Belajar Memberi = Belajar Taat

Info

Oleh: Radius Siburian

A gift for you

Kertas yang ditempel di mading dekat pintu masuk gereja itu menarik perhatianku. Isinya tentang daftar pemberi perpuluhan. Jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah perpuluhan yang dikumpulkan di gerejaku sendiri. Mmmmm….mungkin bagi banyak orang perpuluhan adalah sebuah beban. Ada semacam kewajiban bagi jemaat untuk memberi ke gereja layaknya membayar uang sekolah. Aku pun dulu berpikir begitu. Dan, jujur saja aku tidak suka dengan aturan demikian. Menurutku, seharusnya pihak gereja memperhatikan pendapatan atau keuangan sebuah keluarga baru menuntut iuran itu. Demikianlah pemikiranku hingga beranjak kuliah. Seingatku, tidak ada yang meluruskan pandanganku saat itu. Aku pun tak pernah terpikir untuk bertanya.

Hingga akhirnya melalui kelompok PA di kampus, aku dibekali dengan kebenaran Firman Tuhan tentang “Harta Benda, Waktu, dan Bakat”. Banyak pemahaman baru sekaligus teguran yang aku dapat, terutama berkaitan dengan cara aku menggunakan uang. Segala yang diberikan Tuhan ternyata adalah milik-Nya. Padahal sering aku merasa berat memberikan persembahan atau perpuluhan bagi pekerjaan-Nya.

Namun, memahami kebenaran itu tidak lantas membuatku mudah memberi. Memang, yang paling sulit adalah menerapkan Firman Tuhan. “Aku ‘kan masih mahasiswa. Uang masih minta orang tua, mana bisa memberi? Nanti kalau sudah punya penghasilan sendiri, baru aku bisa memberi..” alasanku saat itu.

Ketika aku akhirnya belajar memberi, rasanya susah setengah mati. Khawatir uang bulananku yang tak seberapa habis sebelum akhir bulan. Aku pun jadi belajar berhemat. Memangkas biaya hidup sehari-hari. Namun, Tuhan baik. Dia tidak saja mengajarku menjadi lebih bijak dalam mengelola uang, tetapi juga mencukupi segala kebutuhanku. Ketakutan dan kekhawatiran yang tadinya memenuhi pikiranku perlahan sirna. Ketakutan itu ternyata hanya ada di kepalaku, siasat iblis yang hendak meruntuhkan niatku untuk taat memberi. Kini aku sudah bekerja. Memberikan perpuluhan menjadi disiplin rohani yang melatihku untuk mengutamakan Tuhan.

Perpuluhan jelas dicatat dalam Alkitab bukan karena Tuhan kekurangan sesuatu dan memerlukan pemberian kita. Tuhan memiliki segala sesuatu. Terlepas dari nominal pemberian kita, yang lebih penting adalah hati yang mau taat, hati yang mau mengasihi dan mengandalkan Tuhan. Lihat saja kisah janda yang memberi dua keping uang perak dalam 1 Korintus 9:7. Jumlah pemberiannya sangat kecil di mata orang. Namun, Tuhan yang melihat kedalaman hati tahu siapa yang benar-benar mau mencintai dan mengandalkan Tuhan dengan segenap hidup mereka.

Belajar memberi telah menolongku belajar prinsip-prinsip berikut dalam mengelola uang. Semoga menolongmu juga.
1. Bersyukur – Membiasakan diri mengucap syukur menolong kita agar tidak lupa bahwa Pemilik segala sesuatunya adalah Tuhan. Sudah sepatutnya kita mengutamakan Dia dalam hidup kita. Dialah yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita.
2. Berhemat – Berhemat bukan berarti menyiksa diri, tetapi melatih diri menggunakan uang secukupnya, bahkan menabung untuk mengantisipasi kebutuhan yang tidak terduga.
3. Berencana – Berencana berarti melatih diri untuk berpikir panjang, tidak gegabah, mendaftarkan mana kebutuhan yang mendasar, dan mana keinginan yang bisa ditunda. Perencanaan menolong kita mengoptimalkan penggunaan uang kita untuk hal-hal yang penting dan memuliakan Tuhan.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki hati yang sungguh mencintai dan mengandalkan Dia. Kiranya pemberian-pemberian kita mengalir dari hati yang memercayai dan mau menaati Firman-Nya dengan penuh sukacita.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 09 - September 2014: Mengelola Keuangan, Artikel, Pena Kamu

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!