Bersyukur untuk Anugerah-Nya

Info

Seri Kesaksian Atlet

Cyrille Domoraud
 

Terlahir di Pantai Gading, Cyrille Domoraud besar di tengah budaya perdukunan yang sangat pekat. Saat ia muda, ia sering bertanding dengan mengenakan cincin sebagai jimat keberuntungan—satu dari banyak jimat yang dimilikinya—dengan harapan bisa memberinya perlindungan bagi jiwanya dan mengusir roh-roh jahat. Namun lewat kesaksian dari saudara perempuannya, Domoraud menjadi seorang pengikut Kristus dan melepaskan diri dari masa lalunya yang penuh takhyul.

Pada saat itu karirnya di lapangan hijau sedang menanjak. Setelah bermain bagi beberapa klub di Perancis, ia kemudian menghabiskan satu musim bersama raksasa Seri A Italia, Inter Milan, sebelum bermain bagi beberapa klub lain di Perancis, Spanyol, Turki, dan akhirnya kembali ke Pantai Gading. Musim profesionalnya yang terakhir dihabiskan bersama klub Africa Sports Abidjan.

Bagi Domoraud, Piala Dunia 2006 di Jerman memberikan pengalaman yang terhebat sekaligus tantangan tersulit yang pernah dialaminya dalam karir di lapangan hijau. Sebagai seorang pemain belakang dan kapten dari tim nasional Pantai Gading, ia berhasil membawa tim yang dijuluki Les Éléphants (Para Gajah) menuju ke Piala Dunia mereka yang pertama, suatu peristiwa bersejarah yang mendorong terjadinya gencatan senjata dalam perang bersaudara yang telah berlangsung enam tahun di negaranya.

Namun, Domoraud justru tidak dimainkan dalam dua pertandingan pertama—dua kekalahan tipis dari Argentina dan Belanda—lalu harus menerima kartu merah dalam pertandingan grup mereka yang terakhir, sebuah kemenangan atas Serbia dan Montenegro.

“Benar-benar suatu pukulan telak, ketika sepertinya semua kerja kerasku tidak menghasilkan apa-apa,” ujar Domoraud. Tetapi kemudian ia tersadar bahwa keberadaannya dalam kejuaraan itu sendiri adalah anugerah Allah. Sebab itu, daripada marah atau mengeluh, Domoraud lebih memilih untuk bersyukur: “Aku bahagia bisa bermain di Piala Dunia dan bersyukur pada Allah yang telah mengizinkanku mengambil bagian dalam perhelatan itu, karena Dialah yang memampukan aku untuk bermain di sana.”

Belakangan, pemain kawakan ini memberikan waktu yang lebih banyak kepada Pusat Pelatihan Cyrille Domoraud di Abidjan yang telah menghasilkan banyak pesepakbola andal. Salah satu jebolan pusat pelatihan ini adalah penyerang Wilfried Bony (Swansea City, Liga Primer Inggris). Sekalipun kejadian yang dialami Domoraud pernah membuatnya frustrasi untuk sementara waktu, namun ia akan selalu diingat oleh warga Pantai Gading sebagai bagian dari tim hebat yang pernah bertanding dalam Piala Dunia di Jerman.

“Sungguh ajaib—suatu momen luar biasa yang diberikan-Nya dalam hidupku dan karirku,” kata Domoraud mengenang ajang Piala Dunia tersebut. Baginya, itu adalah bagian dari rencana Allah membentuk dirinya.

“Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang pemain sepakbola profesional,” tuturnya. “Ini semua karena pimpinan Allah saja. Jadi daripada mempertanyakan segala hal negatif yang telah terjadi, aku mau mengucap syukur kepada Allah untuk kesempatan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya dan bermain di Piala Dunia.”

Sumber: Sports Spectrum

 

🙂 Untuk direnungkan

1. Apa yang menjadi momen paling sulit dalam hidupmu?

2. Bagaimana kamu melihat Allah membentuk hidupmu melalui pengalaman itu?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Saat Teduh Lainnya, SaTe Kamu

1 Komentar Kamu

  • kisah yang baik dan bebuah manis,…nama tetap baik di olah raga,taat beragama dan masih berkarya untuk kaula muda di negrinya sendiri,terkesan apik dan simpati,..

Bagikan Komentar Kamu!