Kasih Tanpa Batas

Minggu, 23 Februari 2014

Kasih Tanpa Batas

Baca: Mazmur 36

36:1 Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, dari Daud.

36:2 Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu,

36:3 sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya.

36:4 Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik.

36:5 Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya.

36:6 Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan.

36:7 Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya TUHAN.

36:8 Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu.

36:9 Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.

36:10 Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.

36:11 Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!

36:12 Janganlah kiranya kaki orang-orang congkak menginjak aku, dan tangan orang fasik mengusir aku.

36:13 Lihat, orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi.

Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. —Mazmur 36:6

Kasih Tanpa Batas

Baru-baru ini, seorang teman mengirimi saya catatan tentang asal mula sebuah himne yang sering saya dengar di gereja semasa masih kanak-kanak:

Andaikan laut tintanya,
Dan langit jadi kertasnya,
Andaikan ranting kalamnya,
Dan insan pun pujangganya;
Takkan genap mengungkapkan
Hal kasih mulia
Dan langit pun takkan lengkap
Memuat kisahnya.

Kata-kata ini merupakan bagian dari sebuah puisi Yahudi kuno dan pernah ditemukan pada dinding kamar seorang pasien dalam suatu rumah sakit jiwa.

Di kemudian hari, Frederick M. Lehman merasa begitu tersentuh oleh puisi tersebut sehingga ia rindu untuk menggubahnya menjadi sebuah lagu. Pada tahun 1917, sambil duduk di atas sebuah kotak yang berisi lemon saat waktu istirahat makan siang dalam pekerjaannya sebagai seorang buruh, ia menambahkan kalimat demi kalimat untuk dua bait pertama dan bagian refrain, sehingga lengkaplah pujian yang diberi judul “The Love of God” (Agunglah Kasih Allahku).

Sang pemazmur menggambarkan jaminan penghiburan dari kasih Allah dalam Mazmur 36: “Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit” (ay.6). Bagaimanapun kondisi kehidupan yang kita jalani—baik di saat pikiran kita begitu jernih dan bebas dari berbagai kebimbangan atau di tengah masa-masa pencobaan yang gelap gulita—kasih Allah menjadi menara pengharapan yang bersinar terang, sebagai sumber kekuatan dan keyakinan kita yang selalu tersedia dan tak berkesudahan. —JMS

Oh kasih Allah agunglah!
Tiada bandingnya!
Kekal, teguh, dan mulia,
Dijunjung umat-Nya. —Lehman
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 17)

Anda dikasihi dengan kasih yang kekal.

Bagikan Konten Ini
0 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *