Musim “gibol” telah tiba!

Oleh Christopher Andios

Hmm…. hari-hari ini semua orang rupanya sedang bersiap-siap membeli tiket menuju Afrika Selatan. Tentu bagi mereka yang berduit lebih… mereka mulai membeli tiket langsung PP ke Afrika Selatan, booking hotel tarif murah sampai mewah. Yang lainnya, kelompok masyarakat menengah, mulai memilih dan booking jadwal Nonton Bareng di Cafe-cafe ternama sampai cafe-cafe kaki 5 yang juga sudah mulai menata jadwal, pasang TV baru… guna menyambut: Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Sementara bagi kita masyarakat biasa, cukuplah menyiapkan TV kita, atau mulai membersihkan halaman depan rumah kita, supaya agenda nonton bareng bisa dipersiapkan.

Ya, musim gila bola alias gibol telah tiba. Pedagang dan produsen kaos-kaos tim sepakbola peserta Piala Dunia mulai menata lapak-lapak dan etalase dagangannya. Semua berlomba mengais rejeki dari perhelatan akbar dunia yang diramal bakal menggusur semua berita-berita politik international apalagi berita picisan politik lokal. Tentu bangsa Indonesia juga akan mengalami hal yang sama, kasus Century, terorisme, dan bahkan keruwetan demokrasi ke depan bakalan berlalu. Apalagi berita perceraian para artis, bakalan gak laku!

Tentu para pemimpin negeri ini juga tidak akan menyia-nyiakan momentum mengalihkan perhatian publik dengan fenomena gibol ini: pasti tidak lama lagi akan muncul jadwal SBY nonton bareng di istana, open house and free of charge

Yup, fenomena gibol adalah fenomena yang menarik. Mang Ucup dalam tulisannya bahkan berani menyebut bahwa sepakbola telah menjadi agama baru yang lebih universal di jagad ini. Bagaimana tidak, bayangkan “isu” atau peristiwa apakah yang bisa menyedot perhatian hampir seluruh pelosok dunia ini selain sepakbola. Organisasi apakah di dunia ini yang bisa “mendudukkan” orang dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, golongan, bangsa, partai politik ke dalam bangku-bangku penonton baik kelas VIP sampai reguler, bahkan di kursi-kursi bambu yang digelar orang hingga pedesaan terpencil hingga berjam-jam? Perusahaan apa selain sepak bola yang bisa membuat orang “melek” alias nglembur, tanpa gaji over time, hanya untuk menonton para dewa-dewanya bermain? Agama apa selain sepakbola, yang bisa membuat seluruh wajah dunia berpaling ke Afrika Selatan?

Siapa yang tidak mengenal Lionel Messi, Cristiano Ronaldo? Coba, tanyakan nama-nama ini baik kepada anak-anak SD sampai para sesepuh kampung kita? Mereka akan tahu bahwa nama-nama itu adalah dewa-dewa gibol masa kini. Nama-nama mereka begitu dekat di hati para pencinta sepakbola atau para pengikut agama sepakbola ini. Mereka siap berteriak, menabuh genderang perang untuk mendukung tim-tim kesebelasan favorit mereka. Bukankah ini fenomena yang tidak masuk akal tapi nyata? Fenomena gibol?

Saya sendiri masih ingat bahwa pemain-pemain sepak bola legendaris seperti Maradona dengan “tangan Tuhan-nya”, Gary Lineker, Lothar Matthäus, Karl-Heinz Rummenigge, Michel Platini ataupun Pele masih sulit hilang dari otak saya, walaupun saya sudah jarang mengikuti fenomena sepakbola secara real time.

Ternyata gibol telah menjadi obat penawar rindu, obat penghilang stress akut, ataupun pengharapan baru di tengah-tengah keputusasaan akan kehidupan yang semakin terasa sulit. Sepakbola, telah menjadi “juruselamat” bagi sebagian orang, bagaimana tidak? Sepakbola bisa memberi makan bagi para penjual kaos timnas negara-negara peserta Piala Dunia atau mbok-mbok penjaja minuman Coca Cola dan produsen-produsen raksasa dunia yang bakal menjadi sponsor utama Piala Dunia 2010 nanti.

Namun, semua fenomena ini tentunya tidak akan berlangsung lama, hanya 4 tahun sekali, dan tahun ini pun hanya satu bulan lamanya, mulai tanggal 11 Juni sampai 11 Juli 2010. Setelah Piala Dunia 2010 selesai, bagaimana dengan keseharian dan kisah hidup kita? Hanya Tuhan dan kita para pengikut agama sepak bola yang tahu. Kalau sepakbola telah menjadi “tuhan” kita, tentu mari kita bertanya padanya, apa agenda hidup kita setelah ini ya? Pertandingan siapa lagi yang menarik untuk kita tonton? Dan berapa uang yang harus saya kumpulkan untuk bisa membeli tiket-nya? Nah, mari tanya pada “tuhan” sepakbola kita… Mari tanya, agama ini mau dibawa ke mana?

Ah, gibol, fenomena yang sesaat namun menarik untuk jadi penghilang stress… Setelah itu, siapa yang tahu…. Hidup atau mati kita…

Love life live love!

Bagikan Konten Ini
2 replies
  1. kaka.sheva
    kaka.sheva says:

    wah tulisan yang bagus tapi jga keras… mau musim piala dunia, piala eropa, liga champions, ato apalah istilah turnament itu, hendaknya selalu ingt bahwa “Jesus is the first priority”
    🙂

  2. Martha Balling
    Martha Balling says:

    yaappp:…bener banget!!!!
    Seringkali kita gag sadar telah mpnyai ”illah” lain dalam kehidupan kita…termasuk kita sbg orang2 percaya…kita gag lg fokus dg panggilan kita…
    karena saking ”bogil”nya sampe2 mrk mau begadang mpe pagi hanya nton bola,,,n alhasil minggu pagi yg seharusnya kita nikmati hadirat Tuhan,,jadi gag karuan karena ngantuk mendera!!!

    C’mom brosist,,,jangan sampe hidup kita sama dengan dunia…

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *