Bau Durian

Info

oleh Ian Gustafson, 19, USA

Waktu aku pertama kali mendekati sebuah durian, aku pikir baunya begitu menyengat seperti bau badan dan kalau ada orang yang melempari aku dengan buah itu, rasanya pasti akan sakit sekali. Pada awalnya, kulitnya yang keras dan tajam lalu baunya yang begitu kuat membuatku tidak berselera. Namun pada saat kulitnya dikoyak, aku menemukan isinya yang terasa sangat manis dan ‘creamy’. Semua unsur itu berpadu dan menjadikan durian suatu buah unik yang orang sebut sebagai “Raja Buah”. Ada banyak pelajaran yang bisa ditarik dari sebuah durian. Contohnya, “Jangan menilai buku dari sampulnya” dan “sikatlah gigimu setelah kamu menikmatinya” 🙂 Bisa juga kita belajar membandingkan buah durian dengan orang Kristen.

Dalam Matius 5:14-16, Yesus memberitahu kita: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Jadi, Yesus ingin kita menjadi terang yang cahayanya bersinar. Saya bisa saja salah, tetapi saya pikir kalau durian ada di daerah Timur Tengah pada masa hidup Tuhan Yesus, bisa saja Dia menggunakan durian dalam perumpamaan-Nya. Sama seperti suatu kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi, kita juga tidak bisa menyembunyikan bau menyengat dari sebuah durian.

Coba kita lihat apa yang rasul Paulus katakan mengenai hal ini dalam 2 Korintus 2:14-16: “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan.”

Jadi pertanyaan yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri adalah:

  • Apakah hidup kita menyebarkan keharuman?
  • Apakah teladan hidup kita menantang orang-orang di sekitar kita untuk mengabdikan diri mereka kepada Kristus, seperti yang telah kita lakukan?
  • Ataukah justru kita begitu menyatu dengan lingkungan kita sehingga tidak ada yang menyadari bau harum yang menghidupkan dari Kristus dalam diri kita?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Pena Kamu

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!