Kata-Kata Yang Menyakiti

Kamis, 23 September 2010

Baca: Amsal 12:17-22

Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. —Amsal 12:18

Penulis Amsal menggambarkan orang yang tidak bijak seperti “orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang” (12:18).  Lidah kita bisa menjadi seperti pisau lipat dengan mata pisau berlapis ganda yang berbahaya ketika dipakai untuk saling menyakiti dan menghancurkan.

Sikap-sikap yang tidak sehat, seperti marah, jengkel, frustrasi dan ketidaksabaran—bahkan kekecewaan, stres, rasa bersalah, dan rasa tidak aman—semua itu memberikan kontribusi pada perkataan kita yang merusak. Dan ketika kita menyakiti dengan kata-kata kita, kita pun melukai dan memutuskan tali persahabatan dan relasi. Tidak mengherankan, jika di antara tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati Allah ada termasuk orang “yang menimbulkan pertengkaran saudara” (Ams. 6:16-19).

Bagaimana cara kita agar tidak melakukan apa yang tertulis di daftar tersebut? Sebagai permulaan, kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Tidak menyebarkan gosip dan fitnah, serta tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan hanya mengucapkan kata-kata yang memberikan penghiburan. Menyombongkan diri, berdusta, dan semua cara yang kita gunakan untuk menyakiti dan memecah belah melalui perkataan juga perlu disingkirkan. Sebagai gantinya, seharusnya perkataan dan relasi kita dipandu oleh kata-kata yang menyatakan kasih dan kuasa penyembuhan dari pengampunan, belas kasihan, dan kebenaran. Lagipula, apa yang akan terjadi dengan kita, seandainya Yesus tidak memperkatakan pernyataan kasih dan karunia-Nya yang mengampuni kepada kita?

Jadi, singkirkanlah “pisaunya” dan gunakan perkataan Anda untuk menolong dan menyembuhkan. —JMS

Tuhan, berilah meterai pada bibirku,
Tolong aku ‘tuk berhati-hati
Atas hal-hal yang kuucapkan dan kuulang;
Oh lidahku, berhati-hatilah!
—Bosch

Kata-kata kita mempunyai kuasa untuk membangun atau menjatuhkan.

Bagikan Konten Ini
20 replies
  1. ronny
    ronny says:

    saya dari kecil sudah dibiasakan berpikir dulu sebelum berbicara, tapi kadang2 suka diartikan “telmi” hehehe… yang penting minta pertolongan Roh Kudus dalam setiap kata yang diucapkan dan perbuatan yang kita lakukan.

  2. Binsar Yosua Sormin
    Binsar Yosua Sormin says:

    Kadang logat dan kebiasaan pemilihan kata juga “terasa” menyakiti terutama bagi orang-orang baru. Misalnya ketika orang batak yang terbiasa memanggil dengan kata “kau” dan menggunakan nada yang tinggi (orang batak misalnya, menganggap hal itu normal dan tidak bermaksud marah), kadang ada orang yang bersifat lebih halus (orang jawa misalnya) bisa tersinggung. Maaf bukan bermaksud menyinggung SARA, tetapi kita juga harus menyesuaikan situasi dan kondisi dengan siapa kita bicara, entah itu dengan orang yang “berlogat keras” ataupun orang yang “berlogat lembut” sehingga kesalahpahaman bisa dihindari…..

  3. wira franzdes
    wira franzdes says:

    komunikasi adalah unsur terpenting dalam bersosialisasi. menjaga komunikasi yang baik, berarti telah menjaga komunitas tetap utuh…

  4. Exerrion
    Exerrion says:

    Apa yang keluar dari mulut keluar dari hati… padahal dari hatilah terpancar kehidupan.. ho ho ho… Gb semangat guys…

  5. tika Cllu Ceriay
    tika Cllu Ceriay says:

    aku tau klo kamu mencintai aku dengan hati kamu yang cllu sayang am akku tapi kamu udh brbah am aku kini kau tlah menyakiti aku jjur aku tuch syank bngtz am kamu tapi kini kau tlah menyakiti aku

  6. nandiny
    nandiny says:

    seandainya kita mempunyai sahabat
    dan sahabat ithu menghianati kita
    dan kita baru tau kalo dya menghianati kitta

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *