Sibuk Terus Ya?

Info

Senin, 4 Oktober 2010

Baca: Matius 11:25-30

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. —Matius 11:28

Orang-orang yang mencoba bersikap ramah terkadang bertanya, “Kau sibuk terus ya?” Pertanyaan ini sepertinya tidak bermaksud macam-macam, tetapi dalam benak saya pertanyaan itu menyiratkan maksud tertentu. Di balik pertanyaan itu terkandung ujian tentang nilai diri saya. Jika saya tidak dapat mengatakan dengan cepat daftar hal-hal yang harus saya kerjakan, saya merasa seperti mengakui bahwa saya tidak cukup berharga.

Namun, apakah Allah menentukan nilai diri kita berdasarkan berapa sibuknya kita? Apakah Dia  menghitung nilai diri kita dengan apa saja yang sudah kita capai? Apakah Dia memberi kita penghargaan karena kita sudah begitu sibuk hingga kelelahan dan mengabaikan diri sendiri?

Salah satu dari ayat-ayat pertama yang saya pelajari ketika masih kecil adalah Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Pada saat itu, ayat itu tidak terlalu berarti bagi saya karena saya belum paham tentang arti kelelahan. Namun sekarang, setelah saya sudah cukup berumur, saya merasakan godaan untuk terus berpacu dengan dunia supaya saya tidak terlalu jauh tertinggal.

Namun, pengikut Yesus seharusnya tidak hidup seperti itu. Yesus tidak hanya membebaskan kita dari perbudakan dosa, tetapi Dia juga mematahkan belenggu keharusan untuk membuktikan nilai diri kita.

Melakukan banyak hal untuk Allah mungkin membuat kita merasa penting, tetapi yang menjadikan kita penting bagi Allah adalah ketika kita memperkenankan-Nya bekerja di dalam diri kita—dengan maksud menjadikan kita serupa gambaran Putra-Nya (Rm. 8:28-30). —JAL

Kristus tak pernah meminta kita sibuk bekerja
Sehingga tak ada waktu ‘tuk duduk diam di kaki-Nya;
Menanti dengan penuh pengharapan itulah
Yang sering dianggap-Nya sebagai pelayanan terbaik.
—NN.

Nilai diri tak diukur dari apa yang kita lakukan bagi-Nya,
tetapi dari apa yang telah dilakukan-Nya dalam diri kita.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!