Hidup Yang Tersembunyi

Info

Rabu, 8 Januari 2014

Komik Strip: Sia-Sia

Baca: Kolose 3:12-17

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus. —Kolose 3:17

Hidup Yang Tersembunyi

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca sebuah puisi karya George MacDonald yang berjudul “The Hidden Life” (Hidup yang Tersembunyi). Puisi ini menceritakan tentang seorang cendekiawan berbakat asal Skotlandia yang meninggalkan karir akademisnya yang bergengsi demi menemani ayahnya yang telah lanjut usia dan mengurus peternakan keluarga. Di sana ia mengerjakan apa yang disebut MacDonald sebagai “perbuatan sepele” dan “pekerjaan manusiawi yang sederhana”. Teman-teman sang cendekiawan mengeluhkan bahwa ia sedang menyia-nyiakan bakatnya.

Mungkin Anda juga sedang melayani di suatu tempat yang tersembunyi dan melakukan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Orang lain mungkin melihatnya sebagai kesia-siaan. Namun Allah tidak menyia-nyiakan apa pun. Setiap tindakan kasih yang dipersembahkan bagi-Nya diingat dan memberi dampak kekal. Setiap tempat, sekecil apa pun itu, merupakan tempat suci. Kita memberikan pengaruh tidak hanya lewat ucapan dan tindakan mulia. Pengaruh juga dapat berupa pekerjaan manusiawi yang sederhana—lewat kehadiran dan kesediaan kita untuk mendengarkan, memahami kebutuhan, mengasihi, dan mendoakan sesama. Inilah yang membuat pekerjaan sehari-hari menjadi suatu ibadah dan pelayanan.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Kolose: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus,” dan “perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah” (Kol. 3:17,23-24). Allah terus memperhatikan dan senang dalam memakai hidup kita. —DHR

Ya Tuhan, kiranya aku rela hidupku tersembunyi dan tak dikenal
saat ini, tetapi siap untuk menghibur mereka yang berbeban berat.
Kiranya Roh-Mu menjamah ucapanku dan menjadikannya sebagai
berkat yang bisa memperkaya dan menyegarkan orang lain.

Kita dapat mencapai banyak hal bagi Kristus dengan melayani-Nya lewat apa pun yang bisa kita kerjakan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Komik Kamu, Komik Strip, Santapan Rohani, SaTe Kamu

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!