Perenungan

Sabtu, 31 Desember 2011

Baca: Mazmur 40:1-6

Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku. —Mazmur 40:3

Belum lama ini, saya telah berhasil melewati 20 tahun sejak pertama kali saya menulis jurnal rohani. Ketika saya membaca kembali beberapa catatan awal, saya terheran-heran mengapa saya bisa terus melanjutkannya. Namun sekarang, saya tidak bisa berhenti menulis!

Inilah sejumlah manfaat yang telah saya alami dari menulis jurnal: Dari pengalaman-pengalaman hidup, saya melihat bahwa kemajuan dan kegagalan sama-sama menjadi bagian dari perjalanan iman. Saya diingatkan tentang anugerah Allah ketika saya membaca bagaimana Dia menolong saya menemukan jalan keluar dari suatu masalah besar. Dari pergumulan-pergumulan di masa lalu, saya mendapat pencerahan yang menolong saya untuk menghadapi masalah di masa kini. Dan, yang terpenting, menulis jurnal rohani menunjukkan kepada saya betapa Allah telah dengan setia berkarya dalam hidup saya.

Banyak pasal dari Mazmur adalah seperti sebuah jurnal rohani. Di dalamnya sering dicatat bagaimana Allah telah menolong di saat-saat yang sulit. Dalam Mazmur 40, Daud menulis: “Aku sangat menantinantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku” (ay.2-3). Di kemudian hari, Daud dapat membaca mazmur tersebut untuk mengingat kembali kesetiaan Allah dalam menyelamatkannya.

Menulis jurnal mungkin dapat juga bermanfaat bagi Anda. Menulis jurnal dapat menolong Anda untuk melihat lebih jelas apa yang sedang diajarkan Allah dalam perjalanan hidup Anda dan mendorong Anda untuk merenungkan kesetiaan Allah. —HDF

Untuk Direnungkan Lebih Lanjut
Untuk mulai menulis suatu jurnal: Catatlah pergumulan Anda,
renungkanlah ayat yang secara khusus menghibur atau menantang
Anda, atau tulislah doa ucapan syukur Anda atas kesetiaan Allah.

Merenungkan kesetiaan Allah di masa lalu membawa harapan untuk masa depan.

Bagikan Konten Ini
7 replies
  1. abigael
    abigael says:

    Tuhan Engkau ajaib bagiku, tak ada yg tak mungkin bagiMu.smua yg kusaksikan perbuatan tanganMu..trima kasih Tuhan Engkau sungguh amat baik
    ^_^

  2. inkankian
    inkankian says:

    Kasih setia Tuhan tak berubah dulu sekarang dan selamanya…. Glory to the Lord… Terimakasih Tuhan Yesus buat Kasih setiaMU dalam hidupku….^^

  3. beatrice
    beatrice says:

    ia tak pernah meninggalkan kita terutama saat ada di dlm sbuah masallah

    namun sering kali kita lupa aka kemurannya

    saat ia menolong mewujudkan impian kita kita lupa apa yang sebenarnya mmbuat kita seperti itu yang kita ingat hanyalah kesenangan pribadi yang kita ungkapkan dlm perayaan glamour dan duniawi

    ingatkah kita saat kita meninggalkan Allah tetapi ia slalu setia pada kita

  4. beatrice
    beatrice says:

    ia tak pernah meninggalkan kita terutama saat ada di dlm sbuah masallah

    namun sering kali kita lupa aka kemurahan hatinya nya

    saat ia menolong mewujudkan impian kita kita lupa apa yang sebenarnya mmbuat kita seperti itu yang kita ingat hanyalah kesenangan pribadi yang kita ungkapkan dlm perayaan glamour dan duniawi

    ingatkah kita saat kita meninggalkan Allah tetapi ia slalu setia pada kita

    [Vote]

  5. ichaa
    ichaa says:

    sebenarnya kita lupa kita ini apa

    yang kita ingat hanya apa yang kita dapatkan di dunia ini

    kita sering kali melupakan Allah karena kita menganggap diri kita ini hebat

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *