Karya Tangan Kita

Sabtu, 26 Juli 2014

Karya Tangan Kita

Baca: Yesaya 17:7-11

17:7 Pada waktu itu manusia akan memandang kepada Dia yang menjadikannya, dan matanya akan melihat kepada Yang Mahakudus, Allah Israel;

17:8 ia tidak akan memandang kepada mezbah-mezbah buatan tangannya sendiri, dan tidak akan melihat kepada yang dikerjakan oleh tangannya, yakni tiang-tiang berhala dan pedupaan-pedupaan.

17:9 Pada waktu itu kota-kotamu akan ditinggalkan seperti kota-kota orang Hewi dan orang Amori yang mereka tinggalkan karena orang Israel, sehingga menjadi sunyi sepi.

17:10 Sebab engkau telah melupakan Allah yang menyelamatkan engkau, dan tidak mengingat gunung batu kekuatanmu. Sebab itu sekalipun engkau membuat taman yang permai dan menanaminya dengan cangkokan luar negeri,

17:11 sekalipun pada hari menanamnya engkau membuatnya tumbuh subur, dan pada pagi mencangkokkannya engkau membuatnya berbunga, namun panen akan segera lenyap pada hari kesakitan dan hari penderitaan yang sangat payah.

Sebab engkau telah melupakan Allah yang menyelamatkan engkau, . . . panen akan segera lenyap pada hari kesakitan dan hari penderitaan yang sangat payah. —Yesaya 17:10-11

Karya Tangan Kita

Musim semi baru saja berganti menjadi musim panas dan panenan mulai berbuah. Pemandangan itulah yang terlihat ketika kereta yang kami tumpangi melintasi ladang yang subur di pesisir Michigan Barat. Stroberi telah matang dan orang berlutut di atas embun pagi untuk memetik buah-buah manis itu. Pohon buah blueberry juga menyerap panas dari sinar matahari dan nutrisi dari tanah.

Setelah menyusuri ladang demi ladang dengan buah-buahnya yang telah matang, kereta kami pun melintasi setumpukan besi berkarat yang dibiarkan begitu saja. Puingpuing besi berkarat yang menancap di atas permukaan tanah itu memberikan pemandangan yang sangat kontras dengan hijaunya ladang-ladang yang sudah siap panen. Besibesi berkarat itu tidak menghasilkan apa-apa. Namun di sisi lain, buah-buahan di ladang itu bertumbuh semakin matang dan menjadi santapan bagi orang-orang yang lapar.

Perbedaan antara buah di ladang dengan besi berkarat itu mengingatkan saya tentang nubuat-nubuat Allah terhadap kota-kota kuno seperti Damsyik (Yes. 17:1,11). Allah berkata, “Sebab engkau telah melupakan Allah yang menyelamatkan engkau, . . . panen akan segera lenyap pada hari kesakitan dan hari penderitaan yang sangat payah” (Yes. 17:10-11). Bagi kita di masa kini, nubuat ini menjadi peringatan akan betapa bahaya dan sia-sianya pemikiran bahwa kita dapat menghasilkan sesuatu lewat daya upaya kita sendiri. Di luar Allah, karya tangan kita hanya akan menjadi tumpukan puing. Namun saat kita terlibat bersama Allah dalam melakukan karya-Nya, Allah akan melipatgandakan usaha kita dan menyediakan santapan rohani bagi banyak orang. —JAL

Tuhan, aku ingin menjadi bagian dari karya-Mu di atas bumi.
Di luar Engkau, pekerjaanku tiada artinya. Pimpin, penuhi,
dan pakailah aku. Kiranya melalu diriku, orang lain
bisa menerima santapan yang menyehatkan jiwa mereka.

“Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” —Yesus (Yohanes 15:5)

Bagikan Konten ini
3 replies
  1. Zie
    Zie says:

    Dengan melibatkan dan berserah pada Yesus, maka segala apa yang kita lakukan lebih berarti dan menghasilkan. Amin.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *