Meski Tak Layak Diriku

Kamis, 31 Juli 2014

Meski Tak Layak Diriku

Baca: Yesaya 55:1-7

55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!

55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

55:4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa;

55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.

55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! —Yesaya 55:3

Meski Tak Layak Diriku

Lewat suatu konser, pikiran saya kembali dibawa pada kenangan yang indah. Pemimpin konser baru saja memberikan pengantar untuk pujian: Just As I Am (Meski Tak Layak Diriku). Saya ingat bertahun-tahun lalu, pendeta saya sering menutup khotbahnya dengan meminta orang maju ke depan sementara jemaat melantunkan pujian itu, sebagai tanda kerinduan mereka untuk menerima pengampunan dosa dari Allah.

Namun si pemimpin konser menyebutkan tentang satu peristiwa lain dimana kita mungkin akan menyanyikan lagu itu. Ia sering membayangkan bahwa pada saat ia wafat dan bertemu Tuhan kelak, ia akan menyanyikan pujian ini sebagai ucapan syukur kepada-Nya:

Meski tak layak diriku,
Tetapi kar’na darah-Mu
Dan kar’na Kau memanggilku,
‘Ku datang, Yesus, pada-Mu.
(Kidung Jemaat, No. 27)

Bertahun-tahun sebelum menulis pujian ini, Charlotte Elliot pernah bertanya kepada seorang pendeta tentang cara menghadap Tuhan. Pendeta itu berkata, “Datanglah kepada-Nya meski kau merasa tak layak.” Charlotte pun melakukannya, hingga kemudian di tengah masa sakit yang menderanya, ia pun menulis himne tentang pengalamannya datang kepada Kristus yang telah mengampuni dosanya ini.

Dalam firman-Nya, Tuhan mendorong kita untuk mencari Dia: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat” (Yes. 55:6). Dia memanggil kita: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, . . . Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!” (ay.1,3).

Oleh kematian dan kebangkitan Yesus, kita dapat datang kepada- Nya sekarang juga dan kelak akan tinggal bersama dengan-Nya selamanya dalam keabadian. Meski tak layak diriku . . . ku datang, Yesus, pada-Mu! —AMC

Barangsiapa yang haus, . . . hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma! –Wahyu 22:17

Bagikan Konten Ini
2 replies
  1. Zie
    Zie says:

    Dengan kondisi apapun, jangan takut dan ragu untuk datang pada-Nya dan Ia akan memberikan kehidupan yang kekal. Amin. Gbus.

  2. galih
    galih says:

    meskipun kita tak layak di hadapan ALLAH , kita dengan pasti dapat datang kepada-Nya memohon pengampunan atau meminta pertolongan-Nya dengan tulus. Gbu us all. Amien

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *