Mengajar Melalui Teladan

Minggu, 15 Juni 2014

Mengajar Melalui Teladan

Baca: Efesus 6:1-11

6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:

6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

6:5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,

6:6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,

6:7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.

6:8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.

6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

Didiklah [anak-anakmu] di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. —Efesus 6:4

Mengajar Melalui Teladan

Ketika sedang menunggu giliran untuk pemeriksaan mata, perhatian saya terpaku pada sebuah tulisan yang tergantung di dinding kantor dokter mata itu: “Delapan puluh persen dari semua yang dipelajari anak-anak dalam 12 tahun pertamanya diserap melalui mata mereka.” Saya mulai memikirkan semua hal yang diserap anak-anak oleh penglihatannya lewat berbagai bacaan, acara TV, film, peristiwa, lingkungan, dan pengamatan terhadap perilaku orang lain, terutama keluarga mereka. Pada Hari Ayah ini, kita sering memikirkan tentang besarnya pengaruh yang diberikan seorang ayah kepada anak-anaknya.

Paulus mendorong para ayah untuk tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anak mereka, melainkan mendidik “mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Ef. 6:4). Bayangkan betapa berpengaruhnya teladan dari seorang ayah yang lewat perilaku dan konsistensinya menumbuhkan rasa kagum dari anak-anaknya. Sang ayah memang tidak sempurna, tetapi ia sedang bergerak maju ke arah yang benar. Suatu pengaruh kebaikan yang besar sedang bekerja ketika tingkah laku kita tidak mencoreng karakter Allah, melainkan mencerminkannya.

Hal itu merupakan tantangan bagi orangtua mana pun. Jadi bukanlah suatu kebetulan apabila Paulus mendesak kita untuk hidup “kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (ay.10). Hanya lewat kekuatan kuasa-Nyalah, kita dapat mencerminkan kasih dan kesabaran Bapa kita di surga.

Kita mengajari anak-anak kita jauh lebih banyak melalui teladan cara hidup kita daripada melalui perkataan kita. —DCM

Bapa Surgawi, aku perlu mengenal kasih-Mu agar bisa mengasihi
orang lain. Aku ingin mengalami dan membagikan kesabaran
dan kebaikan-Mu dengan orang-orang yang kukasihi.
Penuhilah aku dengan kasih-Mu dan pakailah aku.

Kita menghormati para ayah yang tak hanya memberi kita hidup, tetapi juga meneladani cara hidup yang benar.

Bagikan Konten Ini
6 replies
  1. galih
    galih says:

    sebagian besar melalui perilaku dan perbuatan orang tua kita, sikap orang tua kita menurun pada kita, saya sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang baik saat ini, semoga sekarang dan nantinya saya dapat menghormati serta membahagiakan mereka selalu. Gbu us all. Amen

  2. galih
    galih says:

    melalui kasih kita kepada orang tua kita, sama halnya dengan kasih kita kepada Tuhan,
    semoga saya dapat memberikan yang terbaik bagi kedua orang tua saya dan membahagiakan mereka selalu. Gbu us all. Amen

  3. galih
    galih says:

    semoga saya dapat membahagiakan dan memberikan yang terbaik bagi kedua orang tua saya selalu. Gbu us all. Amen

  4. Indra
    Indra says:

    Terimakasih Tuhan telah memberi aku orang tua yang patut diteladani, semoga kelak aku juga bisa menjadi teladan bagi anak-anakku. Amin.. Tuhan Memberkati.

  5. Natasha
    Natasha says:

    Terimakasih Tuhan, Engkau memberikanku ayah yang sangat baik. Ayahku memang tidak sempurna, tapi dia selalu mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Aku mau mengenalMu lebih dalam lagi supaya aku juga tau cara hidup yang benar dan bisa menjadi teladan yang baik untuk orang lain. 🙂

  6. Ika Bertus
    Ika Bertus says:

    Terimakasih Tuhan Yesus utk anugerah pertambahan usiaku hari ini. Aku bersyukur atas keluarga yg boleh Kau berikan padaku. Terima kasih Tuhan Yesus

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *