Cerpen: Pelicano (3)

Info

Cerita Oleh Hady Kristian


Ilustrasi gambar oleh Nadia Febe

Cerita sebelumnya: Bagian 1 | Bagian 2

Hujan tiba-tiba menderas dengan birama yang berirama. Vino menutupi kepala dengan tangan kanannya, berlari kecil mencari perteduhan. Entah di mana lokasi Vino sekarang, ia sendiri pun tidak tahu tepatnya. Akibat dihimpit beban pikiran, Vino kehilangan arah serta tujuannya semula untuk mencari uang.

Sepertinya daerah tersebut minim penduduk. Jarak satu rumah ke rumah lain cukup jauh. Vino lantas menerawang mencari tempat berteduh dari sengatan hujan. Dengan samar-samar ia melihat sebuah bangunan sederhana putih polos. Pikirnya, “mungkin auditorium kosong atau apa lah”. Tanpa berlama-lama, ia lalu melebarkan langkah menuju ke sana.

Namun Vino terkejut saat ia melihat gedung tersebut bukan seperti yang dipikirnya. Bangunan itu adalah gereja dengan konstruksi sederhana, bahkan belum selesai dibangun. Namun jelas terlihat bahwa gedung ini sudah digunakan untuk beribadah.

“Loh, hujan kok malah berhenti di luar? Masuk saja, tunggu di dalam. Ibadah sebentar lagi dimulai.” Seorang bapak berambut klimis tersenyum ramah di depan pintu masuk. Vino membalas senyum itu sambil mengangguk. Padahal ia hendak berbalik arah, tetapi ia takut disangka punya niat buruk. Ajakan tadi sedikit menggelitik rasa penasarannya akan Tuhan.

Vino duduk termenung di dalam gereja. Ia agak kikuk akan hingar-bingar prosesi ibadah. Adakalanya orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan bergembira, lalu menangis tersedu-sedu. Ibadah yang ia rasakan kali ini penuh emosi dan begitu ekspresif. Jelas berbeda sekali dengan ibadah saat-saat sekolah minggu dulu.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” Pendeta di atas mimbar membaca ayat Yeremia 17:7.

“Pada detik-detik menyengsarakan, ingatlah akan Tuhan! Jangan andalkan diri sendiri, melainkan andalkanlah Dia yang merupakan Raja di atas segala raja, Pemilik di atas segala pemilik. Karena tidak semua hal terasa manis dalam kehidupan ini. Namun Dia berjanji pasti memberikan landasan yang aman,” lanjutnya.

Kata-kata tersebut membekas, mengena bagi Vino. Sedikit banyak ia ingin menyerahkan hatinya pada Tuhan, tapi masih terasa sulit. Vino masih tidak memahami apa yang menghalang-halangi keinginannya tersebut.

Seperti perkataan Bang Roni tadi, perkataan Pendeta ini pun dibenarkannya. Tetapi masih tersimpan keraguan. Akhirnya ia pun hanya bisa merenung sendiri, mencibir segala macam kebodohannya soal jalan mana yang pantas untuk orang sepertinya. Ia adalah sampah masyarakat, dan ia pikir mustahil orang-orang––termasuk Tuhan––mau menerimanya tanpa memandang rendah masa lalunya.

“Tiba saatnya kita memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Jikalau Tuhan sudah mencukupkan––bahkan melebihkan kebutuhan kita––adakah di antara kita yang merasa pantas menyangkalnya?” ujar Pendeta tersebut.

“Saya bersedia memberikan lebih dari setengah hasil pekerjaan saya demi melakukan pekerjaan Tuhan.” Seseorang tiba-tiba berdiri memberikan sebuah kesanggupan. Atas kisah Pendeta sebelumnya, bahwa gereja membutuhkan dana demi terwujudnya suatu tempat beribadah yang layak difungsikan.

“Saya tidak punya apa-apa, namun Tuhan memberikan saya fisik serta tenaga yang kuat. Saya bersedia ikut menjadi relawan membantu pembangunan gereja ini.” Seorang anak muda mengacungkan tangan, terlihat bersemangat memberikan pernyataannya.
Dan ini terus berlanjut.

Vino termenung. Dari penampilan mereka, ia tahu orang-orang yang menyumbang tersebut bukan berasal dari kaum berada. Gereja itu saja sudah hampir tujuh tahun dalam tahap pembangunan akibat tersendat dana. Hati kecilnya terusik, ia ingin ikut membantu, tetapi bingung, membantu dalam hal apa? Ada yang menyumbang berbentuk dana, daya dan doa puasa…

Seketika, ia dipenuhi cahaya terang benderang. Vino kemudian berdiri dan mengangkat tangan. Pandangan seisi gereja tertuju padanya.

“Saya bantu menyediakan Alkitab,” ucap Vino.

Gemuruh tepuk tangan menghiasi seisi ruangan atas kesanggupan anak muda tersebut.

Lanjut baca Bagian 4 (Bagian Terakhir)

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Cerpen, Pena Kamu

3 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!