Menanti

Oleh Weng Ern, 19, Malaysia

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” –Yesaya 40:31

Aku sudah tahu ayat ini sejak lama, tetapi aku tidak pernah benar-benar mengerti artinya “menanti-nantikan Tuhan”. Menurutku, ini tidak masuk akal. Menantikan Tuhan? Kenapa harus menantikan Dia?

Aku selalu ingin Tuhan menyediakan segala hal, menjawab doa-doaku, pada waktu yang kutentukan dan dengan cara yang kuinginkan. Aku memperlakukan Tuhan seperti seorang jin yang bisa kupanggil untuk melakukan ini dan itu bagiku. Sekarang, aku sadar bahwa ketika kita berdoa, kita sebenarnya sedang meminta Tuhan untuk bertindak pada waktu dan cara yang dikehendaki-Nya. Menanti itu lebih dari sekadar menangguhkan pekerjaan; menanti adalah soal kepercayaan. Aku belajar kalau kita perlu menanti dan percaya bahwa waktu-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Bahkan, waktu-Nya bukan hanya yang terbaik tetapi juga yang sempurna!

Tuhan sudah merencanakan agar sesuatu yang tepat terjadi pada saat yang tepat. Menantikan Tuhan untuk bertindak adalah seperti menantikan orangtua kita untuk datang dan menjemput kita pulang dari sekolah. Kita tahu mereka pasti akan datang; mereka tidak akan melupakan kita. Sama seperti Tuhan. Dia telah berjanji bahwa Dia takkan pernah membiarkan dan meninggalkan kita (Ibrani 13:5).

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. –Ibrani 11:1

Ketika Tuhan diam, itu tandanya Dia ingin aku untuk menanti. Dia ingin membangun imanku. Selama masa penantian ini, aku harus percaya bahwa Tuhan sedang mendengar dan Dia sedang bekerja—tidak peduli apakah aku melihatnya atau tidak.

Memang, ada saat-saat dalam hidup dimana rasanya sangat berat bagi kita untuk beriman pada Tuhan. Ada kalanya kita merasa Tuhan tidak mendengarkan kita, atau Tuhan sepertinya menuntut terlalu banyak dari kita. Jika kamu merasa demikian, jangan khawatir, kamu tidak sendiri—aku juga merasakannya berkali-kali. Ada saatnya aku merasa benar-benar ingin menyerah. Aku tahu pada saat-saat itulah, iblis sedang bergembira karena imanku kepada Tuhan sedang goncang.

Ketika kita menantikan Tuhan, kita menyerahkan masalah-masalah kita kepada-Nya dan membiarkan-Nya memimpin kita. Dia mampu untuk mengangkat kita ke atas sayap rajawali dan membantu kita terbang melewati badai kehidupan. Dia akan memberikan kita kekuatan untuk menantikan Dia.

Akhirnya, menantikan Tuhan adalah seperti menantikan sebuah bis yang akan datang. Kita tahu bahwa bis itu akan datang; kita hanya tidak tahu kapan persisnya. Demikian juga, pada saatnya pertolongan Tuhan pasti akan datang. Aku telah belajar melihat bahwa hidup adalah suatu perjalanan iman. Marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dari-Nya, dengan selalu mencari wajah-Nya sembari mengingat keajaiban yang telah Dia perbuat. Mari arahkan mata kita kepada-Nya, dan melangkah maju bersama.

Bagikan Konten Ini
7 replies
  1. Wendy
    Wendy says:

    Saya membaca artikel ini tepat di saat saya membutuhkannya. Thanks God. Ia akan menunjukkan jalanNya. Kadang kita hanya perlu menunggu dalam iman. 🙂

  2. Gusti
    Gusti says:

    Terimakasih atas artikel yg membuat saya sadar akan janji Tuhan. Dan saya mau menanti dan berserah padaNya selalu. Jbu

  3. welmalia
    welmalia says:

    trima kasih,sangat memberkati ..memang benar waktu yg kita habiskan utk selalu menantikan Tuhan,maka waktu kita tidak akan sia-sia…..penantian didalam TUHAN tidak akan mengecewakan dan pasti indah pada waktunya…^_^

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *