Air Mata Syukur

Minggu, 4 Mei 2014

Air Mata Syukur

Baca: 1 Korintus 11:23-32

11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti

11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”

11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

11:27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.

11:28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

11:29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.

11:30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.

11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.

11:32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.

Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. —1 Korintus 11:26

Air Mata Syukur

Dalam ibadah perjamuan kudus yang saya hadiri bersama istri, anggota jemaat diundang maju ke depan untuk menerima roti dan anggur dari salah seorang pendeta atau penatua. Mereka memberikan ucapan kepada satu demi satu anggota jemaat yang maju tentang arti pengorbanan Yesus bagi masing-masing dari mereka. Pengalaman tersebut sangat menyentuh sehingga meninggalkan kesan yang berbeda dari suatu kegiatan yang sudah dilakukan secara rutin. Setelah kami kembali ke bangku, saya menyaksikan jemaat berjalan kembali dengan perlahan dan hening. Mengharukan sekali melihat banyak jemaat yang matanya berkaca-kaca. Bagi saya, dan orang lain yang berbicara dengan saya kemudian, air mata itu adalah air mata syukur.

Alasan dari air mata syukur yang menetes itu dapat dilihat dari alasan berlangsungnya perjamuan kudus itu sendiri. Setelah mengajar jemaat di Korintus tentang makna perjamuan yang bersifat peringatan itu, Rasul Paulus menambahi tulisannya dengan kata-kata yang tegas berikut ini: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor. 11:26). Dengan roti dan anggur perjamuan yang mengacu langsung pada salib dan pengorbanan Kristus demi kita, ibadah perjamuan kudus mengandung makna lebih dari sekadar ritual–seluruhnya adalah tentang Kristus. Kasih Kristus. Pengorbanan Krisus. Salib Kristus. Demi kita.

Alangkah tidak cukupnya kata-kata manusia untuk menuturkan kemuliaan Kristus yang begitu agung! Terkadang air mata syukur lebih dapat mengungkapkan apa yang tak terucapkan oleh bibir kita. —WEC

Andaikan jagad milikku,
Dan kuserahkan pada-Nya,
Tak cukup bagi Tuhanku
Diriku yang diminta-Nya. —Watts
(Kidung Jemaat, No. 169)

Agungnya kasih yang Kristus tunjukkan kepada kita di kayu salib tidak dapat terungkapkan dengan kata-kata.

Facebooktwitterreddit

2 replies
  1. galih
    galih says:

    Kasih Kristus yang begitu besar pada kita tidak layak bagi kita, akan tetapi Dia melayakkan Kasih-Nya yang tak terhingga untuk kita terima, kita selayaknya juga harus mengucap syukur selalu kepada-Nya setiap kapan pun. Gbu us all. Amen

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *