Bersama Teman Seperjalanan

Info

Kamis, 17 November 2011

Baca: Matius 4:18-22

Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, . . . Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutilah Aku.” —Matius 4:18-19

Saya suka menyusuri jalan-jalan setapak di Idaho dan menikmati keindahannya yang megah dan menawan. Saya sering diingatkan bahwa jalanan ini menjadi simbol dari perjalanan rohani, karena kehidupan Kristen pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan— bersama Yesus yang menjadi teman seperjalanan dan pemandu kita. Yesus berjalan melintasi wilayah Palestina dari satu ujung ke ujung yang lain untuk memanggil para murid, dengan berkata kepada mereka, “Mari, ikutilah Aku” (Mat. 4:19).

Perjalanan ini tidak selalu mudah. Terkadang menyerah terlihat lebih mudah daripada terus berjalan. Namun, ketika keadaan bertambah sulit, kita dapat beristirahat sejenak dan memperoleh kembali kekuatan kita. Dalam buku Pilgrim’s Progress (Perjalanan Seorang Musafir), John Bunyan menggambarkan sebuah pendopo di Hill Difficulty (Bukit Kesulitan) sebagai tempat bagi si Kristen untuk beristirahat sejenak sebelum ia melanjutkan pendakian. Gulungan kitab yang dibawanya memberikan penghiburan, mengingatkannya tentang Tuhan yang senantiasa hadir bersama-Nya dan kuasa-Nya yang terus menopang. Ia pun kembali mendapatkan kesegaran sehingga dapat melanjutkan perjalanannya beberapa mil lagi.

Hanya Allah yang mengetahui ke mana jalan itu akan membawa kita, tetapi kita punya jaminan dari-Nya, “Aku menyertai kamu senantiasa” (Mat. 28:20). Ini bukanlah sekadar suatu metafora atau kiasan. Allah adalah teman seperjalanan yang sejati. Tidak ada satu jam pun yang terlewatkan tanpa kehadiran-Nya, tidak ada satu mil pun yang terlampaui tanpa penyertaan-Nya. Mengetahui bahwa Allah menyertai kita akan membuat perjalanan kita menjadi lebih mudah. —DHR

Ketika hidup menjadi semakin berat
Ada jalan mendaki dan jalan berkelok,
Dalam tugas sehari-hari, Tuhan, biarlah kumelihat
Bahwa Engkau ada selalu bersamaku. —D. De Haan

Saat Anda menyusuri jalan hidup yang berat, izinkan Yesus mengangkat beban berat yang Anda pikul.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!