Dua Pria

Info

Minggu, 19 Januari 2014

Dua Pria

Baca: Yohanes 11:30-37

11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.

11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.

11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:

11:34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!”

11:35 Maka menangislah Yesus.

11:36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!”

11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?”

Masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu. . . . Maka menangislah Yesus. —Yohanes 11:33,35

Dua Pria

Ada dua pria yang meninggal pada hari yang sama dalam peristiwa pembunuhan di kota tempat kami tinggal. Pria yang pertama adalah seorang perwira polisi yang tertembak mati ketika berusaha menyelamatkan sebuah keluarga. Pria yang kedua adalah seorang tunawisma yang ditembak pada saat ia sedang minum-minum bersama teman-temannya pada dini hari itu.

Seisi kota turut berduka atas kematian sang polisi. Ia adalah seorang pemuda yang baik dan peduli terhadap sesamanya, serta dikasihi oleh masyarakat yang menjadi tempatnya mengabdi. Beberapa orang tunawisma ikut berduka atas kepergian seorang teman yang mereka kasihi itu.

Saya yakin Tuhan pun berduka bersama mereka semua.

Ketika Yesus melihat Maria, Marta, dan teman-teman mereka menangisi kematian Lazarus, “Masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yoh. 11:33). Yesus mengasihi Lazarus dan kedua saudarinya. Yesus menangis bersama mereka (ay.35), meski Dia tahu bahwa Dia akan segera membangkitkan Lazarus dari kematian. Sejumlah ahli Alkitab berpendapat bahwa sebagian alasan yang membuat Yesus menangis adalah kematian itu sendiri serta kepedihan dan kesedihan yang diakibatkan oleh kematian itu dalam hati orang banyak.

Peristiwa kehilangan adalah bagian dari hidup ini. Namun karena Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (ay.25), mereka yang percaya kepada-Nya kelak akan mengalami berakhirnya semua kematian dan dukacita. Untuk masa sekarang di atas bumi ini, Dia ikut menangis bersama kita atas kehilangan yang kita alami dan meminta kita untuk “[menangis] dengan orang yang menangis” (Rm. 12:15). —AMC

Beriku hati yang lembut dan peduli;
Seperti-Mu, ya Yesus, seperti-Mu,
Peka pada kebutuhan orang di sekelilingku,
Dan dipenuhi oleh belas kasih ilahi. —NN.

Belas kasihan kita akan berguna dalam menyembuhkan luka yang diderita sesama.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

Ayo berikan komentar yang pertama!

Bagikan Komentar Kamu!