Yang Kita Bicarakan

Rabu, 17 Juli 2013

Yang Kita Bicarakan

Baca: Mazmur 19

Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. —Mazmur 19:15

Anda mungkin pernah mendengar ungkapan, “Orang yang berpikiran luas suka membicarakan gagasan; orang yang berpikiran rata-rata suka membicarakan peristiwa; orang yang berpikiran kerdil suka membicarakan orang lain.” Memang, bisa saja kita membicarakan orang lain dengan cara yang menghormati mereka. Namun ungkapan di atas merujuk pada perbuatan kita yang tak pantas. Dengan hadirnya media sosial maupun profesional di mana-mana, kita pun terus-menerus diperhadapkan dengan kabar tentang kehidupan pribadi orang lain yang terkadang tak pantas untuk kita ketahui.

Lebih buruk lagi, derasnya arus informasi pribadi tentang orang lain ini bisa menjadi bahan pembicaraan di antara kita, sampai-sampai kita menganggap bahwa gosip adalah hal yang wajar dan gosip ini tak hanya ditujukan pada kalangan selebriti. Orang di tempat kerja, gereja, lingkungan, dan keluarga kita bisa menjadi sasaran dari perkataan yang tak pantas, dan bisa jadi mereka menderita akibat sesuatu yang seharusnya tak perlu dibicarakan.

Bagaimana kita bisa meloloskan diri dari kecenderungan untuk mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain? Dengan cara menyadari bahwa Allah merupakan pendengar utama dari perkataan kita, dan Dia menginginkan kita untuk memiliki sikap yang pantas. Bersama pemazmur, kita bisa berdoa, “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku” (Mzm. 19:15). Ketika berusaha untuk menyenangkan Allah melalui percakapan kita tentang orang lain, kita sedang menghormati Dia. Dengan pertolongan-Nya, kita bisa memuliakan Dia melalui ucapan kita. —WEC

Ampuni aku, Bapa, setiap kali perkataanku
melampaui batas dari apa yang pantas kuucapkan.
Tolong aku untuk memahami pengaruh dari perkataan,
dan beriku hikmat untuk berkata-kata dengan baik.

Lebih baik diam seribu bahasa daripada mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati.

Bagikan Konten Ini
5 replies
  1. Dina Esterina
    Dina Esterina says:

    Tuhan, kami tahu bahwa berkata-kata dengan bijak itu tidak mudah! Tapi, kami mesti melakukannya dan terus belajar melakukannya karena Engkau kudus dan Engkau meninginkan agar kami sempurna seperti Bapa juga sempurna. Bantu kami Tuhan! JIka kami tergoda untuk membicarakan orang lain, apalagi dengan cara yang kurang pantas, tegur kami dan bantu kami memperbaiki diri. Beri kami kemampuan untuk menahan diri kami. Agar kami menjadi berkat bagi siapapun dan bukan batu sandungan. Jadikanlah kami pelaku Firman hari ini. Dalam Kristus kami berdoa, Amin.

  2. Van
    Van says:

    mudah mengucapkan tapi tidak mudah melupakan
    rasanya sulit bagi kita setiap hari jika tidak membicarakan orang lain…
    klo hal itu dapat memberi berkat bagi orang atw ttg kebaikan it’s ok !
    nah,,,coba klo itu ttg kekurangan org laen ??? gimana coba ???
    dia, kamu, kita, mereka dll adalah ciptaan yg sama…Satu Pencipta !!!
    bagaimana bisa kita bicara yg tidak baik ttg org laen padahal yg Menciptakan dia Pencipta kita juga…itu artinya kita sdh membicarakan Tuhan Yang menciptakan kita…
    mari dari skrg kita berubah oleh pembaharuan budi, jgn kar’na kita muda kita di anggap rendah…pesan orang muda…GBA

  3. sardo jefri
    sardo jefri says:

    mari kita memohon pada TUhan untuk membantu kita memelihara tubuh ini menjadi suci, meskipun muatahil bagi kita. karena Tubuh ini adalah persembahan bagi Tuhan, dan persembahan hendaklah suci dan bersih adanya.
    semoga didalam Kristus Yesus kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang di
    sekitar kita

  4. Rodi Setiawan
    Rodi Setiawan says:

    “Orang yang berpikiran luas suka membicarakan gagasan; orang yang berpikiran rata-rata suka membicarakan peristiwa; orang yang berpikiran kerdil suka membicarakan orang lain.”
    Ungkapan yang benar² sesuai kenyataan ^^

  5. Githa
    Githa says:

    memang berat. krn sebagai manusia kita setiap saat diperhadapkan dgn hal-hal yg menggoda kita utk menanggapinya, sehingga tanpa sadar sesuatu yg tidak seharusnya jd pembicaraan justru semakin meluas.Namun, sebagai anak Tuhan, kita harus mampu mengendalikan diri. Minta pertolongan Tuhan untuk menolong kita agar dapat melakukannya. Memang benar, “Lebih baik diam seribu bahasa daripada mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati.”

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *