Mempelai Wanita Yang Cantik

Minggu, 4 Januari 2015

Mempelai Wanita Yang Cantik

Baca: Wahyu 19:4-9

19:4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: "Amin, Haleluya."

19:5 Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: "Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!"

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

Hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. —Wahyu 19:7

Mempelai Wanita Yang Cantik

Saya sudah memberikan pemberkatan pada banyak pernikahan. Masing-masing acara pernikahan tersebut terasa unik karena biasanya dirancang sesuai dengan impian sang mempelai wanita. Namun ada satu hal yang selalu sama: sang mempelai wanita, yang mengenakan gaun pengantin dengan rambut tertata apik dan wajah yang bersinar-sinar itu, selalu menjadi pusat perhatian.

Menurut saya, alangkah menariknya pada saat Allah menggambarkan kita sebagai mempelai wanita-Nya. Ketika berbicara tentang gereja, Dia berkata, “Hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia” (Why. 19:7).

Itu merupakan suatu pemikiran yang luar biasa bagi siapa pun di antara kita yang telah dikecewakan oleh keadaan yang ada di gereja. Saya tumbuh besar sebagai anak seorang pendeta, pernah menggembalakan tiga gereja, dan sudah berkhotbah di banyak gereja pada berbagai tempat di dunia. Saya juga pernah memberikan bimbingan, baik kepada para pendeta maupun jemaat mengenai masalah-masalah yang serius dan sulit di dalam gereja. Dan meskipun gereja terkadang rasanya sulit sekali untuk dikasihi, kasih saya terhadap gereja tidak pernah berubah.

Meskipun demikian, alasan saya dalam mengasihi gereja telah berubah. Sekarang saya mengasihi gereja terutama karena menyadari siapa pemiliknya. Gereja adalah milik Kristus; gereja adalah mempelai wanita Kristus. Karena gereja berharga di mata-Nya, maka gereja juga berharga bagi saya. Kasih-Nya pada gereja, sang mempelai wanita, dengan segala cacat dan cela kita, sungguh adalah kasih yang luar biasa ajaib! —JMS

Tuhan, kami menantikan hari ketika kami akan memakai kain lenan
halus dari kekudusan dan bergabung dengan-Mu dalam perjamuan
kawin Anak Domba. Sambil menunggu hari itu tiba, ingatkan kami
untuk mengasihi mempelai-Mu dan hidup dalam kekudusan bagi-Mu.

Karena Kristus mengasihi mempelai-Nya, yaitu gereja, kita juga harus mengasihi gereja.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 10-12, Matius 4

Bagikan Konten Ini
0 replies

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *