Hari-Hari Yang Terbatas

Senin, 11 Februari 2013

Hari-Hari Yang Terbatas

Baca: Mazmur 90:7-17

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. —Mazmur 90:12

Setelah terkena dampak dari bencana angin ribut yang dahsyat, seorang pria berdiri di luar untuk melihat apa yang tersisa dari rumahnya. Di antara reruntuhan rumahnya itu tersebar perhiasan milik istrinya dan barang-barang koleksi berharga miliknya sendiri. Namun ia tidak berniat masuk ke rumahnya yang hampir runtuh itu hanya untuk mengumpulkan kembali barang-barang tersebut. “Usaha mencarinya tidak sepadan dengan risikonya,” katanya.

Di masa krisis, kepekaan kita terhadap apa yang benar-benar penting dalam hidup ini sering kali menjadi lebih kuat.

Dalam Mazmur 90, “Doa Musa”, hamba Allah ini memandang kehidupan dari awal hingga akhirnya. Dengan mengingat betapa singkatnya masa hidup manusia (ay.4-6) dan betapa nyatanya murka Allah yang pantas ditunjukkan-Nya (ay.7-11), Musa memohon diberikan pengertian oleh Allah: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (ay.12).

Musa melanjutkan mazmur ini dengan memohon kasih Allah: “Sayangilah hamba-hamba-Mu. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu” (ay.13-14). Lalu ia menutupnya dengan suatu doa untuk masa depan: “Kiranya kemurahan TUHAN, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu” (ay.17).

Hari-hari kita yang terbatas dan singkatnya masa hidup mengarahkan kita untuk menerima kasih Allah yang kekal dan, seperti Musa, untuk belajar memusatkan perhatian pada hal-hal yang terpenting. —DCM

Agunglah Allah yang kita sembah!
Mulianya Putra-Nya yang kita puji!
Cerahnya masa depan yang kita jelang—
Hari-hari yang penuh kasih dan kekal! —Maynard

Hari-hari kita yang terbatas mengarahkan kita pada kasih Allah yang kekal.

Bagikan Konten Ini
4 replies
  1. Galih
    Galih says:

    Segala unsur dan waktu di dunia ini terbatas dan menjenuhkan hati manusia,hanyalah damai kasih Allah yang sebenarnya dapat memenuhi isi hati kita dengan ketentraman jiwa yang abadi.Gb us all.

  2. Galih
    Galih says:

    Keterbatasan hidup kita menjadikan kita seharusnya menghargai anugerah kasih Allah yang telah diberikan pada kita secara cuma-cuma dengan memuliakan dan mengucapa syukur kepada-Nya setiap saat serta perbuatan-perbuatan kita menjadi berkat bagi sesama dan semakin dipermuliakan nama-Nya oleh sesama kita.Gb us all.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *