Tentang Mendengarkan

Info

Senin, 17 Februari 2014

Tentang Mendengarkan

Baca: Keluaran 16:1-8

16:1 Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.

16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;

16:3 dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

16:4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.

16:5 Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.”

16:6 Sesudah itu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh orang Israel: “Petang ini kamu akan mengetahui bahwa Tuhanlah yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir.

16:7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?”

16:8 Lagi kata Musa: “Jika memang TUHAN yang memberi kamu makan daging pada waktu petang dan makan roti sampai kenyang pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya–apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.”

Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah. —Pengkhotbah 5:1

Tentang Mendengarkan

Ada ungkapan: “Allah memberi kita dua telinga dan satu mulut dengan suatu maksud.” Kemampuan untuk mendengarkan merupakan keterampilan hidup yang penting. Para konselor meminta kita untuk mau mendengarkan satu sama lain. Para pemimpin rohani menasehati kita untuk mendengarkan Allah. Namun orang jarang berkata, “Dengarkanlah dirimu sendiri.” Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita memiliki suara batin yang selalu tahu apa yang harus kita katakan. Juga bukan berarti kita harus lebih mendengarkan diri sendiri daripada mendengarkan Allah dan sesama. Maksud saya, kita perlu mendengarkan diri sendiri agar kita dapat memahami apa yang mungkin ditangkap orang lain dari perkataan kita.

Bangsa Israel seharusnya menerapkan prinsip ini ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Baru beberapa hari setelah dibebaskan secara ajaib, mereka sudah mengeluh (Kel. 16:2). Kebutuhan mereka untuk makan memang wajar, tetapi cara mengungkapkan kebutuhan itu sungguh tidak pantas (ay.3).

Ketika kita mengucapkan sesuatu karena didorong oleh perasaan takut, kemarahan, ketidakpedulian, atau keangkuhan diri—sekalipun yang kita katakan itu benar—orang yang menyimak perkataan kita akan menangkap lebih daripada sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Mereka mendengar emosi kita. Namun mereka tidak tahu apakah emosi itu didasari oleh sikap perhatian dan kasih, atau oleh niat untuk menghina dan merendahkan, sehingga bisa saja orang salah paham terhadap kita. Jika kita mendengarkan diri sendiri sebelum mengucapkan sesuatu, kita bisa memeriksa hati kita sebelum ucapan kita yang ceroboh merugikan orang lain atau mendukakan Allah. —JAL

Tuhan, tolong aku untuk berpikir sebelum berbicara,
untuk memeriksa hatiku. Tolong aku untuk mengendalikan lidahku
dan mengungkapkan maksudku dengan jelas sehingga aku tidak akan
menimbulkan perpecahan. Tolonglah aku menjaga bibirku.

Kata-kata yang diucapkan secara sembrono lebih sering menimbulkan kerugian daripada kebaikan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!