Saya Tidak Dilupakan

Senin, 1 September 2014

Saya Tidak Dilupakan

Baca: Mazmur 13

13:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.

13:2 Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

13:3 Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

13:4 Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

13:5 supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

13:6 Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! —Mazmur 33:20

Saya Tidak Dilupakan

Menanti merupakan perbuatan yang sulit; tetapi ketika hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan berlalu tanpa ada jawaban bagi doa-doa kita, sangatlah mudah merasa bahwa Allah telah melupakan kita. Mungkin kita bisa berjuang dari pagi hingga sore hari dengan menyibukkan diri, tetapi saat malam tiba, lebih sulit rasanya untuk dapat mengatasi kecemasan yang menghantui pikiran kita. Kekhawatiran terbayang di depan mata, dan masa-masa yang gelap tampaknya tak berujung. Kelesuan yang begitu membebani membuat kita tidak lagi sanggup menghadapi hari esok.

Pemazmur juga menjadi lesu dalam penantiannya (Mzm. 13:2). Ia merasa ditinggalkan —seakan musuh-musuhnya sedang berada di atas angin (ay.3). Ketika kita menantikan Allah untuk memecahkan persoalan sulit atau menjawab doa yang kita panjatkan berulang kali, mudah bagi kita untuk menjadi putus asa.

Iblis membisikkan bahwa Allah telah melupakan kita, dan keadaan kita takkan pernah berubah. Kita mungkin terbujuk untuk menyerah pada keputusasaan. Kita berpikir, apa gunanya lagi bersusah payah membaca Alkitab atau berdoa? Untuk apa susah-susah beribadah bersama saudara-saudara seiman dalam Kristus? Namun justru pada saat menanti, kita paling membutuhkan pertolongan rohani. Hal itulah yang menolong kita untuk bertahan dalam aliran kasih Allah dan menjadi peka pada Roh-Nya.

Pemazmur memiliki obat yang manjur. Ia mengarahkan hatinya pada segala yang diketahuinya tentang kasih Allah, mengingat kembali berkat-berkat di masa lalu, dan sungguh-sungguh memuji Allah yang takkan pernah melupakannya. Kita juga dapat melakukannya. —MS

Kekasih jiwaku, yang mendekat padaku
di malam yang panjang nan pekat, tolong aku
selalu percaya kepada-Mu, berbicara dengan-Mu,
dan bersandar pada janji-janji-Mu.

Allah layak kita nantikan; waktu-Nya selalu yang terbaik.

Bagikan Konten ini
6 replies
  1. galih
    galih says:

    ALLAH tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya yang sangat dikasihi, tapi terkadang kita lupa oleh kasih ALLAH dan sering meninggalkan-Nya,
    ya TUHAN ampuni kami semua atas segala kesalahan kami semua yang menurut-Mu perbuatan – perbuatan yang kami lakukan itu Engkau anggap salah, dan berikan kami pengertian akan kasih-Mu yang sejati serta damai sejahtera-Mu menyertai kami semua selalu. Gbu us all. Amen

  2. galih
    galih says:

    PUJI TUHAN, HALELUYA, karena kasih-Nya yang tak terhingga pada kita semua, kita semua tidak akan pernah dilupakan dan ditinggalkan, Dia selalu menuntun kita dengan terang kasih-Nya dan damai sejahtera-Nya menyertai kita semua senantiasa. Gbu us all. Amen

  3. galih
    galih says:

    PUJI TUHAN, HALELUYA, Firman Tuhan ini sangat menguatkan kita dalam kekhawatiran,kecemasan, ketakutan,dsb serta memberkati saya oleh kasih-Nya yang luar biasa pada kita semua sampai selama- lamanya. Gbu us all. Amen

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *