Siapa Yang Seharusnya Dipuji?

Senin, 5 Mei 2014

Siapa Yang Seharusnya Dipuji?

Baca: Yeremia 9:23-26

9:23 Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

9:24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

9:25 “Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya:

9:26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya.”

Siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku. —Yeremia 9:24

Siapa Yang Seharusnya Dipuji?

Nilai IQ Chris Langan lebih tinggi dari IQ Albert Einstein. Lingkar bisep Moustafa Ismail berukuran sekitar 79 cm dan ia dapat mengangkat beban seberat 272 kg. Bill Gates diperkirakan memiliki kekayaan milyaran dolar. Orang-orang yang berkemampuan luar biasa atau kaya-raya mungkin tergoda untuk memandang diri mereka lebih tinggi daripada yang sepantasnya. Namun tanpa perlu menjadi seseorang yang sangat pintar, kuat, atau kaya, kita bisa saja memuji diri sendiri atas semua prestasi yang kita raih. Setiap pencapaian mengandung pertanyaan: Siapa yang seharusnya dipuji?

Pada masa bangsa Israel dihukum, Allah berfirman kepada mereka melalui Nabi Yeremia. Dia berkata, “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya” (Yer. 9:23). Sebaliknya, “Siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku” (ay.24). Allah menghendaki umat-Nya untuk meninggikan Dia dan kemuliaan-Nya di atas apa pun.

Jika kita membiarkan pujian manusia itu untuk memegahkan diri sendiri, kita melupakan bahwa “setiap pemberian yang baik . . . diturunkan dari Bapa segala terang” (Yak. 1:17). Lebih baik kita memberikan pujian dan kemuliaan kepada Allah, tidak hanya untuk menjaga hati kita dari kesombongan, tetapi juga karena memang Dia layak menerima pujian itu. Dialah Allah, Pribadi yang “melakukan perbuatan-perbuatan yang besar . . . keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya” (Ayb. 5:9). —JBS

Bukanlah ‘ku, tetapi hanya Kristus
Layak benar dipuji, disembah.
Bukanlah ‘ku, tetapi hanya Kristus
Patut tetap dimuliakanlah. —Whiddington
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 28)

Kita diciptakan untuk memberikan kemuliaan kepada Allah.

Bagikan Konten Ini
6 replies
  1. Echan Nababan
    Echan Nababan says:

    nyanyi dan soraklah bagi Dia
    Puji dan hormat, kuasa bagi Raja
    Gunung tunduk laut bergelora
    Mendengar namaMu…
    Kubersuka atas perbuatanMu
    Slamanya kukasihi Engkau Tuhan
    Tiada Janji sperti yang ada padaMu…

  2. Juddhaa
    Juddhaa says:

    Sombong an mrasa diri lebih mampu, mmg benar itulah yg mnjadi awal dr bny perbuatan dosa.. Biarlah uian itu hny mnjd milik Tûn, Dia yg memapukan kita melakukan sgala sesuatu

  3. Githa
    Githa says:

    pencapaian prestasi yg luar biasa jg sebenarnya krn berkat TUHAN yg menganugerahkan setiap kita anak-anakNya kecerdasan IQ, kemampuan, & talenta masing2. Jd, tdk perlulah terlalu bermegah dan membanggakan diri sendiri. Tetaplah menjadi rendah hati, krn yg layak menerima pujian tertinggi adalah pribadi yg senantiasa memberkati & memampukan kita dalam mencapai prestasi. Ingat, manusia bukan apa2 tanpa campur tangan Penciptanya.
    God Bless 🙂

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *