Cerpen: Pelicano (2)

Info

Cerita Oleh Hady Kristian


Ilustrasi gambar oleh Nadia Febe

Klik di sini untuk baca bagian pertama cerpen ini.

Dua tahun lalu, ayah Vino bunuh diri karena depresi. Perusahaan yang dirintisnya, bangkrut total. Sedangkan ibunya meninggal saat melahirkan Vino. Ia tidak punya saudara kandung. Kolega ayahnya angkat tangan saat mereka meminta bantuan. Vino menganggap semua orang seperti lintah darat yang berpura-pura baik karena melihat harta ayahnya. Begitu mereka tidak memiliki apa-apa, satu per satu memasung jarak dan tidak pernah lagi menampakkan diri.

Kebenciannya semakin menguat, membuat Vino tidak percaya pada siapa pun. Ia hidup untuk dirinya sendiri. Hari demi hari berlalu dan hatinya semakin keras. Moralnya pun semakin merosot. Hidup di jalanan membukakan sejuta paradigma negatif bagi kehidupannya. Vino pelan-pelan mulai memahami, bahwa kejujuran mendatangkan kesulitan. Karena itulah ia memilih jalan yang sekarang ditempuhnya.

Tuhan?

Sudah lama ia melupakan Tuhan. Vino yakin bahwa kalau pun Tuhan itu nyata, hidupnya tetap tidak akan berubah. Ucapan yang dahulu dikatakan oleh guru sekolah minggunya mengenai buah-buah iman, pengharapan dan kasih tidak pernah dirasakannya. Pengalamannya adalah bukti. Hanya melalui harta kekayaan seorang manusia itu dipandang.

***

Keesokan paginya, ia mengutuk keberadaannya di dunia, merendahkan diri sendiri dengan terus-menerus mengucapkan kata-kata kotor. Tetapi bukan ketenangan yang dirasakannya, melainkan amarah. Vino lalu menendang barang-barang di hadapannya sebagai pelampiasan. Ia menangis, meraung-raung meratapi betapa malang nasibnya. Ada gejolak membara di lubuk hati, namun Vino tidak bisa memahaminya.

Pikiran Vino kalut. Semalaman ia tidak bisa tertidur pulas. Matanya terus saja tertuju pada tumpukan Alkitab didekatnya. Terakhir kali ia membaca Alkitab adalah tujuh belas tahun lalu saat di sekolah minggu. Entahlah, mungkin ada kerinduan terselip di dasar hatinya. Semalaman ia marah dan berniat untuk membuang Alkitab tersebut, tapi tidak dilakukannya.

“Vin, kamu kenapa?” Bang Roni, Bos Vino heran melihat tingkah laku anak buahnya yang terlihat depresi. Vino membisu.

“Cari uang sana! Kamu udah nggak butuh makan lagi, HAH? Saya masih toleransi kamu tidak setor uang kemarin, tapi kalau hari ini hasilnya tetap sama, saya telantarkan kamu di jalanan biar mati,” ancam Bang Roni tanpa belas kasih.

“I-iya, Bang,” ujar Vino.

Ia menghela nafas panjang-panjang. Ia mesti sabar menghadapi Bang Roni. Semua orang takut karena prestasinya yang sudah berkali-kali wisata keluar masuk penjara. Siapa pun yang berani melawan omongan Bang Roni, berarti siap untuk mati. Semua orang sudah tahu karakter brutal Bang Roni.

“Terus kenapa masih bengong di situ? Cepat pergi sana!”

“Siap Bang. Tapi ada satu hal yang mau saya tanyakan sama Abang.”

“Apa?”

“Pernahkah Abang berpikir untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat dan diterima? Maksud saya, adakah keinginan Abang agar diterima secara utuh lagi di masyarakat? Berbaur seperti orang pada umumnya.”

Kesenyapan menjeda sesaat. Bang Roni menatap mata Vino tajam-tajam.

“HAHAHA… orang seperti kita diterima masyarakat? Omong kosong! Lupakan saja, lihat pandangan mereka pada kita, adakah tersirat kelembutan di situ? Yang ada hanya pandangan menghakimi. Kita sudah terlanjur masuk ke pekerjaan begini, jangan harap bisa diterima utuh kembali oleh masyarakat,” jawab Bang Roni.

“Mereka menganggap kita sebagai sampah masyarakat. SIAPA YANG MAU MENERIMA SAMPAH? Dengarkan ini baik-baik, kita tidak pernah diinginkan di manapun. Terima saja nasib dan jalani hidup,” lanjutnya.

Dalam hati, Vino membenarkan perkataan Bang Roni. Namun masih ada keraguan di hatinya. Pernyataan itu sangat realistis, tapi ada ganjalan di sudut hatinya yang melarangnya menelan mentah-mentah ucapan Bang Roni. Meski berat, Vino lantas mengangguk dan undur diri, menyisakan kepingan tanda tanya di benaknya.

Lanjut baca Bagian 3

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Cerpen, Pena Kamu

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!