Jeruk Atau Susu?

Sabtu, 8 November 2014

Jeruk Atau Susu?

Baca: Ibrani 5:5-14

5:5 Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini",

5:6 sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."

5:7 Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

5:9 dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,

5:10 dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

5:11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.

5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa. —Ibrani 5:14

Jeruk Atau Susu?

Saat saya memberi tahu putri saya yang masih kecil bahwa seorang bayi laki-laki berusia 3 bulan akan datang berkunjung ke rumah kami, ia merasa sangat gembira. Dalam kepolosannya, putri saya menyarankan agar kami menyajikan makanan yang kami punya untuk bayi tersebut; dan ia mengira si bayi akan menyukai jus jeruk dari mangkuk yang ada di atas meja dapur kami. Saya menjelaskan kepadanya bahwa untuk saat ini bayi itu hanya dapat minum susu, tetapi mungkin ia akan menyukai jus jeruk ketika sudah lebih besar nanti.

Alkitab menggunakan konsep yang serupa untuk menjelaskan tentang kebutuhan orang percaya akan makanan rohani. Kebenaran-kebenaran dasar dari Kitab Suci adalah seperti susu—berguna untuk menolong orang-orang yang baru percaya supaya bertumbuh dan berkembang (1Ptr. 2:2-3). Sebaliknya, “Makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa” (Ibr. 5:14). Orang percaya yang sudah memiliki waktu untuk mencerna dan memahami kebenaran-kebenaran dasar dapat beranjak untuk mencermati konsep-konsep alkitabiah lainnya dan mulai mengajarkan kebenaran itu kepada orang lain. Buah dari kedewasaan rohani adalah kebijaksanaan untuk membedakan yang baik dan yang jahat (ay.14), hikmat ilahi (1Kor. 2:6), dan kemampuan untuk menyampaikan kebenaran Allah kepada sesama (Ibr. 5:12).

Seperti orangtua yang penuh kasih, Allah ingin supaya iman kita bertumbuh. Dia tahu bahwa menikmati susu rohani saja tidak akan membawa kebaikan untuk kita. Allah menghendaki kita untuk terus melangkah maju agar kita dapat menikmati santapan rohani yang lebih keras. —JBS

Ya Tuhanku, tolong aku untuk memperdalam pemahamanku
akan firman-Mu. Biarlah Roh Kudus menuntunku
dan menerangi hatiku pada saat aku mencari kebenaran-Mu
sehingga aku dapat hidup menurut kehendak-Mu.

Pertumbuhan rohani terjadi ketika iman dipupuk.

Bagikan Konten ini
3 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *