Belajar Untuk Bersyukur

Oleh Hadya Hexa Larytta

Beberapa hari yang lalu, aku melihat timeline Facebook, dan menemukan papaku telah men-tag sebuah foto yang diambil beberapa tahun lalu sebelum aku lulus kuliah. Itu adalah foto saat aku bersama dengan jemaat dari GBKP Yogyakarta melakukan kunjungan ke sebuah panti di Kaliurang yang memelihara anak-anak berkebutuhan khusus.

Kunjungan tersebut kami lakukan sebagai bentuk pelayanan kasih. Kami hendak mengadakan kebaktian bersama dengan anak-anak yang tinggal di tempat itu.

Saat melihat foto itu, tiba-tiba aku merasa rindu untuk ke sana lagi. Ada perasaan yang berbeda saat aku berada dengan mereka di sana.

Perasaan itu tidak datang begitu saja. Jujur saja, pertama kali ke sana, aku merasa agak tidak nyaman. Aku melihat anak-anak itu sepertinya tidak bisa diatur dan ada bau tak sedap yang tercium saat berada di dekat mereka. Rasanya aku mau pulang saja. Akan tetapi, ketika kebaktian dimulai, aku terkejut karena mereka sangat antusias untuk mengikuti kebaktian. Mereka berani untuk ikut memuji Tuhan, menyanyi di depan, menari, bahkan memimpin doa. Bahkan ada dari mereka yang berseru kalau Tuhan Yesus itu luar biasa! WOW!

Karena itu saat untuk kedua kalinya aku mengunjungi mereka, aku merasa antusias sekali. Aku rindu bertemu dengan anak-anak itu, untuk ngobrol, menyuapi makan, bernyanyi dan menari bersama mereka lagi. Ada perasaan senang tersendiri yang bisa kurasakan. Mungkin untuk sebagian orang, mereka berbeda. Dengan kata lain, bukan seperti orang normal pada umumnya. Namun saat melihat mereka memuji Tuhan, aku tahu dan percaya, Tuhan melihat mereka dan tersenyum lebar untuk mereka. Aku yakin, di mata Tuhan, mereka sangat berharga.

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Mungkin mereka tidak bisa memuji dan menyembah Tuhan dengan lafal yang baik, tetapi bukan itu yang Tuhan lihat, kan? Yang Tuhan lihat adalah hati mereka. Apa yang ada di dalam, bahkan paling terdalam dari diri kita, itulah yang Dia lihat. Seperti bunyi lirik sebuah lagu yang kuingat, “Walau dunia melihat rupa, namun Kau memandangku, sampai kedalaman hatiku.”

Tuhan melihat anak-anak itu sebagai anak-anak Kerajaan-Nya. Mungkin ada dari kita yang menganggap mereka yang “tidak normal” secara fisik atau kurang dalam kemampuan sebagai orang-orang yang tidak perlu dipandang, mengganggu, atau tidak butuh perhatian. Namun di lain pihak, tanpa terlihat oleh mata duniawi kita, Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja sedang memeluk dan melimpahi mereka semua dengan kasih-Nya yang takkan pernah berkesudahan.

Dari merekalah, aku belajar untuk bisa menghargai orang lain, terutama mereka yang “berbeda”. Kita semua sama-sama diciptakan oleh Sang Pencipta yang sama. Dan dari merekalah, aku belajar untuk mencintai diriku sendiri juga sebagai ciptaan Bapa.

Aku belajar bersyukur dan menghargai setiap hal yang ada di hidupku. Aku belajar untuk tidak memikirkan diriku sendiri terus, tapi apa yang bisa kuberi buat orang lain. Dan aku belajar untuk tidak menghakimi orang lain karena kekurangannya, atau bahkan menghakimi diriku sendiri karena kekurangan diriku. Aku belajar bertanya pada diri sendiri, adakah hal baik yang bisa kulakukan untuk orang lain maupun diriku sendiri? Aku yakin ada, dan pada hari itu aku belajar memberi diriku.

Bagikan Konten Ini
4 replies
  1. eva sy
    eva sy says:

    Tuhan Yesus, Engkau Raja Engkau Tuhan yang Luar Biasa buat ku… Terima kasih buat Cinta Mu..

  2. Wiraatmaja
    Wiraatmaja says:

    wow pengalaman yang menarik…..
    dan menurutku tidak semua orang bisa mendapatkannya..
    Saya berharap suatu saat saya punya pengalaman dengan mereka yang..
    “SPECIAL”
    Thanks buat artikelnya
    GBU

  3. Hermawan Abraham
    Hermawan Abraham says:

    Melalui artikel tadi saya diingatkan untuk mengucap syukur dg keberadaanku dan menghargai orang lain karena yang Tuhan lihat adalah hati.God bless.

  4. Putri
    Putri says:

    Terima kasih untuk artikelnya..
    Sungguh mnyentuh hati :))
    Mnyadarkanku untuk tidak pernah menghakimi orang lain juga diriku sendiri..
    Terima kasih Hadya.. God bless you.. ^_^

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *