Cerpen: Pelicano (1)

Info

Cerita Oleh Hady Kristian


Ilustrasi gambar oleh Nadia Febe

Mata Vino melirik ke segala penjuru dengan seksama. Pandangannya membersitkan suatu niat. Malam semakin larut, hanya menyisakan lolongan anjing liar di kehidupan jalan yang keras. Dalam keheningan, terdengar raungan lain––cacing perutnya yang kelaparan. Vino berpikir, jika ia tidak segera mengganjal perutnya, ia tidak yakin dapat melalui dinginnya malam. Ia tidak mau bernasib sama seperti beberapa orang yang dikenalnya. Mereka mati dalam keadaan perut kosong.

Namun, malam ini ia tidak akan mengais di tong sampah. Bukan pula mengemis di warung makan. Malam ini ia melakoni kembali aksi yang ia mulai sejak dua tahun lalu, yaitu menodong orang. Korbannya tentu saja orang yang pulang kerja lewat tengah malam. Selama dua tahun, profesi gelap tersebut sukses menunjangnya bertahan hidup.

Vino membuntuti calon korbannya. Kali ini, lelaki setengah baya yang sedang menjinjing tas. Tasnya terlihat cukup mewah. Bisa saja isinya barang-barang berharga. Selain itu, penampilan lelaki tersebut menjanjikan bahwa bawaannya memiliki nilai.

Yakin bahwa target sudah berada dalam situasi terkunci, Vino menyegat lelaki itu. “STOP! Serahkan barangmu!”

“CEPAT! Mau saya bunuh?” bentak Vino. Lelaki itu terdiam. Rasa takut tak terpancar dari wajahnya.

“Bertobatlah, jalan yang kamu pilih ini salah,” ucap lelaki itu. Vino jadi salah tingkah. Belum pernah ada korbannya yang begitu tenang, dan bahkan mengucapkan kata-kata seperti itu.

“Jangan buat saya lepas kontrol, ya! Serahkan barangmu, atau nyawamu melayang!”

“Baiklah, silakan ambil semuanya, jika itu membuat kamu senang.”

Dengan pisau tetap teracung pada lelaki tersebut, Vino perlahan mendekat lalu menyambar tas yang berada di jinjingannya.

“Letakkan kedua tanganmu di atas kepala, dan teruslah menghadap ke belakang. SEKARANG!” perintah Vino. Lelaki itu menurutinya. Lantas, Vino menggunakan kesempatan itu untuk kabur jauh-jauh dari lokasi kejadian bersama barang curiannya. Menghilang dalam kegelapan malam, meninggalkan empunya barang.

Vino tipe yang individual––ia bekerja sendiri tanpa kelompok sebagai pemulus aksinya. Hanya berbekal sebuah pisau lipat, ia merasa persiapannya sudah matang untuk melakukan perbuatan kriminal tersebut. Cukup acungkan pisau dan mengeluarkan berbagai ancaman, maka perintah apa pun pasti dituruti korban.

Vino terus berlari, menyari tempat sepi yang aman. Derap kakinya lalu berhenti di sekitar pemukiman kumuh dengan gundukan sampah berseliweran. Tidak ada listrik, siraman dari Sang Rembulan pun kurang. Daerah itu benar-benar ideal baginya melepaskan lelah sejenak. Ia membuka tas tersebut, mengharapkan sejumlah uang atau barang-barang berharga. Namun alangkah terkejutnya Vino, karena isinya ratusan Alkitab saku Perjanjian Baru. Jelas tidak bisa ditukar dengan uang.

“SIALLL!” umpat Vino. “Mau diapakan Alkitab-Alkitab ini?” lanjutnya. Ia terus memaki diri. Menyalahkan segenap kebodohan serta ketidaktelitiannya. Sepertinya, malam ini ia harus tidur dengan perut keroncongan.

Lanjut baca Bagian 2

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Cerpen, Pena Kamu

4 Komentar Kamu

  • Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan, diciptakan-Nya mereka
    Kejadian 1:27

    Manusia diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya (in the image of God), manusia hidup karena Allah memberi kehidupan, sayangnya manusia seringkali lupa akan hal itu, malah sekarang ini banyak manusia yang lebih menyerupai iblis karena hidupnya dikuasai iblis
    Tuhan menciptakan kita menurut gambar-Nya sendiri agar kita dapat mengenal dan menanggapi-Nya

    Tanpa sadar, manusia sering tidak menaati ketentuan Allah, manusia sekarang hidup dalam dosa
    Di sisi lain, kita juga menyadari bahwa manusia terdiri dari daging yang bisa berdosa, namun harus diingat bahwa kita adalah gambar Allah, karena itu kita tidak boleh menyerah kepada keadaan, sebaliknya hidup kita harus disesuaikan dengan kehendak Allah, kebenaran Allah dan kasih Allah sendiri

    Tidak jarang kita memakai alasan bahwa kita ini manusia biasa, penuh keterbatasan, penuh kekurangan, untuk tidak menaati ketentuan Allah
    Padahal realitas kita sebagai manusia biasa tidak boleh kita jadikan sebagai dalih untuk kemalasan dan kekurangan kita, malah seharusnya, kekurangan dan keterbatasan, justru harus mendorong kita untuk terus mawas diri, terus belajar, terus meningkatkan diri
    Calvin mengatakan bahwa gambar dan keserupaan Allah yang dimiliki manusia pertama telah rusak total karena kejatuhannya di dalam dosa, nanum gambar dan keserupaan yang telah rusak itu dipulihkan oleh penebusan Yesus Kristus

    Alkitab berkata: kita harus mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya
    Kita memang diminta untuk terus berusaha dengan pertolongan Roh Kudus agar menjadi serupa dengan Kristus dengan cara menyangkal diri dan memikul salib

    Tuhan Yesus memberkati

  • Semoga bacaan alkitab tersebut mampu mengisi kelaparan akan harta dan tingkah jahatnya selama ini. Amin.

  • pemilihan katanya bagus banget:v suka sama ceritanya*thumbsup

Bagikan Komentar Kamu!