Tak Ada Harapan Lain, Selain Allah

Rabu, 29 Juni 2011

Baca: Roma 5:1-5

Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. —Roma 8:25

Dalam bukunya yang berjudul Through the Valley of the Kwai (Melalui Lembah Kwai), Ernest Gordon, seorang perwira asal Skotlandia, menulis tentang pengalamannya bertahun-tahun ditawan selama Perang Dunia II. Pria bertinggi badan 190 cm ini menderita malaria, difteri, tipus, beri-beri, disentri, dan infeksi kaki. Beratnya kerja paksa dan langkanya makanan dengan cepat menurunkan berat badannya hingga kurang dari 45 kg.

Kumuhnya rumah sakit penjara mendorong Ernest, yang telah putus asa itu, memohon supaya dirinya dipindahkan ke tempat yang lebih bersih yaitu ke kamar mayat. Terbaring dalam kotornya kamar itu, ia tinggal menunggu ajalnya saja. Namun setiap hari, seorang tawanan lainnya datang untuk membasuh lukanya dan mendorongnya untuk makan sebagian dari jatah makannya sendiri. Ketika Dusty Miller yang pendiam dan tulus merawat Ernest sampai kesehatannya pulih kembali, ia menceritakan kepada orang Skotlandia yang tidak percaya pada Allah ini tentang imannya yang teguh kepada Allah dan menunjukkan kepada Ernest bahwa masih ada pengharapan, bahkan di tengah penderitaan.

Harapan yang kita baca dalam Kitab Suci bukanlah optimisme lembek yang tak pasti. Pengharapan dalam Alkitab adalah suatu keyakinan yang kuat dan teguh bahwa apa yang dijanjikan Allah dalam firman-Nya pasti akan digenapi-Nya. Penderitaan sering menjadi faktor pendorong yang menghasilkan ketekunan, tahan uji, dan akhirnya pengharapan (Rm. 5:3-4).

Sekitar 70 tahun yang lalu, dalam kamp tawanan yang kejam, Ernest mempelajari langsung kebenaran ini dan berkata, “Iman bertahan ketika tiada harapan lain, selain Allah” (baca Rm. 8:24-25). —CHK

Iman melihat jauh melampaui hidup yang singkat ini
Dengan pengharapan pada keabadian—
Tidak dengan sejumlah harapan yang remeh dan tak pasti,
Tetapi dengan keyakinan dan kepastian yang teguh. —D. De Haan

Kristus, Sang Batu Karang, adalah pengharapan kita yang pasti.

Facebooktwitterreddit

2 replies
  1. evasy
    evasy says:

    terima kasih Yesus Kau memberikan iman untuk bertahan menghadapi hidup ini dan menjadi pemenang bahkan lebih dari pememenang…i luv You

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *