Pentingnya Mengelola Uang

Info

dari artikel Our Daily Journey: Money Matters
diterjemahkan oleh: Rio Susanto

mengelola-uang

Belum lama ini aku mengecek saldo tabunganku di bank. Jumlahnya tidak menggembirakan. Aku jadi berpikir bagaimana caranya agar uangku dapat bertambah. Di pertengahan usia 30-an, bukankah sudah seharusnya aku memiliki simpanan yang cukup untuk situasi tidak terduga? Pikiran berikutnya yang terlintas adalah: “Hmm… mungkin aku harus memotong jumlah uang persembahanku”.

Dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-4), hal yang paling mengejutkan adalah ketika sang tuan, yang hartanya telah dihamburkan oleh si bendahara, justru memuji bendahara itu. Mengapa sang tuan sampai memuji pelayannya yang tidak jujur (ayat 8)? Jelas bukan karena bendahara itu melakukan sesuatu yang menguntungkan tuannya dan bukan karena tindakannya dapat dibenarkan. Bendahara itu dipuji semata-mata karena kecerdikan yang ia tunjukkan.

Dalam bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan “cerdik” berarti “bertindak dengan penuh antisipasi”. Dengan kata lain, bendahara itu dipuji karena ia cepat bertindak untuk mengamankan dirinya di masa depan.

Sama seperti bendahara yang cerdik itu, kita juga adalah orang-orang yang dipercaya untuk melayani. Allah memercayakan sejumlah sumber daya untuk kita kelola. Apakah kita menggunakannya dengan bijaksana untuk hal-hal yang kelak akan tetap bernilai dalam masa depan kekal kita? Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah “mengikat persahabatan” dengan orang-orang yang akan berterimakasih saat menjumpai kita di surga (ayat 9). Misalnya saja, kita dapat menggunakan uang kita untuk membelikan orang Alkitab, ikut membiayai penggalian sumur bagi mereka yang kekurangan air, atau mendukung kebutuhan seorang misionaris.

Tuhan Yesus melanjutkan pengajaran-Nya tentang uang dalam ayat 10-14. Bendahara yang tidak jujur itu bukanlah contoh yang patut ditiru. Kita seharusnya menjadi hamba-hamba yang setia (ayat 10-12). Mamon atau uang tidak pernah boleh menggantikan posisi Tuhan. Kita harus mengabdi hanya kepada Tuhan (ayat 13-14).

Kiranya kita menjadi hamba-hamba yang cerdik sekaligus setia dalam mengelola simpanan, pengeluaran, dan investasi kita. Hudson Taylor mengingatkan kita, “Perkara kecil adalah perkara kecil; namun kesetiaan dalam perkara kecil adalah perkara besar.”

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Isu Kehidupan, Puisi

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!