Cara Hidup Yang “Mudah”

Sabtu, 9 Juni 2012

Cara Hidup Yang

Baca: 1 Tesalonika 3

Supaya jangan ada orang yang goyang imannya krena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu. —1 Tesalonika 3:3

Apakah banyak orangtua berusaha terlalu keras utuk membahagiakan anak-anaknya? Apakah sikap itu justru membawa hasil yang tak membahagiakan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mula-mula diajukan kepada Lori Gottlieb, penulis suatu artikel yang membahas tentang hidup kaum dewasa muda yang tak bahagia. Kesimpulannya: Ya. Para orangtua yang tidak membiarkan anak-anaknya mengalami kegagalan atau kesedihan telah memberi anak-anak itu pandangan yang keliru tentang dunia dan tidak mempersiapkan mereka untuk menghadapi kerasnya kenyataan hidup sebagai orang dewasa. Akibatnya, mereka kini merasa hampa dan gelisah.

Sejumlah orang Kristen mengharapkan Tuhan menjadi seperti orangtua yang akan menghindarkan mereka dari segala kesedihan dan kekecewaan. Akan tetapi, Tuhan bukanlah Bapa yang seperti itu. Dengan penuh kasih, Dia mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penderitaan (Yes. 43:2; 1 Tes. 3:3).

Ketika perjalanan kita didasari pada keyakinan yang keliru bahwa hidup yang mudah akan membawa kebahagiaan, kita akan jatuh kelelahan dalam usaha menghidupi keyakinan kita yang keliru itu. Namun ketika menghadapi kenyataan bahwa hidup memang sulit, kita dapat mencurahkan hidup kita untuk membangun suatu hidup yang baik dan saleh. Hidup yang demikian menguatkan kita pada masa-masa ketika kesulitan melanda hidup.

Allah menghendaki supaya kita kudus, bukan hanya bahagia (1 Tes. 3:13). Dan ketika kita kudus, kemungkinan besar kita akan sungguh merasa bahagia dan puas. —JAL

Haruskah aku terangkat ke langit
Didukung oleh beragam kemudahan,
Sementara yang lain berjuang demi upah,
Dan berlayar melalui lautan darah? —Watts

Seseorang yang puas telah belajar untuk menerima pengalaman yang pahit dengan yang manis.

Bagikan Konten Ini
3 replies
  1. suhartowo
    suhartowo says:

    Hidup ini tak selalu manis untuk dijalani sebab proses kehidupan yang harus dilalui oleh kita itulah kelak yang menjadikan kebahagiaan hidup kita bersama Tuhannya.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *