hubungan dengan lawan jenis sebaiknya digunakan untuk membangun sebuah hubungan dengan Kristus secara intim dan dalam. Pacaran tidak dilarang, tapi apakah hubungan yang kita yakini sebagai proses pendewasaan, kisah klasik anak muda, penyemangat dan lain sebagainya itu memuliakan Tuhan? God bless.

  2. Vic Ng
    Vic Ng says:

    Amen..Tuhan kita itu sungguh baik. Mintalah hikmat kepada Tuhan untuk menentukan keputusan yang kita pilih. Tuhan pasti memberikan yang lebih baik untuk kita.

  3. Debora sianturi
    Debora sianturi says:

    Wow luar biasa mujizat tuhan sangat terlihat jelas melalui cerita ini,saya yang kebetulan mempunyai masalah tentang percintaan melalui cerita ini hati saya menjadi lebih terbuka dan terarah kalau hidup adalah sebuah pilihan yang akan menentukan langkah kita selanjutnya.Terimakasih sudah menjadi satu motivator bagi saya untuk selalu percaya bahwa yesus itu adil dia tidak akan pernah membuat umat nya berada dalam masalah yang membuat hati nya lupa akan Allah. Syalom

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *