Cerpen: Pelicano (4 / Tamat)

Info

Cerita Oleh Hady Kristian


Ilustrasi gambar oleh Nadia Febe

Cerita sebelumnya: Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

Pada keesokan harinya, Vino datang kembali ke gereja untuk menyerahkan Alkitab yang ia janjikan. Alkitab itu adalah barang yang dirampasnya dari seorang pria setengah baya beberapa hari lalu. Vino berinisiatif untuk memberikannya pada pihak gereja. Mereka lebih membutuhkannya. Setidaknya, pikirnya, ia sudah melakukan hal yang benar, meski Alkitab itu didapat dengan cara yang salah.

Sesampainya di gereja, Vino menemui Pendeta agar menyerahkan alkitab-alkitab itu. Pendeta memersilahkan ia masuk ke dalam pastori sembari menyediakan minum.

Vino lalu duduk di lantai ruang tengah. Maklum, belum ada perabotan maupun asesoris lain.
Perkenalan singkat terjalin antara mereka.

“Mas Vino ini baik hati karena mau menyediakan kebutuhan Alkitab di sini. Kebetulan, masih banyak jemaat yang belum memiliki Alkitab pribadi di rumahnya.” Senyum menghiasi wajah Pendeta tersebut sebelum meninggalkan Vino untuk mengambil minuman. Bukannya bangga, Vino malah tidak enak hati mendengar pujian dari Pendeta. Vino menganggapnya terlalu berlebihan. Entah apa reaksi Pendeta itu, jika ia tahu Alkitab pemberiannya diperoleh dari hasil menodong?

Beberapa saat berlalu, Pendeta itu kembali dengan segelas air putih di tangannya. “Saya berdoa. Semoga Tuhan membalasnya berkali-kali lipat,” sambungnya.

“A, amin …,” sahut Vino gugup. “Terima kasih minumannya, Pak.”

“Sama-sama … Kenapa kelihatan gugup begitu?”

“Ti … Tidak tahu, Pak.” Hanya itu yang mampu dikatakan Vino. Ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dalam hatinya––yang ia pun tidak mengerti penyebabnya.

“Oh, iya, Bapak mau mengenalkan seorang Penginjil. Sama seperti Mas Vino, Beliau juga berkenan menyediakan Alkitab. Namun karena suatu hal, beliau tidak bisa. Begitu Bapak ceritakan bahwa ada Anak Muda yang akhirnya mau menyediakan kebutuhan Alkitab di gereja ini, Beliau langsung bersukacita.”

“Syalom…” Suara ringan terdengar dari pintu depan.

“Ah, kebetulan sekali! Mas Vino, ini Penginjil yang Bapak katakan tadi. Perkenalkan, namanya Johan.”

Melihat sosok lelaki yang berdiri di depan matanya, membuat Vino terkejut. Peristiwa dua hari lalu berkelebat dalam pikirannya seperti film yang diputar ulang. Tenggorokannya tercekat. Lelaki setengah baya yang beberapa hari lalu menjadi korban aksi jahatnya, kini muncul tanpa diduga. Vino mematung.

“Terakhir kali kita bertemu, aku memintamu menempuh jalan yang benar. Sudahkah kau memilihnya?” Penginjil itu angkat bicara.

“Saya orang berdosa,” sergah Vino.

Lutut Vino tiba-tiba tidak sanggup menahan bobot tubuhnya. Kegetiran menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bahkan tak mampu mengatur napas dengan baik. Lehernya serasa dicekik. Ketakutan datang menggerayangi.

“Kau masih belum menyerahkan seluruh hidupmu pada Tuhan secara keseluruhan! Dalam hidup ini memang ada hal-hal yang sulit diubah. Tetapi jangan egois, kasih adalah selalu memilih melakukan yang benar.”

Vino mengusap mata. Mengangkat wajahnya ia melihat Penginjil itu menatapnya dengan tajam.

“Jadi, kau memilih untuk lari?” tanya Sang Penginjil. Ia menghela nafas, lalu menepuk pelan bahu Vino.

“Saya orang berdosa,” aku Vino. “Masa lalu saya penuh dengan dosa. Saya ini sampah! Siapa yang menginginkan sampah?” tekannya.

Sang Penginjil melepas tangannya dan mengatur napas. “Kamu tahu kisah Kapal Pelicano?” tanyanya. Vino menunduk, reaksinya tak bisa terbaca. Namun Vino mengamati seksama setiap detail dari ucapan Penginjil itu.

“Pelicano adalah kapal muatan pembawa limbah sampah. Kapal itu tidak diinginkan di mana-mana dan akibatnya terus terombang-ambing di samudra,” jelasnya. “Dengarkan, KAU BUKAN SAMPAH! Kau adalah Pelicano yang membawa muatan sampah. Hanya dengan membuang sampah-sampah itu, kau bisa memiliki perasaan bebas dan diterima. Buang sampah kemarahan, kebencian, dan kepahitan dalam hatimu!”

Vino terhenyak. Untuk beberapa saat, ia terpaku di tempatnya berlutut. Dalam hitungan detik, ia mengerti maksud perkataan Penginjil tersebut. Sekat di hatinya masih berdiri tinggi. Hal itulah yang menyegahnya untuk menerima Firman Tuhan. Seyogianya, terlebih dahulu ia harus masuk dalam rencana Tuhan untuk mendapatkan pesan-Nya. Yaitu kasih setia Tuhan.

“Memang sulit membuang kepahitan hati. Namun, lebih sulit lagi hidup tanpa ada pengharapan dan membiarkan kebencian berkembang biak. Jangan bimbang! Kau hanya perlu campur tangan Tuhan atas hidupmu. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan. KARENA MASA DEPAN SUNGGUH ADA, DAN HARAPANMU TIDAK AKAN HILANG.”

Spontan tangis Vino pecah. Ia merasakan tubuhnya dibopong oleh suatu kuasa dan dibawa ke padang besar dipenuhi rumput-rumput hijau, lantas dibaringkan lembut di sana. Tenang serta menyejukkan. Penginjil itu tak henti-hentinya memberikan sokongan dan kekuatan berupa firman Tuhan pada Vino. Tetes air mata Vino terus mengalir, membanjir dan tak mampu lagi terbendung.

“Tanggalkan baju lama, kenakan yang baru. Kau tidak sendirian. Tuhan sedang melihatmu. Dia mengerti dan dapat membuat segalanya menjadi lebih baik.”

Perasaan haru serta kekuatan luar biasa menjalar seketika atas tubuh dan jiwa Vino. Dalam kerendahan hati, ia bersujud, berlutut di hadapan Tuhan. Menangis dan berseru:

“Terima kasih, Tuhan Yesus. Di atas kelemahan-kelemahan, saya sadar bahwa saya tidak bisa berjalan sendiri. Engkau turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Aku percaya bahwa rancangan-Mu atas saya adalah baik adanya.

Saya sempat putus asa, namun tangan-Mu terulur hari ini. Saya merasa ditinggalkan, namun terang-Mu menuntun jalan-jalan saya. Saya sempat berlaku curang, namun darah-Mu mengampuni semuanya.

Terima kasih, Tuhan. Terima kasih. Engkau sungguh Tuhan yang luar biasa. Tuhan yang tak pernah meninggalkan saya seorang. Saya memilih untuk berani membuang sampah yang kotor. Yaitu sampah kemarahan, kebencian, pahit hati dan hal-hal jahat. Gantikanlah sampah tersebut dengan hal-hal baru yang berkenan menyenangkan hati-Mu dan berbau harum di altar-Mu.

Jadikanlah saya Pelicano yang bersandar di hadirat-Mu. Diterima oleh orang-orang, terlebih Engkau.”

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

S E L E S A I

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Cerpen, Pena Kamu

6 Komentar Kamu

  • wah cerita yang luar biasa menyentuh sekali. saya selalu terkagum dan terharu kalau mendengar cerita tentang kebaikan Tuhan seperti ini. karena dlu saya menganggap diri saya sampah, namun ketika Tuhan datang dan mengatakan kalau saya berharga dimataNya dan mulia itu yang membuat saya bangkit dari kehidupan lama saya dan mengikuti Tuhan.
    tetap berkarya dan Gbu

  • Luar biasa sungguh menajubkan artikel yang disajikan ini bagi diriku yang dapat menambah penyegaran iman percayaku kepada Tuhan Yesus yang mempunyai segala kehidupanku, terpujilah namamu bapa disurga, Amin

  • cerita yang benar-benar luar biasa. because this story sangat menyentuh di hati

  • begitu besar kasih Tuhan kepada kita semua terima kasih jesus

  • Theresia Marito Hutagalung

    Sangat menyentuh hati sekali, kapal pelicano

  • Sartimah Panggabean

    Terberkati….

Bagikan Komentar Kamu!