Gambaran Besarnya

Rabu, 12 November 2014

Gambaran Besarnya

Baca: Yesaya 40:21-31

40:21 Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan?

40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

40:23 Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!

40:24 Baru saja mereka ditanam, baru saja mereka ditaburkan, baru saja cangkok mereka berakar di dalam tanah, sudah juga Ia meniup kepada mereka, sehingga mereka kering dan diterbangkan oleh badai seperti jerami.

40:25 Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.

40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

40:27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?"

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu. —Yesaya 40:26

Gambaran Besarnya

Yang semula hanyalah sebuah tanah kosong seluas 4,5 hektar di kawasan Belfast, Irlandia Utara, akhirnya berubah menjadi lukisan tanah terbesar di Kepulauan Inggris. Lukisan bertajuk Wish, karya seniman Jorge Rodriguez-Gerada, dibuat dari 30.000 pasak kayu, 2.000 ton tanah, 2.000 ton pasir, dan beragam bahan seperti rumput, bebatuan, dan tali-temali.

Awalnya hanya sang seniman yang mengetahui hasil akhir dari karya seni tersebut nantinya. Ia lalu menyewa tenaga para pekerja dan merekrut para sukarelawan untuk mengangkat bahan-bahan tersebut dan menempatkannya pada posisinya masing-masing. Pada saat bekerja, mereka mungkin tidak menyangka bahwa sesuatu yang luar biasa akan muncul dari pekerjaan mereka. Namun akhirnya itulah yang terjadi. Dari atas tanah, karya itu tidak terlalu terlihat. Namun ketika dilihat dari atas, orang dapat melihat sebuah potret yang sangat besar—gambar wajah seorang gadis cilik yang sedang tersenyum.

Allah sedang mengerjakan sesuatu yang luar biasa agung di dunia ini. Dialah Sang Seniman yang telah melihat hasil akhirnya. Kita adalah “kawan sekerja Allah” (1Kor. 3:9) yang sedang menolong Dia mewujudkannya. Melalui Nabi Yesaya, Allah mengingatkan umat-Nya bahwa Dialah “yang bertakhta di atas bulatan bumi” dan “membentangkan langit seperti kain” (Yes. 40:22). Kita tidak dapat melihat gambaran akhirnya, tetapi kita terus melangkah dalam iman, dengan menyadari bahwa kita merupakan bagian dari suatu karya seni yang mengagumkan—karya yang sedang diciptakan di atas bumi tetapi yang kelak akan terlihat paling indah dari surga. —JAL

Saat terkadang aku berpikir bisa melihat seluruh maksud-Mu,
Tuhan, hatiku tahu aku hanya bisa melihat secuil saja.
Aku bersyukur karena Engkau sedang menggenapi kehendak-Mu
yang indah di dunia ini, dan aku bisa mempercayai-Mu.

Allah sedang memakai kita untuk menolong-Nya menciptakan suatu mahakarya.

Bagikan Konten ini
5 replies
  1. Masye hosang
    Masye hosang says:

    Sungguh ajaib Engkau,TUHAN…sungguh pikiran & perbuatanMu tak terkira. TERPUJILAH NAMAMU KEKAL SELAMANYA. AMIIN

  2. WarungSateKamu
    WarungSateKamu says:

    @Paul: Terima kasih untuk pemikiranmu yang kritis. Betul bahwa Allah yang Mahakuasa tidak perlu minta tolong pada manusia. Bila kita perhatikan dengan teliti, penulis renungan ini juga tidak mengatakan bahwa Allah “meminta tolong” pada manusia, tetapi Allah “memakai kita untuk menolong-Nya”. Menolong sendiri bisa bermacam-macam konteksnya. Kalo seorang anak diizinkan untuk “menolong” Bapaknya mengecat pagar misalnya, kita tidak akan berpikir bahwa sang Bapak itu lemah dan membutuhkan sang anak untuk menyelesaikan tugasnya. Sebaliknya, kita bisa melihat kasih dan kesabaran sang Bapak yang mengizinkan anaknya ikut ambil bagian dalam pekerjaan itu, meski bisa dipastikan kerja si anak pastinya akan lebih banyak merepotkan daripada benar-benar menolong =)

    Dalam artikel ini, poin penulis sebenarnya adalah bagaimana sebagai manusia yang serba terbatas, kita sering tidak bisa melihat gambaran besar dari karya yang sedang Tuhan kerjakan di dalam dan melalui hidup kita. Ibarat para pekerja yang dipakai Seniman Jorge hanya bisa melihat rumput, bebatuan, dan tali temali dari sudut pandang mereka. Karena pandangan yg terbatas itu, kita bisa mudah kehilangan semangat dalam menjalani hidup sesuai dengan arahan Firman Tuhan. Atau sebaliknya, kita jadi sok tahu dan memilih jalan kita sendiri. Sama halnya dengan umat Israel yang merasa tak berdaya di dalam pembuangan. Mereka merasa tidak bisa melihat karya Allah dan mulai berpaling dari-Nya. Kepada mereka Allah menyatakan diri-Nya, meyakinkan mereka bahwa Dia senantiasa hadir dan terus berkarya dalam dunia ini; umat-Nya dapat terus berharap kepada-Nya (Yesaya 40:26). Semoga maksud penulis bisa ditangkap lebih jelas ya…. =)

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *