Resolusi Untuk Punya Resolusi

Senin, 3 Februari 2014

Resolusi Untuk Punya Resolusi

Baca: Roma 14:1-13

14:1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.

14:2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.

14:3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.

14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

14:5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.

14:6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.

14:7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.

14:8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

14:9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.

14:11 Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”

14:12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

14:13 Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!

Lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! —Roma 14:13

Resolusi Untuk Punya Resolusi

Saya belum pernah lagi membuat resolusi Tahun Baru sejak tahun 1975. Saya merasa tidak perlu membuat resolusi baru, karena saya masih berusaha melakukan resolusi-resolusi lama seperti: menulis setidaknya satu catatan pendek pada jurnal saya setiap hari; berupaya keras untuk membaca Alkitab dan berdoa setiap hari; mengatur jadwal saya; menjaga kebersihan kamar saya (sebelum saya mempunyai rumah sendiri dan perlu menjaga kebersihannya secara menyeluruh).

Namun tahun ini, saya menambahkan resolusi baru yang saya temukan dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma: “Janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung” (14:13). Meskipun resolusi ini sudah berusia sekitar 2000 tahun, ini termasuk salah satu resolusi yang perlu kita perbarui setiap tahunnya. Sama seperti umat Tuhan di Roma berabad-abad lalu, umat Tuhan di masa kini terkadang menciptakan aturan-aturan sendiri dan menuntut orang lain untuk taat mengikuti perilaku dan keyakinan tertentu yang sebenarnya jarang atau bahkan tidak disebutkan dalam Alkitab. “Batu-batu sandungan” ini mempersulit para pengikut Yesus untuk menjalani kehidupan iman sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Yesus—yakni keselamatan itu diterima sebagai anugerah dan bukan karena jasa perbuatan manusia (Gal. 2:16). Syarat yang diperlukan untuk menerima pengampunan hanyalah iman percaya kita pada kematian dan kebangkitan-Nya.

Kita bisa mensyukuri kabar baik dari Kristus ini di sepanjang tahun dengan mengambil tekad untuk tidak melakukan segala sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain tersandung dalam iman. —JAL

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau mengutus Roh Kudus
untuk meyakinkan dan menegur jiwa seseorang. Kiranya aku cukup
puas dengan tugasku ini: untuk melakukan apa pun
yang membawa kedamaian dan membangun iman.

Iman bagaikan tangan yang menerima anugerah Allah, dan ibarat kaki yang rela berjalan bersama Allah.

Facebooktwitterreddit

2 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *