Tidak Berbuat Jahat

Jumat, 27 Juni 2014

Tidak Berbuat Jahat

Baca: Roma 13:8-10

13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. —Roma 13:10

Tidak Berbuat Jahat

Banyak orang memandang Hipokrates, sang tabib pada zaman Yunani kuno, sebagai bapak ilmu kedokteran Barat. Hipokrates memahami pentingnya mengikuti prinsip-prinsip moral dalam menerapkan pengobatan. Ia juga dikenang sebagai penulis Sumpah Hipokrates, yang sampai sekarang masih digunakan sebagai panduan etika untuk para dokter di zaman modern ini. Salah satu konsep penting dari sumpah tersebut adalah “untuk tidak berbuat jahat”. Hal itu mengandung arti bahwa seorang dokter hanya akan melakukan apa yang menurutnya baik dan bermanfaat untuk pasien-pasiennya.

Prinsip untuk tidak berbuat jahat itu juga mencakup hubungan kita dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan bahkan menjadi pusat dari ajaran Perjanjian Baru tentang hal mengasihi sesama. Dalam pandangannya tentang hukum Allah, Rasul Paulus melihat bahwa kasihlah yang menjadi alasan di balik banyak perintah Alkitab: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm. 13:10).

Ketika kita mengikut Yesus Kristus Juruselamat kita dari hari ke hari, kita pun dihadapkan pada beragam pilihan yang akan mempengaruhi kehidupan orang lain. Saat mempertimbangkan tindakan yang akan kita ambil, kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Apakah tindakan ini mencerminkan kepedulian Kristus kepada sesama, ataukah aku hanya mementingkan diriku sendiri?” Kepekaan seperti itu akan menjadi wujud dari kasih Kristus yang rindu untuk memulihkan orang-orang yang sedang terpuruk dan membantu mereka yang sedang membutuhkan pertolongan. —HDF

Tuhan, aku mengakui sangatlah mudah bagiku untuk tersita oleh
kemauan dan keinginan pribadiku. Terima kasih karena Engkau
menolong kami untuk dapat mempedulikan orang lain juga.
Tolong aku untuk mengikuti teladan-Mu dalam mengasihi sesama.

Mempedulikan beban hidup orang lain membantu kita untuk melupakan beban hidup kita sendiri.

Bagikan Konten Ini
2 replies
  1. galih
    galih says:

    saling mengasihi adalah hal mutlak untuk tidak berbuat jahat dan menjadi kekuatan terutama dan terbesar dalam membangun hubungan kita dengan TUHAN yang penuh kasih dan sesama. Gbu us all. Amien

  2. galih
    galih says:

    ya BAPA ampunilah segala keegoisan saya dan sesama saya yang terkadang atau sering mementingkan diri kami sendiri dan tidak mementingkan kepentingan orang lain lebih dahulu, berikan anugerah kasih terindah pada kami semua anak – anak-Mu di dunia ini selalu. Gbu us all. Amien

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *